Assalamu'alaikum wr.wb.
Kekasihku NS yang dirahmati Allah ... amiin :)
bagimana kabarmu ya habibiku :)..???
udah makan ??? udah sholat ??? lagi ngapain ahbib ???? :'(
malam ini,aku akan bercengkram curhat bersama Rabb kita :) aku akan ngobrol dan curhat tentang semua isi hatiku dan keadaanku malam ini padaNya tentangmu.. :)
Ya Rabb..,
Aku rindu, aku sangaaatttt rindu padanya..., tapii... aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya bisa menitipkan dan tolong bantu engkau sampaikan padanya tentang rasa rindu yang sedang melandaku dan sampaikan juga kasih sayangku padanya masih sangat dalam dan semakin dalam, semakin sakit ujian yang kau berikan padaku semakin aku mencintanya ya Allah..
ya Rabb..
mungkin ini semua jawaban dai semua do'a do'aku padamu, bahwa aku selalu meminta agar aku dan dia dipisahkan dan dijauhkan dari dosa-dosa maksiat, dan aku selalu meminta padamu lewat do'a agar aku didekatkan kembali disatukan kembali dengannya dalam keadaan kebaikan,perlindungan,keridhoan dan keberkahanMu ya Rabb..
mungkin ini adalah jawaban dari do'aku yang pertama dan aku yakin bahwa nanti do'aku yang kedua bahwa aku ingin kita sama-sama menjadi yang terbaik menurut kita dan menurutmu juga aka segera secepatnya terkabulkan amiin.. aku percaya bahwa tidak ada do'a yang tidak terkabulkan hanya saja waktu nya saja yang berbeda dan waktu yang tlah kau tentukan justru itulah waktu yang terbaik... amiin..
ya Rabb,,
aku titipkan yah rindu ini padamu,dan tolong sampaikan juga padanya bahwa aku disini baik-baik aja dan akan selalu menjaga hati ini untuk tetap untuknya :)
ya Rabb,,, boleh aku titip kata-kata untuknya dan sampaikanlah ya Allah..
"ahbib sayank :'( sedang apa???? ahbib teteh kangeeee :'( semoga ahbib baikbaik yah disana, jaga kesehatan jangan lupa makan, badannya jangan sampe kurus lagi yah, itu kulitnya juga jadi item gitu :'( aku sedih saat melihat perubahanmu ahbib sayank :'( , ahbib sayank... jangan berpikiran yang negative yah sama aku, aku gak hubungi kamu karena aku juga ingin menjadi kuat dan ingin menjadi kan setiap rasa sakit sebagai ujian ku agar aku terus bersabar dan kuat juga ikhlas dalam menghadapi semua ini,karena ini hanyalah sebuah ujian yang nantinya juga akan menjadi masalalu, ahbib sayank jangan lupa berdo'a untuk aku yah,untuk hubungan kita dan berdo'a agar kita secepatnya dipertemukan kembali dalam wakr dan eadaan yang jauh lebih baik menurut kita juga menurut Allah... ahbib sayankk.. jangan nakal yahh... ..., I LOVE YOU LUNASTANJA "
ya Rabb tolong sampaikan yah curhatanku ini :)
sekarang aku mau bobo dulu yahhh... I LOVE ALLAH :) Muach "the Miracle of Muach"
Dengan Ridha Allah
Sabtu, 14 Mei 2016
Tentangmu Tentangku Tentang Kita
TENTANGKU,
TENTANGMU TENTANG KITA
Hidup adalah rangkaian proses
belajar, belajar syukur meski tak cukup, belajar ikhlas meski tak rela, belajar
taat meski berat, belajar memahami meski tak sehati, belajar setia meski
tergoda, belajar dan terus belajar dengan keyakinan setegar karang. Tapii…..,
sudah kodrat hati seperti air laut bergelombang pasang surut dan terbawa arus.
Maka tetaplah belajar untuk tetap berada di jalan yang benar dan istiqomah.
Terlihat sesosok wanita muda yang
masih berstatus sebagai mahasiswi yang sedang duduk di bangku taman kampusnya
dengan memakai baju seragam berwarna hijau,bersepatu warna hijau, dengan tas
warna hijau ditumpangi handphone diatasnya dengan silicon berwarna hijau sambil
menulis dalam sebuah diary yang bersampul hijau dan menulis dengan bollpoint
berwarna hijau pula. Dia bernama Halwa Syauqina yang sudah terkenal dengan
sapaan Halwa si Ulat Hijau, karena dia menyukai warna hijau dan selalu memakai
dan membawa benda dengan warna Hijau dan jarang terlihat memakai atau membawa
sesuatu tanpa warna hijau.
“Assalamu’alaikum Halwa si Ulat
Hijau..???” sapaan salam godaan Sutan sang sahabat kepadanya.
“Wa’alaikusallam frustasi
jombloooo…” jawabnya sambil kembali melempar ledekan kecil.
“Sedang apa wahai putri ulat
hijau..?” puja seorang sahabat sambil sedikit menghiburnya lewat canda, karna
dia melihat ada yang berbeda dengan si hijau sahabatnya itu.
“Hmmm…,” hembusan nafas halwa sambil
sedikit menunduk.
“Ada apa gerangan wahai putri ulat
hijau, apakah engkau baik-baik saja??” Tanya Sutan sambil mendekatinya.
“Aku tidak apa-apa Tan, hanya saja
hatiku sedang terganggu dan sedikit kurang baik” sambil menutup buku dan
menatap ke arah depan.
“Apa ada yang telah membuatmu sakit
hati dan Bersedih???” Tanya Sutan sambil lebih mendekatinya.
“Mungkin begitu Tan…” jawab Halwa
singkat.
“Jangan bilang sekarang kamu
bersedih karena mengingat laki-laki berengsek
yang sudah mengkhianati dan bikin kamu hancur!!!” ucap Sutan dengan nada
sedikit seperti orang marah sambil menatap ke depan dan sedikit menjauhinya.
“Mungkin seperti itu Tan, melupakan
tak semudah membalikan telapak tangan Tan, aku menyayanginya, aku tak peduli
berapa banyak dan berapa besar dia telah menyakitiku. Aku sangat mencintainya
Tan, tolong bantu akuuu…!!” Halwa sedikit meneteskan air mata sambil
menundukkan kepalanya karena tidak mau Sutan melihatnya.
Satu jam mereka berada di kursi
taman dengan posisi saling membelakangi layaknya sepasang kekasih yang sedang
bertengkar. Sutan sang sahabat sangat begitu peduli terhadap Halwa, dia tidak
mau ada yang mengganggu kebahagiaannya dan Sutan paling tidak suka saat melihat
dia bersedih dikarenakan lelaki yang telah mengkhianati cintanya. Sutan sangat
benci kepada lelaki yang sekarang telah membuat Halwa sahabatnya sering menangis,
bersedih dan menyendiri. Dia selalu mencoba berbagai cara agar dia kembali
kesemula, dia selalu berusaha menghibur dan membuat dia tersenyum sehingga lupa
akan lelaki berengsek itu. Dia lebih
menginginkan Halwa untuk secepatnya melupakan lelaki itu dan kembali memulai
hari-hari barunya dengan yang lain, karena saking sayangnya Sutan kepadanya
sebagai sahabat. Sutan tak sedikitpun memiliki rasa lebih kepadanya, dia juga
mempunyai kekasih tapi dia sering mementingkan Halwa dibandingkan kekasihnya.
Keesokan harinya, “Halwa…!!!” teriak
Sutan memanggil halwa dengan suara kencang karena dia sedang berada disebrang
jalan rumahnya halwa, dan dia sengaja memanggilnya karena kebetulan melihat
Halwa yang sedang duduk sendiri di kursi santai depan rumahnya. “heiii..
Halwaaaa ulat hijau??” kembali berteriak sambil melambaikan tangan.
“siapa yang memanggilku..?” Tanyanya
heran dalam hati karena tidak melihat siapa-siapa. Kemudian, “ehhhh kamu
FruJo…, sini !!! ngapain teriak-teriak” teriak Halwa sambil bangun dari duduknya
kemudian mendekat ke pintu gerbang rumahnya sambil melambai-lambaikan tangannya
mengajak Sutan untuk menghampirinya.
“huuuhh.. dasar budek kamu.., aku panggil-panggil kamu dari tadi tapi kamu gak
nyaut-nyaut” Sutan mendekat sambil mencoba membuka kunci gerbang rumah Halwa
yang masih terkunci. “ada acara gak hari ini..?? kita maen yuk…!!!” ajak Sutan
dengan rencana supaya Halwa lupa akan lelaki itu dan tidak bersedih menyendiri
seperti hari-hari kemarin semenjak dia tahu kekasihnya mengkhianati cintanya
dengan berselingkuh bersama wanita lain.
“A….akuuuu…., aku malas Tan ah…”
jawabnya sambil kembali duduk dan menunduk di teras.
“kenapa..?? tumben kamu nolak,
biasanya kamu paling giat kalo diajak jalan. Udahlah lupain aja lelaki berengsek itu, mungkin Allah sengaja
membuat kamu terpisah dengan dia karena Allah udah menyiapkan yang lebih
segalanya dari dia walau dengan cara yang memang menyakitkan. Kamu move on dooonnnggg..!!! ngapain harus
bersedih buat dia, toh dia aja gak sedih saat melihat kamu seperti ini” ucap
lebar Sutan padanya dengan nada sedikit membentak karena terbawa emosi.
“kamu gak ngerti dan gak ngerasain
Tan apa yang aku rasain sebenarnya saat ini, dia memang menyakitiku tapi aku
tak peduli karena cintaku sudah terlanjur besar padanya. Kamu bisa saja
berbicara sesuka kamu dan ungkapin apa yang ada dihati kamu karena kamu hanya
sekedar tahu tanpa merasakan yang sebenarnya apa yang aku rasakan sekarang Tan,
sudahlah mending kamu pulang saja . aku lagi gak pengen apa-apa selain bertemu
dengan dia hidup dengan dia dan bahagia dengan dia. Paham Sutan sang
FruJo..???” ungkapan tegas dari halwa sambil menatap dan memegang pundak Sutan
yang sedang duduk dipinggirnya.
Sutan tak bisa berbicara apa-apa
lagi tatkala dia sudah mendengar ungkapan-ungkapan isi hati Halwa. Dia mencoba
mengalah dan menahan emosinya terhadap lelaki itu didepan Halwa karena sudah
sering dia menjelek-jelekan lelaki yang mengkhianati sahabatnya didepan Halwa
sampai-sampai Halwa menangis, dia lebih memilih diam dan pergi saat sudah
mendengar ungkapan Halwa seperti itu daripada membuat Halwa kembali menangis
dan lebih bersedih. Karena dia sadar memang benar dia tidak merasakan apa yang
sedang sahabatnya rasakan, tapi dia tak henti-hentinya mencari cara agar
sahabatnya dapat melupakan kekasihnya yang telah mengkhianatinya.
2 minggu telah berlalu dan Sutan
merasa bahagia karena sekarang sahabatnya jarang terlihat menyendiri bersedih
dan menangis memikirkan lelaki yang telah mengkhianatinya lagi, sekarang dia
sudah mulai tersenyum tertawa meski terkadang suka melamun. Tapi, walau begitu
Sutan tak henti-hentinya mencari cara agar sahabatnya dapat melupakan lelaki
itu dan agar dia tersenyum seperti semula. “heiii spagaw..!!! spagaww…!!!” teriak
Sutan memanggil Spagaw teman di kampusnya.
“heiii Tan, iya ada apa
manggil-manggil gue..??” jawab spagaw sambil mendekati Sutan, spagaw adalah
teman dekat Sutan dan juga Halwa. Spagaw adalah cewe tomboy yang hobinya
olahraga dan pantang untuk menangis kecuali kalau udah denger lagunya Melly yang
berjudul Bunda, dia bisa kalah dan menangis saat dia mendengar lagu itu karena
mungkin dia teringat kepada ibunya yang sudah tiada sejak dia masih duduk di
kelas 4 SD. Dia adalah sosok wanita yang tegar, baik, gak sombong, gak gengsian, pemberani, gampang akrab sama
siapapun dan dia gak pelit kepada siapapun terutama kepada teman.
“gue mau minta bantuan loe, bisa gak??” sambung Sutan
kepadanya.
“bantuin apaan..???”jawab spagaw
sambil memasang wajah heran .
“loe
tau kan Halwa sahabat gue..???, dia sekarang sedang bersedih gara-gara
dikhianatin sama cowonya yang berengsek
dan gak tau diuntung, jarang-jarang ada cewe kaya dia yang berani ngorbanin
apa-apa demi kekasihnya, ehhh dia
malah nyakitin dia abis-abisan, dia malah selingkuh sama cewe lain yang belum
tentu cewe itu bisa seperti Halwa yang super zuper kuat dan tegar menghadapi hubungan bersama dia selama 3 tahun.
Sekarang aja gue liat-liat di kronologi Facebook si cewe selingkuhannya yang
juga gak tau diri itu udah banyak ngeluh
inilah itulah gara-gara mungkin di gak dipentingin sama si berengsek itu. Cuma
Halwa yang menurut gue kuat menjalani hubungan dengan status sebagai
selingkuhan selama 3 tahun. Gue salut sama dia karena 3 tahun dia sembunyiin
hubungannya dari kita semua demi cowo berengsek
itu, sakit yang dia rasain selalu dia pendam sendiri. Gue dari dulu juga udah
curiga sama dia kalau dia memang punya kedekatan lebih dari cowo berengsek
buaya darat itu.” Ucap Sutan panjang lebar kepada Spagaw.
“waaaaawwwww…..!!!!
amazing !!!! yang bener Tan..???
emang dia jadi selingkuhannya siapa..??? sialan
banget tuh cewe dan cowo, berani-beraninya dia sakitin temen gue. Awas aja kalo
gue ketemu udah gue abisin tuh orang, gue kagak ikhlas kalau temen gue harus digituin.” Sontak spagaw menjawab
penjelasan Sutan dengan emosi sambil mengepakan tangannya.
“eiitttsss..,
gue gak minta bantuan loe buat nyakitin mereka berdua. Karena kalau misalkan
Halwa tau kekasihnya kita sakitin dia bakal marah abis sama kita karena kan dia
cinta banget sama kekasihnya walau udah disakitin abis-abisan, dan anehnya juga
nih gue ke Halwa dia tuh jadi cewe sabar banget gituh, mau-maunya dia mertahanin bubungan yang udah jelas-jelas
bikin dia sakit apalagi dia masih mau berkorban abis-abisan demi cowo brengsek itu. Dan maaf banget nih kalau
masalah siapa cowo yang udah nyakitin Halwa gue gak bisa ngasih tau loe, dan
disini gue Cuma mau minta bantuan loe aja Spa.” Sutan memperjelas ungkapan
mohon bantuannya kepada spagaw agar tidak melakukan yang tidak diinginkan
kepada lelaki yang telah mengkhianati sahabatnya, juga tidak mau bilang siapa
cowo itu sebenarnya karena Sutan gak mau bikin Halwa juga malu karena dia telah
mertahanin hubungan sebagai selingkuhan Dosen yang udah menjadi suami orang.
“yaudah dech gue juga ngerti , gak
apa-apa kok. Yang pasti gue bakalan bantuin loe buat bikin Halwa move on lagi
okey..!!” sambil menepuk pundaknya Sutan , spagaw berbicara tegas dan “
sekarang gue gak bisa lama-lama disini Tan karena gue lagi mau ada kegiatan
bareng temen-temen gue yang lain, nanti kalo loe ada perlu apa-apa loe tinggal
hubungi gue aja yah kapanpun !!!!” sambil berjalan menuju temannya yang
menunggunya di depan pintu gerbang kampus.
“okeyy.., makasih ya spa.. tar gue
hubungi loe..!!” teriak Sutan kepada Halwa yang berjalan semakin jauh. Sutan
kembali duduk dan merenungkan tentang keadaan sahabatnya sekarang, dia takut
ada sesuatu yang tejadi kepada sahabatnya. Dia memiliki rencana untuk membuat
sahabatnya move on dari hubungannya yang udah dihancurkan oleh lelaki berengsek
itu, dia mempunyai rencana untuk mencomblangkan sahabatnya kepada temannya yang
sekampus tapi beda jurusan.
“aku memang terlalu bodoh, aku
memang terlalu lemah dalam menghadapi masalah. L
aku mencintai kekasihku, aku menyayangi dan aku tak peduli dengan apa yang
terjadi denganmu dan diriku yang pasti aku mencintaimu lebih dari apapun dan
aku akan lakukan yang terbaik untuk hubungan kita apapun itu !!! aku siap jika
memang aku harus dimadu dan menjadi istri keduamu nanti, cintaku sudah tak bisa kulepas dan tak bisa kumencinta yang
lain, cintaku sudah kuberikan selurhnya untukmu L”
ungkapan hati Halwa dalam hati , sambil menangis dan menuliskan semua ungkapan
perasaan yang ada dalam hati kedalam
buku diary kesayangannya.
Minggu ketiga Halwa menjalani hari
dengan keadaan hati yang tak seperti biasanya. Ketika dia sedang duduk ditempat
biasa di bangku taman kampus nya tiba-tiba ada yang memanggilnya dengan kata
“sayaaankk…????”. Halwa kebingungan karena untuk siapakah panggilan itu dan
siapa orang yang mengucapkan itu?, dan ternyata “sayankkk…, ini aku Trisna !!”
ternyata kekasihnya yang telah mengkhianatinya tiba-tiba muncul dibelakangnya
sambil memeluknya yang sedang berdiri mencari sumber suara.
“Ya Allah, apa aku gak salah
liat..??? apa aku gak lagi mimpi??” ucap heran Halwa sambil berbalik badan dan
memegang pipinya yang memiliki lesung pipit.
“ iya sayank ini aku kekasihmu yang
selalu mencintaimu, maafkan aku sayang..” ungkapan Trisna tanpa basa basi sambil
memegang tangan Halwa. “maafkan aku sayank, aku emang berengsek udah
tega-teganya mengkhianati cinta tulus kamu demi wanita sialan itu. Aku berjanji
aku akan kembali padamu dan takan mengulangi kejadian itu sayank, aku berjanji.
Aku sekarang sadar bahwa kamu memang yang terbaik untukku.” Sambung Trisna sambil
memeluknya erat dan sedikit meneteskan air mata.
“iya sayank, aku juga sangat
mencintaimu. Jangan khianati dan menyakitiku lagi !! apalagi sampai
meninggalkanku sayank, cintaku hanya untukmu sayank, aku gak mau kehilangan
kamu,aku bahagia dengan kamu” Halwa menangis sambil membalas pelukan dari
Trisna, karena dia memang menginginkannya walau sakit yang sudah ia terima
begitu besar tapi dia tak memperdulikannya yang penting dia bisa bersamanya.
“iya sayank aku janji, dan aku ingin
menikahimu !!! mau kah kamu menerima maharku sayank..???” sambil memegang
tangan Halwa dan melepaskan seidkit pelukannya.
“iya sayank aku menerima dengan
sangat bahagia, aku memang menginginkan itu dari dulu, aku siap sayank…” sontak
Halwa menjawab permintaan dari kekasihnya tanpa dia fikirkan apakah betul atau
tidak apa yang kekasihnya katakana itu dan yang pasti dia sangat bahagia dengan
air mata yang bercucuran diwajahnya sebagai ungkapan kebahagiaan hatinya. Satu
jam telah berlalu mereka telah meluapkan apa yang mereka berdua rasakan Dan
mereka berdua inginkan. Tanpa disadari ternyata Sutan melihat kejadian
pertemuan keduanya dari kejauhan, dia begitu bahagia melihat sahabatnya
tersenyum kembali walau memang sebenarnya dia lebih menginginkan sahabatnya
bahagia dengan lelaki lain selain Trisna itu. Tapai apa boleh buat, jika memang
itu yang membuatnya bahagia dia rela. Sutan tak berani mendekatinya, dia lebih
memilih meninggalkannya dan berharap semoga sahabatnya itu kembali bahagia dan
mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya.
Satu minggu setelah mereka bertemu
dan kembali menjalani hubungannya dan kembali berkomunikasi dengan baik seperti
sedia kala. tiba-tiba Halwa tidak pernah
terlihat lagi selama hampir 4 hari dan tidak meninggalkan kabar apapun kepada
sahabatnya ataupun kekasihnya. Kemudian, Trisna menghubungi Sutan untuk menemui
Halwa ke rumahnya dan menemaninya.
“Assalamu’alaikum
sayankku, sahabatku. Aku menyayangi kalian :* kalian masih ingat gak kalau aku
pernah bilang bahwa aku gak mau merasakan kehilangan orang-orang yang aku
sayangi, terserah mau kalian bilang aku egois atau gimana, yang pasti aku gak
mau merasakan hal itu, dan sekarang mungkin keinginanku terwujud. Maafkan aku,
jika kalian merindukanku temui aku di belakang rumahku. Aku sayank kalian, aku
titip yah kedua orang tuaku dan adikku satu-satunya yang paling aku sayank,
jika mereka perlu bantuan tolong kalian bantu dan sayangi mereka seperti kalian
menyayangiku. Jangan kalian sia-siakan orang yang kalian sayangi dan menyayangi
kalian, sebelum mereka tiada karena kalau sudah tiada baru terasa bahwa
kehadiranyya sungguh berharga. Salam rindu dari Halwa si Ulat Hijau J I Love You :’)”
itu adalah surat yang diberikan mamanya Halwa kepada mereka berdua yang katanya
titipan dari Halwa sebelum Halwa dipanggil oleh yang Maha kuasa karena
menderita penyakit Ginjal.
Akhirnya mereka berduapun menangis
terutama Trisna yang menangis lebih dari Sutan diatas pemakaman Halwa. Sekarang
Trisna dan Sutan menjadi sahabat sekaligus dosen dan mahasiswanya. Sekarang
Trisna lebih mementingkan orang-orang yang menyayanginya dibandingkan yang ia
sayangi karena yang ia sayangi belum tentu menyayanginya, dan sampai sekarang
Trisna pun hidup bahagia bersama
istrinya yang telah melahirkan anak keduanya tanpa mengkhianati mereka yang
menyayangiya. Begitupun dengan Sutan yang sekarang telah bahagia bersama
istrinya.
Facebook
: Lusi anjani
E_mail
: luna_stanja@yahoo.com
No.HP
: 085794296624 – 082321388136
Judul
: Cerpen Remaja_Tentangku Tentangmu Tentang Kita_Lusi Anjani
BIODATA
PENULIS
Lusi Anjani adalah nama asli saya
tetapi saya memiliki nama pena yaitu STANJA. Saya masih duduk di kelas XI
dengan jurusan IPA di Madrasah Aliyah Al-Istiqomah Tanjungsiang. Alamat saya di
Desa Cikawung RT 22 RW 06 ,Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang. saya
tinggal bersama kedua orangtua kandung saya. Saya adalah anak pertama dari dua
bersaudara. Saya memiliki adik laki-laki yang baru berumur 8 tahun dan masih
duduk di kelas 1 SD. Saya memiliki hobi yaitu yang pastinya menulis ke buku
diary, tetapi sekarang saya menulis diary nya ke Notebook hehe.. Alhamdulillah
ada kemajuan. J saya memiliki
hobi mencari-cari informasi-informasi tentang pendidikan ataupun tentang
tekhnologi juga belajar berbisnis merupakan hobi saya. Sebenarnya masih banyak
hobi-hobi saya yang lainnya dan saya memiliki cita-cita ingin menjadi Arsitek,
Penulis, Dosen seluruh bahasa di dunia, menjadi wanita karir, dan yang pastinya
bercita-cita ingin membahagiakan orangtua dan orang-orang sekitar yang
menyayangi dan saya sayangi. Saya ingin sukses dunia dan akhirat. Amiin.. Aku,Kamu,Dia dan Mereka "LuNa StaNja"
Pengkhianatan
Berlandaskan Cinta
Hidup adalah rangkaian proses
belajar, belajar syukur meski tak cukup, belajar ikhlas meski tak rela, belajar
taat meski berat, belajar memahami meski tak sehati, belajar setia meski
tergoda, belajar dan terus belajar dengan keyakinan setegar karang. Tapii…..,
sudah kodrat hati seperti air laut bergelombang pasang surut dan terbawa arus.
Maka tetaplah belajar untuk tetap berada di jalan yang benar dan istiqomah.
Terlihat sesosok wanita muda yang
masih berstatus sebagai mahasiswi yang sedang duduk di bangku taman kampusnya
dengan memakai baju gaun syar’i dengan ditambah hiasan long cardy berwarna
hijau, bersepatu warna hijau, dengan tas warna hijau ditumpangi handphone
diatasnya dengan silicon berwarna hijau sambil menulis dalam sebuah diary yang
bersampul hijau dan menulis dengan bollpoint berwarna hijau pula. Dia bernama
Halwa Syauqina Arrohman yang sudah terkenal dengan sapaan Halwa si Ulat Hijau,
karena dia sangat menyukai warna hijau dan selalu memakai dan membawa benda
dengan warna Hijau dan jarang terlihat memakai atau membawa sesuatu tanpa warna
hijau.
“Assalamu’alaikum Halwa si Ulat
Hijau..???” sapaan salam godaan Sutan sang sahabat kepadanya. Sutan adalah
sahabat Halwa satu-satunya yang masih bertahan dan tetap bertahan bersama Halwa.
Dia adalah sesosok lelaki yang sangat bertanggung jawab terhadap orangtuanya
terutama ibunya karena sejak dia duduk di kelas 2 sd dia sudah ditinggal sama
ayahnya yang pergi meninggalkannya dan lebih memilih bersama istri mudanya. Dia
juga sangat peduli dan bertanggung jawab terhadap orang-orang terdekatnya
termasuk dia juga sangat peduli terhadap Halwa dan bahkan dia juga sudah
menganggap Halwa sebagai adiknya yang juga harus dia jaga. Halwa sudah ikut
masuk dalam bagian keluarganya.
“Wa’alaikusallam frustasi
jombloooo…” jawabnya sambil kembali melempar ledekan kecil.
“Sedang apa wahai putri ulat
hijau..?” puja seorang sahabat sambil sedikit menghiburnya lewat canda, karna
dia melihat ada yang berbeda dengan si hijau sahabatnya itu.
“Hmmm…,” hembusan nafas Halwa sambil
sedikit menunduk.
“Ada apa gerangan wahai putri ulat
hijau, apakah engkau baik-baik saja??” Tanya Sutan sambil mendekatinya.
“Aku tidak apa-apa Tan, hanya saja
hatiku sedang terganggu dan sedikit kurang baik” sambil menutup buku dan
menatap ke arah depan.
“Apa ada yang telah membuatmu sakit
hati dan bersedih???” Tanya Sutan sambil lebih mendekatinya.
“Mungkin begitu Tan…” jawab Halwa
singkat.
“Jangan bilang sekarang kamu
bersedih karena mengingat laki-laki berengsek
yang sudah mengkhianati dan bikin kamu hancur!!!” ucap Sutan dengan nada
sedikit seperti orang marah sambil menatap ke depan dan sedikit menjauhinya.
“Mungkin seperti itu Tan, melupakan
tak semudah membalikan telapak tangan Tan, aku menyayanginya, aku tak peduli
berapa banyak dan berapa besar dia telah menyakitiku. Aku sangat mencintainya
Tan, tolong bantu akuuu…!!” Halwa sedikit meneteskan air mata sambil
menundukkan kepalanya karena tidak mau Sutan melihatnya. Halwa juga menyadari
bahwa semenjak dia mengenal cinta bersama Trisna dia sangat merasakan perubahan
yang buruk. Sekarang dia lebih mementingkan cinta daripada masa depannya. Dari
segi prestasipun dia sangat menyadari banyak perubahan yang justru membuatnya
menurun dan membuatnya teringat akan kata-kata pepatah gurunya yang meengatakan
bahwa orang yang banyak maksiat itu akan berkurang bahkan hilang semua ilmu
yang didapatnya, akan ditutup pintu rezekinya salah satunya. Masya Allah..
Satu jam mereka berada di kursi
taman dengan posisi saling membelakangi layaknya sepasanng makhluk Allah yang
sedang bertengkar. Sutan sang sahabat sangat begitu peduli terhadap Halwa, dia
tidak mau ada yang mengganggu kebahagiaannya dan Sutan paling tidak suka saat
melihat dia menangis, bersedih dan menyendiri. Dia selalu mencoba berbagai cara
agar dia kembali kesemula, dia selalu berusaha menghibur dan membuat dia
tersenyum sehingga lupa akan lelaki berengsek
itu. Sutan paling tau apa yang bisa membuat Halwa lupa akan masalahnya, yang
bisa membuat Halwa tersenyum ceria, yaitu dengan cara mengajaknya berkeliling
pesantren mengikuti pengajian atau mengajar sebagian anak santri mengaji. Sutan
juga sering mengjak Halwa agar menyibukan diri dengan hal-hal positive lainnya
seperti datang ke sekolah-sekolah luar biasa atau SLB di daerah terdekat,
karena Halwa suka terlihat bahagia dan seakan lupa dengan masalahhnya ketika
sudah berada bersama anak-anak. Karena Sutan tau bahwa dia adalah sesosok
wanita yang sangat penyabar. Dan dia lebih menginginkan Halwa untuk secepatnya
melupakan lelaki itu dan kembali memulai hari-hari barunya dengan yang lain,
karena saking sayangnya Sutan kepadanya sebagai sahabat. Sutan tak sedikitpun
memiliki rasa lebih kepadanya selain kepada seorang sahabat, dia juga mempunyai
kekasih tapi dia sering mementingkan Halwa dibandingkan kekasihnya.
Keesokan harinya, “Halwa…!!!” teriak
Sutan memanggil halwa dengan suara kencang karena dia sedang berada disebrang
jalan kost-kostannya Halwa, dan dia sengaja memanggilnya karena kebetulan
melihat Halwa yang sedang duduk sendiri di kursi santai depan kostannya.
“heiii.. Halwaaaa ulat hijau??” kembali berteriak sambil melambaikan tangan.
“siapa yang memanggilku..?” Tanyanya
heran dalam hati karena tidak melihat siapa-siapa. Kemudian, “ehhhh kamu
FruJo…, sini !!! ngapain teriak-teriak” teriak Halwa sambil bangun dari
duduknya sambil melambai-lambaikan tangannya mengajak Sutan untuk
menghampirinya.
“huuuhh.. dasar budek kamu.., aku panggil-panggil
kamu dari tadi tapi kamu gak nyaut-nyaut” Sutan menghampiri halwa dan kemudian
dia duduk di kursi bekas Halwa duduk tanpa harus menungggu Halwa mempersilahkannnya
“ada acara gak hari ini..?? kita maen
yuk…!!!” ajak Sutan dengan rencana supaya Halwa lupa akan lelaki itu dan tidak
bersedih menyendiri seperti hari-hari kemarin semenjak dia tahu kekasihnya
mengkhianati cintanya dengan berselingkuh bersama wanita lain.
“A….akuuuu…., aku malas Tan ah…”
jawabnya sambil kembali duduk dan menunduk di teras.
“kenapa..?? tumben kamu nolak,
biasanya kamu paling giat kalo diajak jalan. Ada tempat baru yang ingin aku
kenalin ke kamu nih, anak-anaknya pada lucu-lucu. Aku juga ada temen lama yang
baru pulang dari kairo, mau aku kenalin gak…???? Udahlah lupain aja lelaki berengsek itu, mungkin Allah sengaja
membuat kamu terpisah dengan dia karena Allah udah menyiapkan yang lebih
segalanya dari dia walau dengan cara yang memang menyakitkan. Kamu move on dooonnnggg..!!! ngapain harus
bersedih buat dia, toh dia aja gak sedih saat melihat kamu seperti ini” ucap
lebar Sutan padanya dengan nada sedikit membentak karena terbawa emosi. Sutan
sengaja ingin memperkenalkan teman lamanya yang jauh segalanya dari lelaki yang
sudah mengkhianati dia, dengan niat supaya dia bisa secepatnya move on dan
kembali seperti semula.
“kamu gak ngerti dan gak ngerasain
Tan apa yang aku rasain sebenarnya saat ini, dia memang menyakitiku tapi aku
tak peduli karena cintaku sudah terlanjur besar padanya. Kamu bisa saja
berbicara sesuka kamu dan ungkapin apa yang ada dihati kamu karena kamu hanya
sekedar tahu tanpa merasakan yang sebenarnya apa yang aku rasakan sekarang Tan,
sudahlah mending kamu pulang saja . aku lagi gak pengen apa-apa selain bertemu
dengan dia hidup dengan dia dan bahagia dengan dia. Paham Sutan sang
FruJo..???” ungkapan tegas dari halwa sambil menatap dan memegang pundak Sutan
yang sedang duduk dipinggirnya.
Sebenarnya dalam hatinya dia juga
merasakan syukur dengan keadaan yang menimpanya sekarang walau memang dengan
cara yang sakit tapi akhirnya dia bisa meninggalkan hal negative saat dia masih
bersama lelaki itu. Dia berfikir kalau seandainya sekarang dia masih
ditakdirkan bersama lelaki itu mungkin dia sekarang masih bergelumut dengan
dosa bersama lelaki itu. Meskipun halwa memang sedang merasakan sakit tapi
Alhamdulillah dia masih bisa mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah, masih
bisa berfikiran dan melakukan hal positive dengan mengendalikan sebagian
emosinya walau dia juga masih sering melamun dan meratapi takdir.
Sutan tak bisa berbicara apa-apa
lagi tatkala dia sudah mendengar ungkapan-ungkapan isi hati Halwa. Dia mencoba
mengalah dan menahan emosinya terhadap lelaki itu didepan Halwa karena sudah
sering dia menjelek-jelekan lelaki yang mengkhianati sahabatnya didepan Halwa
sampai-sampai Halwa menangis, dia lebih memilih diam dan pergi saat sudah
mendengar ungkapan Halwa seperti itu daripada membuat Halwa kembali menangis
dan lebih bersedih. Karena dia sadar memang benar dia tidak merasakan apa yang
sedang sahabatnya rasakan, tapi dia tak henti-hentinya mencari cara agar
sahabatnya dapat melupakan kekasihnya yang telah mengkhianatinya.
Takdir
Yang Menyadarkanku
Wahai takdir…
Tahukah kau, bahwa aku takkan pernah
hilang asa, tak akan nestapa laraku menunggu kau mengirimkan jawaban atas
segala do’aku pada Rabbku…
Biarkan aku tak putus berharap akan
hadirnya sang belahan jiwa, sang imam yang akan mengantarkanku ke syurga-Nya….
Ucap do’a Halwa dalam hati ketika
dia kembali teringat kepada lelaki yang dia sayangi namun malah
mengkhianatinya. Halwa sekarang sudah mulai bisa berfikiran lebih dewasa
sedikit demi sedikit. Dengan masalah dan kesakitan yang dia alami sekarang
Alhamdulillah dia telah dapat mengambil hikmahnya, walau terkadang dia suka
kembali menangis dan bertanya Mengapa ini harus terjadi kepadaku..??? ucapan
yang seakan dia tak bisa menerima keadaan. Astaghfirulloh…
2 minggu telah berlalu dan Sutan
merasa bahagia karena sekarang sahabatnya jarang terlihat menyendiri bersedih
dan menangis memikirkan lelaki yang telah mengkhianatinya lagi, sekarang dia
sudah mulai tersenyum tertawa meski terkadang suka melamun. Tapi, walau begitu
Sutan tak henti-hentinya mencari cara agar sahabatnya dapat melupakan lelaki
itu dan agar dia tersenyum seperti semula.
“heiii
Spagaw..!!! Spagaww…!!!” teriak Sutan memanggil Spagaw teman di kampusnya.
“heiii Tan, iya ada apa
manggil-manggil gue..??” jawab Spagaw sambil mendekati Sutan, Spagaw adalah
teman dekat Sutan dan juga Halwa. Spagaw adalah cewe tomboy yang hobinya
olahraga dan pantang untuk menangis kecuali kalau udah denger lagunya Melly
yang berjudul Bunda, dia bisa kalah dan menangis saat dia mendengar lagu itu
karena mungkin dia teringat kepada ibunya yang sudah tiada sejak dia masih
duduk di kelas 4 SD. Dia adalah sosok wanita yang tegar, baik, gak sombong, gak
gengsian, pemberani, gampang akrab
sama siapapun dan dia gak pelit kepada siapapun terutama kepada teman.
Dari Spagaw juga Halwa mendapat
banyak pelajaran tentang hidup. Halwa juga menganggap Spagaw sebagai wanita
motivator agar dia tetap bersyukur dengan apa yang dia miliki dan apa yang
sedang terjadi padanya sekarang dalam hidupnya. Halwa sering belajar darinya
dan dia suka berfikir “Spagaw aja kuat dan masih bisa hidup dengan keadaan
yang tidak lengkap tanpa kehadiran seorang ibu, tapi aku baru ditinggal seorang
lelaki yang belum halal pula sering
menangis dan seakan mau kehilangan segalanya, padahal Spagaw aja yang
kehilangan seseorang paling berharga dari pada lelaki yang aku sayang masih
bisa setegar itu, Subhanalloh..”. dan sekarang Halwa meyakini bahwa
segala sesuatu yang telah diberikan kepadanya dari Allah dan apa yang terjadi
padanya sekarang adalah yang terbaik buat hidupnya. Syukur itu indah.
“gue mau minta bantuan loe, bisa gak??” sambung Sutan kepada
Spagaw.
“bantuin apaan..???”jawab Spagaw
sambil memasang wajah heran .
“loe tau kan Halwa sahabat gue..???, dia sekarang sedang bersedih
gara-gara dikhianatin sama cowonya yang berengsek
dan gak tau diuntung, jarang-jarang ada cewe kaya dia yang berani ngorbanin
apa-apa demi kekasihnya, ehhh dia malah nyakitin dia abis-abisan, dia malah
selingkuh sama cewe lain yang belum tentu cewe itu bisa seperti Halwa yang
super zuper kuat dan tegar menghadapi
hubungan bersama dia selama 3 tahun. Sekarang aja gue liat-liat di kronologi
Facebook si cewe selingkuhannya yang juga gak tau diri itu udah banyak ngeluh inilah itulah gara-gara
mungkin dia gak dipentingin sama si berengsek itu, karena si lelaki
hidung belang itu hanya menginginkan kepuasan aja dari para cewe. Wajah dan
prilakunya aja yang so alim dan dijadiin modal buat ngegaet para cewe agar mau
deket sama dia dengan modal so soan agamis lah, padahal dia lebih busuk dari
pada lelaki-lelaki yang blangsak. Dia lelaki bermuka 9…, ha…ha….” Ucap Sutan
panjang lebar kepada Spagaw.
“waaaaawwwww…..!!!! amazing
!!!! yang bener Tan..??? emang dia diselingkuhi sama siapa..??? sialan banget tuh cewe dan cowo,
berani-beraninya dia sakitin temen gue. Awas aja kalo gue ketemu udah gue
abisin tuh orang, gue kagak ikhlas
kalau temen gue harus digituin.” Sontak Spagaw menjawab penjelasan Sutan dengan
emosi sambil mengepakan tangannya.
“eiitttsss..,
gue gak minta bantuan loe buat nyakitin mereka berdua. Karena kalau misalkan
Halwa tau kekasihnya kita sakitin dia bakal marah abis sama kita karena kan dia
cinta banget sama kekasihnya walau udah disakitin abis-abisan dan anehnya juga
nih gue ke Halwa dia tuh jadi cewe sabar banget gituh, mau-maunya dia mertahanin hubungan yang udah jelas-jelas
bikin dia sakit apalagi dia masih mau berkorban abis-abisan demi cowo brengsek itu..” Sutan memperjelas ungkapan
mohon bantuannya kepada Spagaw agar tidak melakukan yang tidak diinginkan
kepada lelaki yang telah mengkhianati sahabatnya.
“yaudah dech gue juga ngerti
, gak apa-apa kok. Yang pasti gue bakalan bantuin loe buat bikin Halwa move
on lagi okey..!!” sambil menepuk pundaknya Sutan , Spagaw berbicara tegas
dan “ sekarang gue gak bisa lama-lama disini Tan karena gue lagi mau ada
kegiatan bareng temen-temen gue yang lain, nanti kalo loe ada perlu apa-apa loe
tinggal hubungi gue aja yah kapanpun !!!!” sambil berjalan menuju temannya yang
menunggunya di depan pintu gerbang kampus.
“okeyy.., makasih ya Spa.. tar gue
hubungi loe..!!” teriak Sutan kepada Spagaw yang berjalan semakin jauh. Sutan
kembali duduk dan merenungkan tentang keadaan sahabatnya sekarang, dia takut
ada sesuatu yang tejadi kepada sahabatnya. Dia memiliki rencana untuk membuat
sahabatnya move on dari hubungannya yang udah dihancurkan oleh lelaki
berengsek itu, dia mempunyai rencana untuk mencomblangkan sahabatnya kepada
temannya yang baru pulang mesantren dan bersekolah di al-azhar kairo.
Ya
Allah apakah dia Jodohku?
“aku
memang terlalu bodoh, aku memang terlalu lemah dalam menghadapi masalah. L aku mencintai kekasihku, aku menyayangi
dan aku tak peduli dengan apa yang terjadi denganmu dan diriku yang pasti aku
mencintaimu lebih dari apapun dan aku akan lakukan yang terbaik untuk hubungan
kita apapun itu !!! aku siap jika memang aku harus dimadu dan menjadi istri
keduamu nanti, cintaku sudah tak bisa
kulepas dan tak bisa kumencinta yang lain, cintaku sudah kuberikan selurhnya
untukmu L” ungkapan hati
Halwa dalam hati , sambil menangis dan menuliskan semua ungkapan perasaan yang
ada dalam hati kedalam buku diary
kesayangannya yang bersampul warna hijau dengan gambar keropi favoritenya.
Ungkapan hati Halwa barusan adalah ungkapan dimana dia sedang kembali dibutakan
oleh cinta dan ingatan-ingatannya bersama kekasihnya sudah mengkhianatinya.
Tetapi Halwa masih sedikit bertanya-tanya dengan alasan kenapa Trisna harus
selingkuh dan mengkhianatinya dan tanpa meninggalkan kabar apapun kepadanya.
Ada apa ini sebenarnya…??? Tanya Halwa dalam hati sambil mengusap air mata yang
hamper mongering dipipinya.
Kemudian, pada sepertiga malam
tepatnya pukul setengah dua malam Halwa terbangun lalu segera bergegas pergi ke
kamar mandi lalu mengambil air wudhu dan kemudian menunaikan sholat tahjjud.
Dalam tahajjudnya ia selalu berdo’a untuk kebaikan hidupnya, keberkahan
hidupnya.
Ya rabbana…
Apakah dia jodoh hamba..???
Allohuma ya Allah, mudahkanlah jodoh
hamba..
Jika dia adalah calon suami yang
engkau kirimkan untuk hamba , mudaqhkanlah jalannya….
Namu, jika ia bukan jodoh hamba,
maka jauhkanlah…
Jadikanlah hamba ridho dan ikhlas
menerima semua ketentuanmu…
Itu adalah do’a Halwa ketika
menunaikan sholat tahajjud. Dia selalu berharap dan meminta agar lelaki yang
sedang ia sayangi sekarang merupakan jodohnya dan ia tak peduli dengan
kesakitan yang ia rasakan yang telah diberikan oleh lelaki itu kepadanya. Halwa
tetap sabar dan selalu berdo’a agar diberikan yang terbaik dalam hidupnya.
Minggu ketiga Halwa menjalani hari
dengan keadaan hati yang tak seperti biasanya. Ketika dia sedang duduk ditempat
biasa di bangku taman kampus nya tiba-tiba ada yang memanggilnya dengan kata
“sayaaankk…????” Halwa kebingungan karena untuk siapakah panggilan itu dan
siapa orang yang mengucapkan itu?, dan ternyata “sayankkk…, ini aku Trisna !!”
ternyata kekasihnya yang telah mengkhianatinya tiba-tiba muncul dibelakangnya
sambil memeluknya yang sedang berdiri mencari sumber suara.
“Ya Allah, apa aku gak salah
liat..??? apa aku gak lagi mimpi??” ucap heran Halwa sambil berbalik badan dan
memegang pipinya yang memiliki lesung pipit.
“ iya sayank ini aku kekasihmu yang
selalu mencintaimu, maafkan aku sayang..” ungkapan Trisna tanpa basa basi sambil
memegang tangan Halwa. “maafkan aku sayank, aku emang berengsek udah
tega-teganya mengkhianati cinta tulus kamu, tetapi pada dasarnya semua yang
kulakukan demi kamu juga. Dan sekarang aku berjanji aku akan kembali padamu dan
takan mengulangi kejadian itu sayank apapun yang terjadi, aku berjanji”. Sambung
Trisna sambil memeluknya erat dan matanya berkaca-kaca.
“iya sayank, aku juga sangat
mencintaimu. Jangan khianati dan menyakitiku lagi !! apalagi sampai
meninggalkanku sayank, cintaku hanya untukmu sayank, aku gak mau kehilangan
kamu, aku bahagia dengan kamu” Halwa menangis sambil membalas pelukan dari
Trisna, karena dia memang menginginkannya walau sakit yang sudah ia terima
begitu besar tapi dia tak memperdulikannya yang penting dia bisa bersamanya.
Tanpa disadari Halwa yang selama menjalin hubungan bersama trisna belum pernah
berpelukan sama sekali selain mendapat pegangan tangan dari Trisna yang itupun
hanya pernah dilakukan 2 kali oleh Trisna , kepada halwa karena dia mengakui
bahwa Halwa adalah sosok wanita muslimah yang syar’i sekarang dia malah sedang
berpelukan lama dengan Trisna.
“astaghfirulloh…..” ucap Halwa
sambil melepaskan pelukannya bersama Trisna. “ya Allah ma’afkan hambamu, dan
maafin aku Trisna barusan aku…….” Sambung Halwa dengan posisi tangan menutupi
wajahnya yang berubah menjadi merah karena baru menyadari bahwa barusan ia
telah melakukan sebuah dosa. Walapun sebenarnya dia tahu kalau berpacaran itu
dosa, karena dalam islam tidak ada istilah pacaran melainkan ta’aruf.
Tapi dia merasa bahwa dirinya juga wanita muslim yang normal yang ingin
merasakan cinta dan kemudian dia memaksakan kehendaknya ingin merasakan
cintanya kepada seorang lelaki hingga pada akhirnya dia merasakan sakit seperti
sekarang. Dan dia juga menyadari pemikirannya yang menyatakan bahwa dia adalah
wanita normal yang ingin merasakan cinta, itu adalah hasutan dari syaiton.
Tetapi dia tetap tidak bisa mengendalikannya hingga akhirnya dia seperti ini.
“iya sayank, tidak apa-apa… dan
ma’afkan aku juga karena barusan aku telah lancang memelukmu, ma’afkan aku
sayaaaankkkkk…..” Trisna juga kembali mengucapkan ma’af kepada Halwa terhadap
perlakuannya barusan yang telah lancang memeluk Halwa karena saking
baagianya. Trisna meminta ma’af sambil
megulurkan tangannya untuk kembali mengambil tangan Halwa dengan mata
berkaca-kaca.
“Trisna, aku sangat
menyayangimu….!!!!” Halwa akhirnya meneteskan air mata langsung didepan trisna
tanpa ditutup tutupi.
“iya sayank aku janji, dan aku ingin
menikahimu !!! mau kah kamu menerima maharku sayank..???” sambil memegang
tangan Halwa erat.
“iya sayank aku menerima dengan
sangat bahagia, aku memang menginginkan itu dari dulu, aku siap sayank…” sontak
Halwa menjawab permintaan dari kekasihnya tanpa dia fikirkan apakah betul atau
tidak apa yang kekasihnya katakana itu dan yang pasti dia sangat bahagia dengan
air mata yang bercucuran diwajahnya sebagai ungkapan kebahagiaan hatinya.
“tapiiii…..” kemudian Halwa berucap kembali sambil mencoba untuk melepaskan
tangannya yang sedang ada dalam genggaman Trisna dan mencoba untuk tidak
terlalu terbawa langsung oleh suasana.
“tapi kenapa sayank, kamu ragu..????
atau mungkin sekarang kamu sudah memiliki penggantiku selama aku bersama wanita
itu..???” Trisna kembali memegang erat tangan Halwa dan menatap tajam Halwa yang
agak menunduk lemah.
“tidakkk…” Halwa menjawab singkat
sambil menunduk.
“lalu kenapa..?? ada apa sayang..???
kenapa kamu terlihat seperti menjadi ragu??” Tanya Trisna dengan wajah heran.
“tapii, aku tidak mau menyakiti
wanita yang telah kamu pilih. Aku tidak mau merebutmu kembali disaat kamu sudah
menjadi milik oranglain. Cukup aku yang merasakan sakitnya dikhianati tapi
tidak untuk orang lain, aku tidak mau membalas keburukan dengan keburukan lagi.
Aku tau aku sayang dan cinta kamu tapi tidak berarti aku harus merebutmu
kembali dari wanita yang kau sangat sayangi. Biar Allah yang membalas dan
menggantikanmu dengan yang lain, biar aku meminta sama sang Pemilik yang Haqiqi
daripada aku memaksakan kehendak dengan harus kembali merebutmu. Tidaakkkk….!!!
Aku tidak bisa melakukan hal jahat seperti itu Trisna..” Halwa melepaskan total
genggaman tangan Trisna lalu Halwa menjauhi Trisna dan membelakanginya sambil
menangis.
“tapi sayaaannnkkkk…” Trisna belum
langsung menjelaskan apa yang terjadi padanya dan wanita yang telah
dijadikannya sebagai selingkuhannya.
“sudah Trisnaaaa….!!! Stop panggil
aku sayank dan maafkan tingkahku barusan, juga lupakan kata-kataku barusan
kepadamu karena itu hanya ungkapanku yang terbawa angin. Dan sekarang kumohon
pergilaaaahhh..!!!” ucap Halwa memperjelas. Dalam hati kecilnya dia sangat tak
ingin mengucapkan kata-kata barusan yang telah terucap kasar, dalam hati
kecilnya juga sebenarnya dia sangat menginginkan untuk kembali sesuai
kata-katanya tadi tapi dia mencoba untuk menahannya dan mencoba untuk tetap
tegar. Karena dia yakin bahwa Innalloha ma’ashoobiriin yang artinya
sesungguhnya Allah ada bersama orang-orang yang sabar.
“baiklah, maafkan aku. Tapi asal
kamu tahu, aku melakukan itu karena dengan alas an lain yang belum kamu tahu
yang mungkin jika kamu berada di posisiku kamu juga mungkin akan melakukan hal
sama demi orang yang sangat kamu sayangi, dan untuk masalah wanita itu sekarang
aku sudah tidak bersamanya lagi bahkan dia sekarang sudah menikah dengan laki-laki
lain dan ternyata mereka berdua bersekongkol hanya untuk memeras hartaku” Trisna
akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi walau belum semuanya dan
sekarang dia pasrah dengan apa yang akan Halwa lakukan terhadapnya. Dia pasrah Halwa
mau menerima kembali ataupun tidak tapi yang pasti dia berkeinginan untuk bisa
kembali dan akan secepatnya menikahi Halwa demi memenuhi permintaan ayahnya.
Akhirnya, mereka berdua saling
berdiam dengan posisi Halwa masih membelakangi Trisna dan Trisna menghadap
kepada Halwa yang sedang membelakanginya. Mereka berdua saling terdiam selama
kurang lebih 5 menit tanpa ada satu katapun yang terucap setelah mendengar
penjelasan dari mereka masing-masing.
Ya Allah..
Hanya kepadamulah aku memohon pertolongan
dan hanya kepadamulah aku meminta..
Semoga semuanya selalu ada dalam
perlindungan, kebaikan dan keridhoanmu..
Ya Rabb….
“baiklah…” kata itu akhirnya
serentak keluar terucap dari mulut mereka secara bersamaan. Dan merekapun
kembali terdiam kaku.
“yasudah, silahkan kamu duluan yang
bicara Halwa” akhirnya Trisna membuka keheningan yang sejenak tercipta dan dia
mengalah untuk Halwa agar dia mengungkapkan terlebih dahulu apa yang ingin dia
ungkakan barusan.
“tidak, biar kamu saja dulu Tris..
silahkan!!!” sambil membalikan badan Halwa berkata sambil tangannya
mengelus-elus pipinya yang telah basah terguyur air mata.
“baiklah, maaf aku mendahului
berbicara. Aku ingin mengungkapkan keseriusan cintaku terhadapmu, aku ingin
kita menikah. Apakah kamu bersedia menerima maharku untuk menjadi pendamping
hidupku…????” Trisna kembali memberanikan diri secara langsung, tegas dan
serius mengungkapkan maksudnya sambil terus menatap Halwa yang menunduk.
Mendengar ajakannya Trisna, Halwa
hanya terdiam kembali dan hanya menjawabnya dengan hembusan nafasnya yang
lembut seakan nafas itu mewakili kelegaan dan kecemasan hatinya. Dia merasa
lega disaat dia mengajaknya serius, Halwa merasakan bahwa Trisna benar-benar
tulus berbicara dan dengan serius mengajaknya. Tetapi ada pula kecemasan yang
tersimpan dihatinya, dia masih cemas dengan keadaan ini dan dia masih memiliki rasa
takut kalau kejadian yang terjadi dibulan ini tepatnya bulan juni ini akan
terjadi dimasa yang akan datang. Karena dia sadar dia hanya manusia biasa yang
tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena dia hanya manusia yang
hanya mampu berencana tetapi yang menentukannya adalah Allah yang maha
segalanya. Tetapi dia sekarang pasrah dan mencoba untuk terus kembali husnudhon
dengan apa yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi selanjutnya
dalam hidupnya yang akan datang.
“Tris, aku udah harus pulang cepet
nih. Terimakasih ya buat waktunya hari ini, dan terimakasih juga udah memberiku
sedikit kebahagiaan dihari ini. Untuk masalah itu, aku minta waktu untuk
berfikir” ujar Halwa sambil membelokan badan kearah depan lalu dia
meninggalkannya tanpa basa basi lagi dan tanpa menengok kembali ke arah Trisna.
Trisna pun tak bisa memaksakan
kehendak dan dia juga mengerti bagaimana pedihnya jadi seorang dia. Tapi
walaupun begitu , sekarang Halwa bagi Trisna merupakan sebuah anugerah terindah
dari Allah yang akan segera ia jemput.
Aku
Sudah Paham
Ya Allah..
Gantikanlah kepedihan ini dengan
kesenangan..,
Jadikan
kesedihan itu awal kebahagiaan..
Sirnakan rasa takut ini menjadi rasa
tentram…
Ya Allah...
Dinginkan panasnya kalbu dengan
salju keyakinan ,
Padamkan
bara jiwa dengan air keimanan….
Wahai
Rabb..
Anugerahkan
pada mata yang tak dapat terpejam ini rasa kantuk dari-Mu yang menentramkan…
Tuangkan
dalam jiwa yang bergolak ini kedamaian…
Ganjarlah
dengan kemenangan yang nyata..
Wahai
Rabb..
Tunjukanlah
pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu..
Bimbinglah
sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-Mu yang lurus..
Tuntunlah
aku dan orang-orang yang menyimpang dari
jalan-Mu merapat ke hidayah-Mu..
Ya
Allah…
Sirnakan
keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang..
Hancurkan
perasaan yang jahat dengan secercah sinar kebenaran..
Hempaskan
semua tipu daya setan dengan bantuan bala tentara-Mu..
Ya
Allah..
Sirnakan
dari ku rasa sedih dan duka dan usirlah kegundahan dari jiwa ku …
Ya
Allah…
Aku
berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera..
Hanya
kepada-Mu aku bersandar dan bertawakal..
Hanya
kepada-Mu aku memohon dan hanya dari-Mulah semua pertolongan…
Cukup
engkau sebagai pelindung ku, karena engkaulah sebaik-baik pelindung dan
penolong….
Amiin…
Halwa
berdo’a dalam setiap sujud di sepertiga malam. Sekarang dia hanya bisa pasrah
dengan apapun yang akan ia alami dalam hidupnya. Ia hanya bisa pasrah dan
berharap mendapat yang terbaik dari yang terbaik dalam hidupnya yang penuh
dengan misteri. Subhanalloh..
Tak
terasa, Halwa yang tadi bangun pada pukul 1.30 kemudian melaksanakan sholat
tahajjud kemudian ia mencurahkan apa yang sedang terjadi padanya dan berdo’a
untuk kebaikan hidupnya kepada Rabb-Nya dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat
suci al-qur’an sampai-sampai dia tak menyadari bahwa waktu sekarang telah
menunjukan pukul 4 dan waktunya menunaikan sholat subuh karena adzan telah
berkumandang. Kemudian, ia pun langsung bersiap kembali untuk menunaikan ibadah
sholat subuh dengan semangat dan hati tenang karena telah mengadu kepada
pemilik segalanya yaitu Allah. Hatinya merasa tenang setelah ia beribadah dan
rasa kantuk pun berhasil ia usir jauh-jauh.
“tok
tok tokkk…” terdengar suara ketukan pada pintu kos-kostannya Halwa dan
“assalamu’alaikum…???” terdengar suara wanita yang mengucapkan salam di depan
pintu kostannya Halwa.
“wa’alaikum
sallam…” jawab Halwa singkat sambil segera bergegas menuju pintu depan karena
kebetulan sekarang sudah menunjukan pukul 8 pagi dan jadwalnya dia beres-beres
di kostannya. Karena hari ini dia gak ada jadwal kuliah makanya ketika ada
orang datang ke kostannya pada jam pagi dia masih memakai pakaian tidur bekas
semalam.
Tiba-tiba……
“ MAMAAAAAAAAAAAAAAA……” Halwa setengah berteriak memanggil mamanya yang sedang
berada di hadapannya. “ mamaaaaa…” kembali dia mengulang memanggil mamanya
dengan nada panjang. “ mamaaa.., kangeeeennnnn . mama kenapa gak bilang-bilang
aku kalau mama hari ini mau kesini??? Padahal kalau mama bilang dulu sehari
sebelumnya kek kalau mama mau kesini, biar nanti aku siapin dulu makanan atau
apa kek buat mama. Ihh mamaaaa kangeennn…” Halwa sangat terlihat bahagia dengan
kehadiran mamanya pagi ini karena sudah hampir satu semester ini dia tidak
pulang sama sekali, dia hanya kontekan melalui handphone itupun juga jarang. Halwa
mencium tangan mamanya lalu memeluk erat mamanya dengan manja.
“aduuuhhhh
anak mama tersayang.., mama juga kangen sama kamu nak. Kamu kenapa gak pulang
satu semester ini…??? Tumben banget, biasanya kamu baru satu bulan di kostan
udah sms minta dijemput atau kalau gak dijemput kamu suka tiba-tiba udah nongol
didepan pintu rumah” mamanya melepaskan pelukannya sambil mengelus-elus kepala
anak tunggal kesayangannya dengan manja.
Halwa
lalu menggandeng mamanya untuk masuk ke dalam kostannya karena dia malu takut
ada yang tahu kalau sebenarnya dibalik sifat dan sikap kedewasaannya di depan
teman-teman kampusnya dia juga manja kalau berada di dekat mama atau ayahnya.
Mungkin dia manja karena dia memang di manja sama kedua orang tuanya, karena
dia merupakan anak satu-satunya. Tapi walau mama dan ayahnya memanjakannya ,
mereka tetap tegas terhadap anaknya dan mereka memanjakan Halwa tidak seperti
memanjakan anak-anak seperti yang lainnya. Dia memanjakannya dengan didikan
yang juga tegas karena mereka juga tidak mau kalau anak satu-satunya itu harus
sengsara dimasa yang akan datang dengan kemanjaan yang dimilikinya. Walau dia
dimanja tapi mereka juga menginginkan anaknya untuk mandiri.
“iya
maaf ma, habis disini banyak tugas jadi tanggung kalau Halwa harus bolak-balik
ke rumah, mending kalau bisa lama di rumahnya. Kalau Cuma sehari tanggung kan,
lagian aku juga mau belajar mandiri donk ma. Biar nanti ketika aku jauh dari
mama aku bisa ngerjain semuanya sendiri dan gak mungkin kan ketika aku udah
nikah nanti terus jauh dari mama masa aku harus pulang dulu ke mama, kaya anak
yang mau minta nenen..., hahaaaa…” Halwa berbicara sambil godain mamanya dan memeluk
kecil pinggang mamanya dia tertawa.
“hehe
ah kamu bisa aja deh… iya mama sama ayah udah kangen sama kamu makanya mama
kesini disuruh ayah juga mama harus cepet-cepet nengok kamu katanya takut anak
kesayangannya kenapa-kenapa soalnya gak biasanya. Sekalian mama juga ada perlu
yang harus mama sampein ke kamu langsung” sambil terus mengelus lembut kepala
anaknya mamapun mencoba memberitahukan maksud dia menemui anaknya yang
sebenarnya. Karena selain dia kangen dan khawatir kepada anaknya mamanya Halwa
juga memiliki sesuatu hal yang harus ia sampaikan langsung secepatnya mengenai
masa depannya sebagai seorang wanita muslimah.
“emang
ada perlu apa ma ..?? mama gak bawa apa-apa ksini..???” Tanya Halwa sambil agak
cemberut manja godain mamanya karena tidak membawa apapun selain tas yang masih
nempel bahu mamanya.
“eh
iya mama lupa, mama juga buru-buru jadi gak sempet bawa apa-apa. Mama naik
angkutan umum sayank…” jawab mama sambil buka-buka isi tas nya.
“hmmm
mama…, emang ada apaan sih ma..?? kayanya penting banget..” sambung Halwa “tapi
Halwa belum mandi ma, mau nungguin Halwa mandi dulu atau mau cerita sekarang
ma…???” Halwa tersipu malu sama mama.
“iya
tidak apa-apa lah kamu gak mandi juga, kamu udah tetep cantik ko buat mama
walau gak mandi badan bau terasi juga,haha…” mama dan Halwa ketawa bersama.
“ih
mama dasar” Halwa a mencubit manja tangan mamanya.
“begini
nak, mama sebetulnya kesini selain kangen dan khawatir sama kamu ada juga hal
lain yang yang tidak kalah penting buat kamu dan kita. Dua minggu yang lalu
mama kedatangan tamu, dan tamu itu adalah istrinya teman lama ayah namanya pak Kardi. Dia adalah sahabat
ayah dulu yang menghilang tanpa kabar dan kemaren tiba-tiba istrinya datang
mendadak ke rumah kita dan memberitahu bahwa sekarang suaminya itu sedang
menderita sakit parah yang katanya dokter memvonis suaminya itu tidak akan
hidup lama lagi soalnya penyakit yang di deritanya cukup mematikan. Meskipun
sebenarnya yang menentukan hidup dan mati manusia adalah Allah tapi kita sebagai
makhluknya hanya bisa tawakal dan pasrah ketika mendapat kenyataan yang sangat
tak memungkinkan” ucap mama jelas tentang maksud kedatangannya kesana, mamanya
tidak langsung mengutarakan apa maksud dan tujuan utamanya yaitu untuk
menjodohkan anaknya dengan anak teman ayahnya yang katanya hampir seumuran
dengan dia hanya saja beda beberapa tahun dan lebih tuaan anak teman ayahnya 3
tahun.
“astaghfirulloh..,
kasian ya ma. Terus setelah itu apa yang menjadi hubungannya dengan Halwa ma
…?? Apa temannya ayah ingin bertemu dengan Halwa atau bagaimana…???” Tanya Halwa
pura-pura polos.
“iya
sayank keluarganya teman ayah ingin bertemu dengan kamu yang katanya sebagai
permintaan terakhir sebelum temannya meninggal. Meskipun mama juga belum lihat
langsung seperti apa kondisinya sekarang, yang pasti mama cukup merasakan apa
yang istrinya rasakan setelah mendengar cerita dan kronologinya bagaimana” mamanya mencoba berbicara perlahan
sambil menatap dan memegang pundaknya Halwa.
Mamanya
cukup merasakan musibah yang sedang menimpa keluarga teman suaminya. Mamanya
merasakan apa yang istri teman suaminya rasakan karena dia juga wanita. Hidup
memang benar-benar proses belajar, tetaplah nikmati dan syukuri hidup ini,
selagi kita mampu melaksanakan dan melakukan hal baik apa yang seharusnya kita
laksanakan maka lakukanlah sebelum penyesalan datang menghampiri kita. Allah
takan pernah salah dan takkan pernah memberikan sesuatu kepada makhluknya
dengan sia-sia dan takkan memberikan suatu ujian dan cobaan kepada setiap
makhluknya dibatas kemampuannya. Allah memberikan ujian dan cobaan dan apapun
itu karena Allah tau makhluknya mampu dan itulah yang terbaik, pikirkan dan
syukurilah. J
“Iya
ma, kasian ya ma, yasudah kalau gitu nanti kita main ke rumahnya sekalian
menjenguknya yu ma” masih dengan laga pura-pura polos Halwa berucap.
“iya
tapi selain mereka ingin bertemu dengan kamu, teman ayahmu juga meminta agar
kamu mau……” belum sempat mamanya menjelaskan kata-katanya sampai beres
tiba-tiba Halwa pun memotong pembicaraan mamanya dan langsung menebak apa yang
akan dikatakan mamanya.
“mauuuu
dijodohkan dengan anak teman ayah kan..????” Halwa berbicara dengan raut wajah
tenang sambil tersenyum dan kemudian “iya kaaaannn…??? Haha.. pasti begitu,
kaya di film-film aja, dramatis ma…hehe…” sambung Halwa sambil memain-mainkan
alis nya didepan wajah mamanya lalu tertawa kecil.
“hehe…,
iya anak mama pinter. Kamu itu udah gede udah dewasa tapi kalau sama mama sama
ayah kamu aja pasti berubah jadi manja, pantes aja teman-teman kamu pada kaget pas
lihat tingkah kamu kalau lagi sama mama dan ayah, hehe.,..” mamapun tersenyum
kembali mendengar kata-kata Halwa.
“hehe..
sebenarnya Halwa udah tau ko ma tapi Halwa pura-pura polos aja, pasti kalau
awalnya begitu ujungnya pasti begitu juga,hehe…” ucap santai Halwa sambil
berjalan menuju handuk yang menggantung.
“iya
nak,hehe.. mama jadi malu deh. Ah kamu dasar nak manja. Hehe..” goda mama
kepada Halwa, tetapi mamanya cukup lega setelah tau apa yang dia maksudkan
telah diketahui oleh anaknya dan mamanya juga tenang dan senang melihat respon
anaknya yang santai dan justru tidak ada kaget-kagenya sama sekali. Kemudian
mamanya menyambung “sini dulu sayank bentar, jadi gini nak kemaren istrinya
teman ayah setelah dia panjang lebar membicarakan tentang keadaan keluarganya
sekarang dia juga menyampaikan salah satu permintaan suaminya untuk segera
melihat anak semata wayangnya melangsungkan pernikahan sebelum ayahnya
meninggal dan dia meminta agar anaknya dijodohkan dengan kamu lalu
melangsungkan pernikahan. Tapi ayah dan mama belum mengiyakan permintaan
mereka, karena mama dan ayah gak mau langsung mengambil keputusan iya atau
tidaknya karena kan yang punya keputusan adalah kamu dan yang akan menjalaninya
kan juga kamu Halwa” sambil memegang pundak anaknya.
“hmmm…,
emang mama udah merestui kalau Halwa menikah di usia Halwa sekarang ini..?? kan
Halwa masih harus kuliah ma..?? apalagi Halwa kan baru 22 tahun” Halwa menatap
mama.
“kalau
mama dan ayah sih terserah kamu, jika seandainya kamu sudah benar-benar siap
dengan semuanya ya mama dan ayah akan merestui. Tapi kalau kamu belum siap juga
ya jangan memaksakan sih, lebih baik kita jelaskan saja secara baik-baik kepada
keluarganya kalau misalkan kamu belum siap. Bagaimana sayank..???” dengan
santai mamanya melanjutkan pembicaraannya.
“hmmmm
(Halwa menghembuskan nafas kecil), terus kalau misalkan Halwa belum siap dan
menolak permintaan mereka bagaimana ma ? terus bagaimana dengan ayahnya yang
memiliki permintaan terakhirnya..??” kembali halwa bertanya. Karena
sebenarnya dia sudah pasrah dan sudah merelakan cintanya kepada Trisna kalau
misalkan dia harus menikah dengan laki-laki lain selain dia apalagi
perjodohannya didasari dengan niat baik menolong, karena dia yakin bahwa
semuanya yang terjadi pada hidupnya itulah yang terbaik. Dan Halwa juga sudah
siap jika memang sekarang dengan usianya yang sudah lumayan matang untuk
menikah dia sudah siap dan tidak akan memandang siapapun dan bagaimana pun
laki-laki yang akan menjadi suaminya nanti asalkan yang terpenting keimanannya
kuat dan dapat membimbing dia ke jalan yang benar. Halwa juga sudah tidak mau
terus terpuruk dengan kisah cintanya bersama Trisna yang bisa dibilang gagal
atau mungkin memang ada yang lebih baik darinya untuk menjadi imamnya dan dia
berharap mungkin perjodohan inilah yang terbaik dan akan memberikannya lelaki
yang lebih baik juga dari Trisna.
“Ya
Allah.., jika ini semuanya memang jalan takdirku maka ikhlaskanlah aku untuk
menerima semuanya dan jika memang dia jodohku maka satukanlah kami dengan
keadaan yang engkau ridhoi yaitu pernikahan.amiin…” dalam hati Halwa
berdo’a.
“ya
mama juga bingung sih, mama tidak mau memaksakan kepada kamu tapi disisi lain
juga mama kasian dengan keadaan keluarganya dan mungkin ini amanat dari
suaminya kepada istrinya teman ayah agar segera diwujudkan” dengan wajah
bimbang mamanya Halwa membelokan muka.
“yasudah
mama gak usah pusing gitu, biar nanti aku pikir-pikir dulu bahkan istikhoroh
dulu.hehe… sekarang Halwa mau mandi dulu ya ma, nanti kita lanjutkan lagi dan
sekarang mama istirahat aja dulu kasian mama cape kayanya. Soalnya jam segini
mama udah bisa nyampe kesini pake angkutan umum lagi. Tenang mama sayank, Halwa
akan meberikan keputusan yang akan membuat mama bangga dengan niat yang
membanggakan buat mama juga J,hehe..
amiin..” Halwa berdiri tersenyum sambil memegang handuk dan bergegas bersiap
menuju kamar mandinya. Tapi “ eh lupa, mama mau makan gak ? atau mama mau
makanan dan minuman apa gitu, biar aku ambilin dulu..” Halwa membalikan badannya
kembali kehadapan mama karena kebetulan dia hanya menyediakan air putih saja
diatas meja kecil.
“iya
amiin sayank. gak usah ah, biar mama ngambil aja sendiri. Sekarang kamu mandi
dulu aja sana, biar tambah cantik. Eh iya , hari ini juga kamu ikut mama pulang
dulu ya, karena kata temen kamu tadi pas di jalan mama ketemu katanya kamu
seminggu ini lagi kosong jadwal kuliah karena fakultas kamu ada tugas khusus
katanya” mama berbicara sambil menyimpan tasnya diatas kasur tempat Halwa tidur
dan membereskan baju halwa yang berserakan ditempat tidur.
“hahhh…??
Hari ini..??? aduh mama ah suka ngedadak gini deh…, tapi gimana nanti aja yang
pasti aku mau mandi dulu dan yaudah mama juga kalau mau apa-apa ambil aja
sendiri ya mama sayank,hehe…” Halwa ketawa kecil dan kemudian berjalan
meninggalkan mamanya menuju kamar mandi.
Setelah Halwa mandi beberapa menit
dan mamapun menyibukan diri di kostannya Halwa sambil membereskan baju-baju dan
barang-barang Halwa yang berserakan. Dalam hati mereka masing-masing merasakan
ketenangan karena pertama bagi mamanya sangat merasa tenang ketika melihat
respon halwa yang sangat baik tentang masalah perjodohan anaknya begitupun Halwa,
dia juga merasa tenang karena sekarang dia berniat untuk meniggalkan masa
lajang dan masa remaja nya untuk menjadi seorang istri bagi suaminya nanti jika
memang perjodohannya benar-benar terjadi.
“Halwa gapapa yah baju kamu mama
rapikan, sekalian mama masukin ke ransel kamu sebagian bajunya biar nanti kamu
beres-beresnya gak lama dan gak ribet juga” pinta mama kepada Halwa.
“iya terserah mama aja deh, Halwa
nurut aja sama mama. Berarti sekarang Halwa harus langsung siap-siap donk ma,
kita langsung pulang ke rumah apa langsung ke rumah temennya ayah..??” Halwa masih
dalam keadaan memakai handuk dikepalanya.
“terus selain baju apalagi yang
harus dibawa sayank? Iya kita sekarang berangkat setelah kamu beres
disini,terus kita mampir ke pesantrennya temen mama ,kamu temenin mama dulu
ngambil pesenan kerudung buat mama dan buat kamu juga. Terus kita langsung
pulang ke rumah deh” penjelasan mama tentang schedule hari ini bersama Halwa.
“udah mama siapin baju aja dulu biar
yang lainnya Halwa yang siapin. Asiiikkk shoping kerudung baru nih,hehe.. Halwa
pengen kerudung yang panjang warna navy ma soalnya bosen yang ini udah jelek..
oke deh” pinta Halwa dengan manja kepada mamanya.
Bahagia
Mulai Menyapa
Akhirnya,
mereka pun sudah sampai kembali di rumah dan kelihatannya mereka capek dan
langsung masuk ke kamar masing-masing tanpa basa basi. Kebetulan di rumahnya
sedang tidak ada siapa-siapa karena ayah lagi sibuk kerja dan dirumahnya Halwa
tidak menggunakan jasa pembantu karena mamanya masih merasa mampu mengerjakan
semuanya sendiri tanpa harus memakai pembantu. Keluarga mereka merupakan
keluarga sederhana walau sebenarnya mamanya adalah keturunan orang mampu tapi
mereka tetap hidup sederhana dan agamis.
“kring kring kriiingggg….” Tiba-tiba
suara handphone nya Halwa berbunyi dan handphonenya Halwa tertinggal di tasnya
mama. Lalu mamanya mengangkat telponnya tapi mama tidak tau siapakah yang
menelpon Halwa saat itu karena nomornya tanpa nama.
“halo assalamu’alaikum..???”
terdengar suara laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Halwa.
“iya wa’alaikumsallam, maaf ini
dengan siapa yah..???”
“ini aku Trisna Halwa, ko suara kamu
beda. Kamu baik-baik aja kan …??”
“oh maaf ,ini bukan Halwa tapi ini
sama mamanya Halwa. Trisna yang mana yah..?? temennya Halwa bukan..??” Tanya
mama.
“oh aduh maaf tante saya kira ini Halwa,iya
ini saya Trisna teman kampusnya Halwa. Halwanya
kemana tante…???”
“iya tidak apa-apa nak, Halwa nya
ada tapi dia kayanya lagi cape soalnya baru pulang dan sekarang baru aja nyampe
rumah”
“oh gitu ya tante, emang Halwa
pulang kenapa..?? dia tidak apa-apa kan tante…??” Tanya Trisna sebagai
basa-basi.
“Halwa sengaja pulang soalnya mau
ada keperluan keluarga, dia Alhamdulillah sehat ko. Ngomong-ngomong ada
keperluan apa ya sama Halwa??” Tanya mamanya Halwa kembali
“enggak ko tante saya cuma ada perlu
sedikit sama Halwa, tapi kalau misalkan Halwa nya lagi istirahat biarkan saja
dia istirahat dulu biar nanti saya telpon lagi atau kalau boleh saya mau ke
rumahnya Halwa gimana tante,boleh..???”
“oh iya silahkan kalau gitu, main
aja kesini nak. Kebetulan Halwa juga kayanya mau agak lama pulangnya” dengan
nada senang mamanya Halwa membolehkan Trisna untuk main ke rumahnya. Padahal
Trisna adalah anaknya teman ayahnya yang mau dijodohkan dengan Halwa tetapi
mama dan ayahnya Halwa belum mengetahuinya begitupun Halwa.
“Alhamdulillah, yaudah kalau
begitu langsung saja besok pagi saya mampir ke rumah tante ya, soalnya
kebetulan saya juga sepertinya bakalan lama berada di rumah” dengan senang hati
juga Trisna menyambut diperbolehkannya dia main ke rumahnya Halwa.
Keesokana harinya Trisna pun
benar-benar datang ke rumahnya Halwa dengan membawa banyak oleh-oleh untuk
mamanya sekalian perkenalan juga kepada keluarganya Halwa dan berharap maksud
dan tujuan utamanya dapat terwujud dan disetujui oleh keluarganya Halwa dengan
baik.
Setelah akhirnya Trisna memberanikan
diri datang menemui keluarganya Halwa, dengan modal pura-pura ada perlu kepada Halwa
akhirnya dia berhasil bergabung dengan baik dengan keluarganya Halwa. Setelah
beberapa jam Trisna, Halwa dan juga keluarganya Halwa berbincang bincang
bersama mengenai kedatangnnya kesana untuk apa akhirnya telah selesai. Sebelum
Trisna pulang Trisna mengajak Halwa ketaman belakang rumahnya dan lalu mereka
berdua berbicara 4 mata dan kemudian Trisna menjelaskan maksud dan tujuan
utamanya dia datang kesana.
“Halwa, kamu tau apa maksud dan tujuan
ku kesini kan..??” Tanya Trisna pada Halwa dengan jantung degdegan karena takut
Halwa masih belum bisa menerima dia.
“iya aku tahu maksud dan tujuan kamu
kesini, yaitu untuk memperkenalkan diri kamu kepada keluargaku kan. Lalu
mengambil hati mereka sampai nanti akhirnya kamu dapat restu mereka untuk bisa
bersatu kembali denganku bukan..???” jawab lebar Halwa kepada Trisna.
“iya betul Halwa, aku kesini memang
sengaja ingin dekat dan kenal dengan keluargamu yang masih utuh” jawab Trisna kembali.
“jujur, aku sangat senang dengan
usahamu memberanikan diri bertemu dengan keluargaku hanya untuk mengambil dan
meminta restu mereka agar kita dapat bersatu kembali, tapi apa kamu tidak malu
dengan kesalahan besarmu yang dulu pernah kamu lakukan terhadapku..???” ucapan Halwa
sangat tajam kepada Trisna.
“ya justru itu, aku sengaja dan
memang benar-benar niat untuk meminta restu orang tuamu sedikit demi sedikit
agar aku juga dapat menebus kesalahnku dulu yang pernah kulakukan kepadamu. Aku
mohon Halwa sayank, aku yakin kamu juga masih menyimpan rasa cinta dan sayang
kepadaku. Maka aku mohon bantulah aku untuk menebus semua kesalahanku kepadamu
dulu” dengan sangat tulus Trisna memohon kepada Halwa.
“hmmm.., tanpa kamu memintapun
sebenarnya aku sudah akan membantumu ko, karena aku juga menginginkanmu dan
menginginkan kita untuk bisa bersatu dengan keadaan yang diridhoi” ucap Halwa
dengan nada lirih. “tapiiii…, sepertinya sekarang aku tidak bisa..” sambung Halwa
lalu menunduk.
“kenapa..???” Tanya Trisna singkat.
“aku dijodohkan Tris” jawab Halwa
singkat.
“lalu, kamu menyetujui
perjodohannya,,…???” Trisna menunduk sambil merebahkan badannya diatas kursi
taman yang terasa lemas karena mendengar penjelasan Halwa.
“iya aku menyetujuinya Tris, maafkan
aku !! bukan aku tak cinta tapi aku memang harus melakukannya” Halwa pun duduk
diatas rumput-rumput ditaman.
“kalau harus jujur, aku juga sama
dijodohkan sama teman ayahku. Dia meminta aku agar aku menyetujui perjodohan ku
dengan anak temannya sebagai permintaan terakhir ayahku” ucap Trisna sambil
menengadahkan kepala diatas kursi taman.
“lalu, apakah kamu juga
menyetujuinya..???” tanya Halwa dengan perasaan degdegan karena sebenarnya dia
tidak mau kalau Trisna harus jadi milik orang lain.
“Ya Allah..
Mengapa semuanya harus berbelit
seperti ini..
Tunjukanlah aku jalan-Mu yang
terbaik..” ucap lirih Halwa dalam hati.
“aku belum menyetujuinya karena aku
belum tahu seperti apakah dia dan bagamanakah dia, aku baru dapat kabar dari
mama bahwa ayah memintaku untuk segera menikah dengan wanita pilihan ayah yaitu
anak temannya ayah sebagai permintaan terakhirnya” ujar Trisna sambil memegang
rambutnya. “ya Allah, jangan biarkan aku mengeluh dengan keadaan ini ya Allah,
aku tahu bahwa ini adalah ujian dari-Mu dan ini yang terbaik untuk hidupku dan
keluargaku dari-Mu. Tapi.., jika aku boleh meminta, aku mohon aku ingin ayahku
sembuh, biar aku yang menggantikannya. Cabutlah nyawaku ya Allah gantikanlah
posisi ayahku denganku, aku tak bisa kalau harus melihat ayahku tertidur lemah
dengan merasakan sakit yang tak bisa kubayangkan. Aku belum bisa dan belum sanggup jika aku
harus kehilangan orang yang aku sayangi untuk selamanya ya Allah..” Trisna
menangis dengan posisi tangan meremas rambutnya. Dia belum sanggup jika harus
secepatnya ditinggal oleh orang yang sangat dia sayangi dalam hidupnya apalagi
seorang ayah. Hidup memang penuh misteri tiada yang tahu akhirnya karena kita
sebagai makhluknya hanya dapat berencana dan yang menentukan adalah Allah.
“innalloha ma’ashoobiriin,
sesungguhnya Allah ada bersama orang-orang yang sabar. Jangan seperti itu Trisna,
kamu pasti bisa ko. Kenapa kamu jadi berfikiran seperti itu..??? seharusnya
kamu bersyukur karena setidaknya kamu masih diberi kesempatan bersama ayah kamu
sampai usia kamu seperti sekarang, kamu masih diberi kesempatan bersama-sama
dengan ayah dan ibu kamu. Coba kalau kamu lihat anak-anak yang ada di panti
asuhan atau dipinggri jalan, mereka belum tentu seberuntung kamu. Jangan
berhenti bersyukur Tris, jangan menyerah , tetap bersabar. Aku yakin kamu
bisa!!!” Halwa mendekati Trisna lalu memegang pundaknya Trisna sambil
menyodorkan selembar tissue untuk menghappus air mata Trisna yang sedikit demi
sedikit menetes. Halwa merasa bersalah, merasa kasihan melihat dia seperti itu.
Dia merasa tidak tega melihat orang yang dia sayangi seperti itu.
“Halwaaaaaa…, ayolah bantu aku
melaksanakan amanat dari ibuku dan bantu aku melaksanakan permintaan ayahku.
Karena aku yakin hanya kamu yang mampu, hanya kamu yang bisa, hanya kamu yang
pantas” Trisna menatap dan memohon kepada Halwa dengan air mata menetes satu
persatu. “iya oke, dulu aku pernah menyakitimu aku pernah mengecewakanmu dengan
alasan yang tidak jelas. Tapi asal kamu tahu aja , semua itu aku benar-benar
melakukannya demi kamu, karena aku sayang kamu karena aku ingin melihat masa
depanmu seperti apa yang kamu inginka, tapi aku gagal..” Trisna menunduk.
“maksud kamu Tris..?? aku gak ngerti
deh dengan ucapanmu, kamu katakana bahwa kamu sayng aku, bahwa kamu ingin
melihat aku bahagia, tapi..?? jelas-jelas kamu malah seakan menunjukan kalau
kamu tidak menyayangiku dan justru malah hamper menghambat aku dalam meraih
cita-cita dan masa depanku” Tanya Halwa heran dan tak mengerti dengan apa yang
Trisna katakan.
“astaghfirulloh, ya Alloh….
(Trisna sedikit menggeram) aaarrrrrggggghhhhhhhhht….” Trisna menutup wajahnya
sambil beristighfar.
“Trisnaaaaa…???? Ayo sekarang kita
kembali saja ke rumah, kamu ambil air wudhu sekalian kita siap-siap buat sholat
dzuhur karena bentar lagi sudah mau adzan. Aku paling gak mau lihat orang yang
aku sayang termasuk kamu seperti itu. Udah gak usah cerita apa-apa tentang
perselingkuhanmu, karena aku sudah tahu alasannya, aku memang tidak lebih baik
dari wanita itu” Halwa terlihat sedang membendung air mata di wajahnya , Halwa
jongkok sambil sedikit demi sedikit membantu Trisna berdiri karena dia terlihat
benar-benar lemas dan baru kali ini dia melihat trisna seperti itu.
Setelah
kejadian tadi selesai dan mereka sudah menunaikan sholat berjamaah bersama, Halwa pun mengantarkan Trisna pulang sampai
kedepan pintu gerbang rumahnya. Dari perkataan Trisna tadi Halwa masih terheran-heran dengan maksud
dari kata-katanya tadi, dan Halwa juga penasaran dengan siapakah Trisna
dijodohkan dan kenapa waktunya harus bersamaan dengan perjodohan yang juga
dilakukan olehnya dan keluarganya. Apakah ini sebuah kebetulan ? atau mungkin
perjodohan yang dimaksudkan orang tuanya Trisna sama dengan perjodohannya Halwa..?
ah entahlah, Halwa hanya dapat pasrah dengan semua yang telah terjadi, sedang
terjadi dan yang akan terjadi dengan hidupnya. Yang pasti Halwa akan terus
tetap mensyukuri apa yang sedang dia miliki saat ini.
Dengan
Sabar Ku Mencari Kemudahan
Keesokan harinya tepatnya pukul 10
pagi tiba-tiba handphone Halwa berbunyi, dan dilihatnya sudah ada 3 sms panjang
bagaikan pidato dari sahabatnya yang berisi :
“assalamu’alaikum
Halwa..?? kamu gimana kabarnya? Sehatkan ? kamu pulang ko mendadak sih
non, gak bilang-bilang aku lagi.” Itu adalah sms pertama dari Sutan sahabatnya.
“non,
aku punya kabar yang entah menurutmu itu baik
atau buruk tapi yang pasti menurutku ini adalah kabar baik. Kamu udah
denger belum tentang Trisna sekarang dia dimana dan bagaimana? Sebelumnya aku
minta maaf, kalau aku tiba-tiba nongol dan langsung membawakan kabar tentang Trisna
yang pasti mudah-mudahan kabarku membawa perubahan baik” sms kedua dari sutan.
“to
the point aja yah, aku kemaren duduk ditempat pas waktu minggu-minggu lalu kita
bertemu dibangku taman kampus, waktu itu aku nyimpen tas di bangku lalu tasku
lupa gak aku tutup resletingnya kemudian pen ku jatoh dan gak sengaja aku
menemukan sebuah buku kecil warna hitam, tadinya sih aku niatnya mau balikin
buku itu ke orang yang punya nya makanya aku buka-buka dan aku baca siapa tau
ada namanya dan berharap yang punya buku itu adalah cewe dan siapa tau juga itu
jodohku,hehe… tapi ternyata pas aku baca *sebagian teks hilang*” sms ketiga
tetapi belum lengkap, kemudian muncul kembali sms lanjutan dari sms ketiga yang
belum lengkap tadi.
“tapii
L aku baca disitu
ada nama Trisna, tertulis dengan jelas dan besar mungkin ukuran huruf nya
78,hehe.., lalu ak u gak sengaja membaca sedikit demi sedikit yang akhirnya aku
baca semua deh apa isi buku itu, siapa tahu ada nama kamu disana. Dan ternyata
memang benar disitu semuanya tertulis namamu disetiap lembarnya, subhanalloh.
Sungguh cinta yang tulus (cry emotikon). Kamu harus kembali sama Trisna non,
dia ternyata tidak seburuk yang kita kira, ternyata dibalik kejahatannya sama
kamu, tersimpan kasih sayang dan cinta yang tulus yang benar-benar cinta
sesungguhnya, subhanalloh.. kamu harus tahu langsung apa alasan dia
meniggalkanmu dulu, cepat kamu hubungi dia sekarang!!!” sms lanjutan Sutan yang
memberi tahu kabar tentang Trisna kepada Halwa.
Halwa semakin bertanya-tanya dengan
ucapan Trisna hari kemarin itu, Halwa juga masih bertanya-tanya mengenai alasan
kenapa Trisna dulu melakukan hal itu kepadanya yang belum Trisna jawab juga.
Ditambah dengan adanya lagi sms dari sahabatnya yang tiba-tiba membawa kabar tentang
Trisna tanpa dia tahu ada apa ini sebenarnya. Kemudian tanpa basa basi sampai
tidak sempat membalas sms nya Sutan, Halwa langsung menelphone Sutan setelah ia
membaca sampai selesai sms dari sahabatnya. Tapi sayangnya ketika dia
menelphone Sutan , jawaban yang ia dapat adalah “the number your calling is
no active, please try again latter” . kemudian tanpa basa basi Halwa
menghubungi Trisna tetapi ketika dia menghubungi Trisna dia hanya mendapat
jawaban sms automatic yang isinya “sorry, I will call you latter” dari
Trisna ketika Trisna tak sempat menjawab dan itu artinya dia sedang sibuk
sampai-sampai dia mengirimnya sms automatic saat Halwa menghubunginya. Karena
dia tahu kalau Trisna hanya pernah satu kali mengirim sms automatic seperti itu
kepadanya, itupun saat dulu ia sibuk mengurus ayahnya yang sedang kritis dan
itupun 2 tahun yang lalu. Sebenarnya ada apa ini ya Allah..?? Halwa terus saja
berpositif thinking dengan kejadian sekarang dan berharap semoga semuanya
baik-baik saja. Untuk lebih menenangkannya Halwa kemudian segera bergegas untuk
mengambil air wudhu dan kemudian dia menunaikan sholat dhuha yang masih dapat
ia laksanakan. Halwa memang selalu melakukan hal seperti ini, ketika dia
mendapat sebuah hal yang membuatnya tidak tenang , maka ia akan langsung
menunaikan sholat. Dan ketika kebetulan ia mendapat ketidak tenangan saat
sedang berada ditengah-tengah waktu sholat dzuhur dan ashar, ashar dan maghrib
maka sholat yang ia lakukan adalah sholat mutlak. Kalaupun waktunya tidak
memungkinkan untuk sholat ia selalu membaca al-qur’an yang selalu ia bawa di
dalam tas nya. Ataupun ketika keadaanya sangat tidak memungkinkan untuk sholat
ataupun membaca al-qur’an maka ia akan langsung melantunkan dzikir ataupun
bersholawat sambil ia mendengarkan sholawat atau lantunan ayat suci al-qur’an
yang ada di playlist handphonenya.
Halwa selesai menenangkan hatinya
dengan sholat dan dzikir kepada Allah dan kemudian dia sedikit menekankan
tangannya kedadanya secara perlahan sambil membaca Q.S Al-insyirah sebanyak 7
kali agar hatinya semakin tenang. Ia selalu melakukan hal itu karena dia tahu
bahwa Al-Qur’an adalah sebagai Syifa atau obat yang paling manjur untuk
menyembuhkan semua macam penyakit. Ia juga mengetahui cara itu dari tausyiah
gurunya dulu ketika ia duduk di bangku SMA. Tak lama kemudian, “kring kring
kriiiiiinggggggg……” tiba-tiba handphonenya Halwa berbunyi dan dilihatnya adalah
panggilan dari Trisna. Kemudian “halo assalamu’alaikum..??” Halwa memulainya.
“wa’alaikumsallam.. nak Halwa ibu hanya mau menyampaikan pesan dari Trisna
yang katanya dia minta maaf karena tadi dia tidak mengangkat telephonmu dan
sampai sekarangpun dia juga minta maaf belum bisa menelphonemu karena dia
sedang sibuk dan ini mamanya Trisna” ucap mamanya Trisna dengan nada tenang
dan tanpa basa-basi langsung
menyampaikan amanat dari Trisna, karena Trisna sedang sibuk mengurusi ayahnya
yang sedang kritis di rumah sakit. Tetapi mamanya terdengar begitu tenang oleh
halwa.
“oh iya tante tidak apa-apa, tetapi
saya heran aja tumben Trisna sesibuk itu. Emangnya Trisna sedang sibuk apa
tante??” Tanya Halwa sedikit agak ragu dengan jawaban mamanya Trisna.
Tanpa terdengar jawaban dari mamanya
Trisna tiba-tiba telephonenya terputus dan Halwa malah merasa degdegan. “ya
Allah jangan biarkan aku merasa terhimpit oleh suatu keadaan,karena aku yakin
setiap keadaan pasti berubah.karena sebaik-baiknya ibadah adalah menanti
kemudahan dengan sabar. Dan aku yakin bahwa Allah akan menciptakan sesuatu yang
baru setelah ini semua, karena sesungguhnya setelah kesulitan itu akan muncul
kemudahan” do’a Halwa dalam hati sambil sedikit menunduk dan terduduk lesu.
“Halwa sekarang aku tunggu kamu jam
10 di taman panti asuhan Kasih Bunda” tiba-tiba sms Sutan mendadak ngajak
bertemu. Tanpa berfikiran untuk membalasnya Halwa pun langsung bergegas bersiap-siap
untuk pergi menemui Sutan.
“assalamu’alaikum..” ucap
salam Halwa ketika dia sudah sampai dan bertemu dengan Sutan. Karena kebetulan
jarak dari rumahnya Halwa ke panti
asuhannya hanya membutuhkan waktu setengah jam.
“wa’alaikum sallam, nona
akhirnya kamu datang juga, aku kira kamu gak akan datang soalnya kamu gak jawab
smsku” jawab Sutan.
“iya aku pasti datang kok, soalnya
aku takut ada hal penting. Aku sengaja gak jawab sms kamu soalnya aku langsung
siap-siap begitu dapet sms dari kamu, sekalian aku juga ada perlu sama
kamu” ucap Halwa dengan nada
tergesa-gesa seperti orang kecapean, karena jarak dari pintu depan ke taman
lumayan berjarak apalagi harus melewati beberapa anak tangga.
“iya bagus kalo gitu. Nona kamu
harus dengerin cerita dari aku yang kemaren di sms itu belom beres” ujar Sutan
sambil meletakan tas nya diatas bangku taman.
“iya silahkan, langsung aja Tan.
Soalnya aku juga penasaran dan banyak hal lain juga yang ingin tanyakan ke
kamu” jawab Halwa dengan wajah penuh pertanyaan.
“Halwa cantiiiikk.., maafkan aku
jika selama ini aku selalu menjelek-jelekan Trisna didepan kamu , karena aku
tidak tahu yang sebenarnya. Tapii, sekarang kamu harus dengerin aku dan kamu
harus langsung menemui dia” tegas Sutan berucap sambil menatap Halwa. Kemudian
Sutan melanjutkan pembicaraannya tanpa memberi waktu untuk Halwa berbicara
“kamu harus tahu, sebenarnya Trisna dulu mengkhianati kamu itu karena dia
benar-benar menyayangimu sampai-sampai setelah dia bersama wanita
selingkuhannya pun dia masih selalu mengawasi kamu dibanding wanita itu. Asal
kamu tahu sebenarnya Trisna mengawasi
dan memperhatikanmu tetapi dari kejauhan” ucap Sutan panjang lebar.
“terus..? kamu tahu darimana semua
itu..?? frujooo…” Tanya Halwa dengan santai.
“aku tahu semuanya dari buku ini”
jawab Sutan sambil memperlihatkan buku kecil yang dia temukan kemarin.
“lalu hanya dengan adanya buku ini
kamu langsung begitu saja percaya..??” Tanya kembali Halwa.
“iya., aku cukup percaya dan ikut
merasa bersalah karena aku telah suudhon kepadanya. Dari adanya buku ini aku
sudah percaya dan aku juga yakin bahwa dulu dia melakukan pengkhianatan itu
bukan semata-mata karena keinginannya saja. Tapii.., dia melakukan
perselingkuhan dan menjauhimu karena dia lebih menyayangimu dan menginginkanmu
bahagia dengan masa depanmu. Dia dulu selingkuh karena dia terpaksa, karena
permintaan ayahnya yang sedang kritis dan memintanya untuk segera menikah, dan
dia berinisiatif untuk mencari wanita lain yang sudah siap untuk menikah
dengannya namun dia gagal karena sudah terbukti bahwa wanita yang menjadi
selingkuhannya dulu malah hanya menginginkan hartanya saja padahal wanita itu
sudah memiliki kekasih dan alasan yang paling penting yang harus kamu tahu saat
dia dulu lebih memilih wanita lain dan lalu meninggalkanmu karena dia sangat
mencintaimu dan dia lebih menginginkanmu untuk meraih cita-citamu dulu karena
dia tahu bahwa masa depanmu masih panjang dan karena itulah dia lebih baik
meninggalkanmu dan lebih memilih menyakiti dirinya karena harus berpisah
denganmu daripada dia harus mengorbankan masa depanmu. Tapi sekarang dia
berrniat untuk kembali padamu karena dia yakin bahwa kamulah yang memang
benar-benar cocok untuk dia tapi ayahnya malah sudah memiliki calon istri untuknya
yaitu akan menjodohkan Trisna dengan teman ayahnya dulu” dengan sangat jelas Sutan
menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Trisna saat ini. “ternyata Trisna
adalah sosok lelaki hebat, dia lelaki yang bertanggung jawab, subhanalloh”
sambung Sutan.
“ya Allah” Halwa menangis mendengar
apa yang dikatakan oleh Sutan.
“makanya sekarang aku mohon, kamu
kembali padanya lalu menikahlah dengannya Halwa, aku menyayangimu dan aku ingin
melihat orang yang aku sayangi bahagia kamu adalah sebagian dari hidupku wahai
sahabatku” ucap Sutan dengan nada lembut dan memegang kedua pundaknya Halwa
yang sedang menangis.
“iya makasih Sutan, aku juga
menyayangimu sahabatku sekaligus kakaku. Tapi bagaimana aku bisa kembali pada
Trisna karena sekarang Trisna sudah dijodohkan dengan wanita lain dan begitupun
aku, aku juda sudah dijodohkan dengan lelaki lain oleh ayahku dan kemungkinan
besar aku menyetujuinya dan akan segera melangsungkan pernikahan karena
terdesak oleh situasi dan kondisi keluarganya lelaki yang akan dijodohkan
denganku” Halwa menatap Sutan.
“tapi aku yakin , kalian dapat
bersatu. Aku akan berdo’a untuk kebahagiaan kalian , aku berdo’a untuk
orang-orang yang aku sayangi agar dapat bahagia dan selalu berada dalam
keridhoan Allah, amiin..” ucap semangat Sutan untuk Halwa.
“terus sekarang bagaimana keadaan
Trisna Tan..??” Tanya Halwa singkat.
“tadi aku mencari dia dikampus tapi
tidak ketemu katanya dia sedang pulang ke rumahnya karena kondisi ayahnya
kritis kembali, dan kemungkinan dia juga akan secepatnya menikahi wanita yang
akan dijodohkan dengannya sebelum ayahnya meninggal karena katanya ayahnya
menderita penyakit yang mematikan dan dokter memvonis umur ayahnya tidak akan
lama lagi apalagi sekarang sedang kritis” jawab Sutan. “tapi kamu jangan
menyerah, tetaplah berhusnudhon nona. Aku yakin dia adalah cinta sejatimu dari
Allah untuk kamu” sambung Sutan sambil menyemangati Halwa.
“kalau begitu sekarang kamu antar
aku ke rumah sakit yang sedang ayahnya Trisna dirawat, kamu tahu dimana rumah
sakitnya?” ajak Halwa kepada Sutan dengan semangat dan sambil menghapus air
matanya yang mengering di pipinya.
“iya aku tahu, ayo sekarang juga aku
antar karena kebetulan aku membawa motor” jawab Sutan sambil bergegas pergi
menuju motornya dan menggandeng tangan Halwa agar cepat.
Akhirnya mereka berdua bersama-sama
pergi menuju rumah sakit dan akan menemui Trisna dan juga melihat kondisi
ayahnya Trisna. Sepanjang perjalanan dia terbayang terus dengan wajahnya Trisna
dan juga pengorbanannya yang sangat luar biasa demi orang-orang yang sangat dia
sayangi. Halwa tak menyangka bahwa Trisna akan melakukan hal itu dan dia tak
menyangka bahwa sangat besar kasih sayang dan cintanya Trisna untuk Halwa. Subhanalloh..
“Ya Allah..
Mudahkanlah jalanku agar aku dapat
bersatu dengannya..” ucap lirih Halwa dalam hati, dan akhirnya mereka sampai
dirumah sakit tempat ayahnya Trisna dirawat. Kemudian dia bertemu dengan Trisna
yang sedang duduk diruang tunggu tempat ayahnya dirawat dan disana terlihat dia
sedang bersama seorang wanita setengah baya disampingnya dan itu adalah ibunya
Trisna. Trisna dan ibunya terlihat sangat sedih duduk dibangku dan kemudian Halwa
dan Sutan menghampirinya.
“assalamu’alaikum..
permisi..?” salam Halwa dengan posisi berdiri didepan Trisna dan ibunya. Sambil
menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan ibunya Trisna. Begitupun dengan Sutan
yang sama-sama bersalaman dengan ibunya Trisna.
“wa’alaikumsallam, Halwa Sutan..???”
sambil mengangkat kepalanya yang sedang menunduk Trisna terlihat kaget dengan
kedatangannya Halwa dan Sutan disana karena dia sama sekali tidak
memeberitahunya tentang keberadaannya disana.
Belum sempat menjawab tanya Trisna ,
Sutan pun kembali bertanya dan menyapa “assalamu’alaikum tante, maaf
jika kedatangan kami mengganggu. Gimana kabarnya tante? Dan bagaimana keadaanya
ayah Trisna? Tris, kamu juga gimana kabarnya?” Tanya Sutan tentang kabar dan
keadaan ayahnya Trisna kepada mamanya Trisna yang terlihat lesu. Sutan juga
menyapa Trisna yang terlihat berbeda dan Sutan juga menanyakan keadaan Trisna.
“wa’alaikumsallam, iya tidak
apa-apa nak, tanten justru merasa senang dengan kedatangan kalian kesini yang
jauh-jauh hanya untuk menengok kami disini. Alhamdulillah nak tante baik-baik
saja dan keadaannya ayah Trisna juga insya Allah akan cepat membaik ,
tante minta do’anya dari kalian untuk kelancaran dan kesembuhan ayahnya Trisna
yang mungkin kalian bisa ketahui sendiri bagaimana keadaanya sekarang” mamanya
Trisna sedikit menetesakan air mata.
“Alhamdulillah Tan seperti
yang kamu lihat beginilah keadaan aku dan keluargaku, tapi insya Allah
kami akan baik-baik saja. Kalian ada apa kesini dan kalian tahu darimana aku
ada disini..??” Tanya Trisna kepada Sutan dan juga Halwa.
“iya kami berdo’a semoga kamu dan
keluargamu dalam keadaan baik dan selalu dalam lindungan Allah Tris. Kami
sengaja kesini ingin menemuimu dan ingin melihat kondisi dan keadaan ayah kamu
yang aku denger dari temen-temen kampusmu bilang katanya sedang kritis” jawab Sutan
tenang.
“Iya Tris aku sengaja kesini ingin
bertemu denganmu juga, maafkan kami selama ini” potong Halwa sambil menunduk
sedikit tanpa menatap Trisna.
“yasudah tante mau keluar sebentar
ya nak , tante mau ke mushola sebentar. Tidak apa-apa kalau tante tinggal kalian
disini sebentar bersama Trisna..???” potong kembali ibunya Trisna yang meminta
izin untuk keluar menunaikan sholat dzuhur sebentar.
“oh iya tante silahkan, tidak
apa-apa tante” jawab Sutan singkat.
“yasudah kalau begitu tante tinggal
ya nak” ucap ibunyaa Trisna sambil memegang pundanknya Halwa yang sedang dipinggirnya
dan kemudian ibunya Trisna berjalan menuju arah luar dan meninggalkan mereka.
Sekarang mereka tinggal bertiga dan
kemudian mereka bertiga melanjutkan pembicaraannya. “ iya tidak apa-apa ko.
Terus kalian kesini sengaja ingin bertemu denganaku juga kah??” Tanya kembali Trisna
kepada Halwa dan juga Sutan.
“iya aku dan Sutan sengaja kesini
dan kita sudah tahu semuanya Tris. Aku minta maaf atas kesuudhonanku kepadamu
selama ini” jawab Halwa dengan sedikit malu.
“maksud kamu tahu semuanya tentang
apa? Iya tidak apa-apa justru aku yang seharusnya minta maaf sama kamu karena
udah menyakitimu. Dan sebelum aku nanti benar-benar meninggalkanmu aku mau
minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu. Dan harus kamu tahu juga bahwa
cinn……” belum sempat dia melanjutkan perkataannya tiba-tiba Halwa memotong
pembicaraan Trisna yang belum selesai terucap.
“bahwa kamu cintaaaaa sama aku
kan..???” sambil tersenyum dan sedikit menghibur Halwa mengucapkan kalimat itu
karena dia tahu bahwa Trisna akan mengatakan itu.
“iya benar, bahwa aku cinta sama
kamu tetapi maafkan aku jika nanti aku akan benar-benar meninggalkanmu dan
semuanya kulakukan juga demi kebaikan, kebahagiaan dan masa depanmu. aku akan
segera melangsungkan pernikahan setelah keadaan ayahku kembali stabil dengan
wanita pilihan ayahku nanti. Aku menuruti permintaan ayahku karena aku takut
itu permintaan terakhir ayahku yang harus aku wujudkan. Meskipun aku juga
berharap semoga ayah dapat sembuh total dari sakitnya sekarang” Trisna kembali
melanjutkan pembicaraannya dan kembali menjelaskan kepada Halwa bahwa dia akan
segera menikah dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya.
“iya tidak apa-apa, mungkin ini
sudah jalan takdir kita, dan entah kenapa kita harus sama-sama mengalami
perjodohan. Tapi aku selalu berharap mudah-mudahan ini jadi yang terbaik buat
kita semua. Tak usah bersedih Tris J
aku juga sama mungkin akan segera melangsungkan pernikahan tanpa proses ta’aruf
terlebih dahulu karena keadaanya sangat mendesak” dengan mencoba terus
tersenyum didepan Trisna dan juga Sutan dengan keadaan hati sebenarnya sangat
merasakan sakit dan matanya sudah seakan tak kuat menahan dan membendung air
mata yang ingin keluar, tetapi ia terus mencoba menahannya karena dia tidak
ingin mereka berdua tahu apa yang sedang ia rasakan sebenarnya.
“tapi aku justru memiliki keyakinan
lain , aku yakin dan percaya bahwa ini adalah salah satu lika-liku kisah cinta
kalian yang akhirnya nanti kalian akan dapat kembali menyatu” potong Sutan
mengucapkan apa yang ia pikirkan sambil memegang pundaknya Trisna dan juga Halwa
sambil melemparkan senyuman semangat kepada mereka.
“iya amiin, aku juga tidak berhenti
berharap seperti itu, walau dengan kenyataannya seperti ini. Dan sekarang kita
sama-sama berdo’a aja untuk kebaikan dan keberkahan hidup kita semua” Trisna
kemudian melanjutkan perkataan dari Sutan.
Akhirnya mereka bertiga sama-sama
saling menyemati dan saling berdo’a untuk kebaikan dan keberkahan semuanya.
Halwa, Sutan dan juga Trisna kini telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi
dengan kehidupan mereka. Sungguh kisah yang indah. Mereka berbincang-bincang
dengan keadaan hati masing-masing yang berbeda tetapi mereka bertiga sama-sama
berusaha menampilkan kebahagiaan. Dan tanpa terasa ibunya Trisna sudah kembali
dari luar dan kemudian mereka bertiga kembali mengobrol bersama-sama dengan
ibunya Trisna kembali.
Aku, Dia dan Perjodohan
Kemudian
dua minggu telah berlalu dan terdengar kabar bahwa ayahnya Trisna sudah kembali
pulih dan otomatis Trisna pun akan segera melangsungkan pernikahan beberapa
hari lagi, karena besoknya dia akan persiapan untuk bertemu langsung dengan
wanita yang akan dijodohkan dengannya dan juga untuk memastikan acara nanti
pernikahannya dengan keluarga pihak wanita yang serba mendadak. Mereka semua sekarang
hanya bisa tawakal dan bersabar juga bersyukur. Karena jika mereka melihat
kembali kebawah maka mereka termasuk orang-orang yang beruntung dan harus
banyak-banyak bersyukur karena masih bisa hidup dengan keadaan yang cukup,
keluarga yang masih lengkap juga masih diberi pemikiran yang jernih dan masih
diberi kesempatan untuk bisa memperbaiki hidup. Sedangkan disana masih banyak
orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kita. Maka dari itu perbanyaklah
bersyukur dengan apapun yang kita miliki saat ini. Tetap berhusnudhon kepada
yang Allah berikan J
.
Hari ini adalah hari dimana akan
diadakan pertemuan antaran calon pengantin perempuannya Halwa dan calon
pengantin laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Dan pertemuannya diadakan
disebuah pesantren dekat rumahnya Halwa, yang menentukan dan memilih tempat
untuk pertemuan ini adalah dari pihak calon pengantin wanita yaitu keluarganya Halwa
dan yang memilih pertemuannya dilaksanakan disebuah pesantren adalah Halwa sendiri
karena dia berniat ingin berbagi kebahagiaan bersama anak-anak santriwati dan
santriawan karena kebetulan pesantren itu jarak nya lumayan dekat dengan
rumahnya Halwa dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Acara pertemuannya
bertema islami, dari mulai pakaian , acara penyambutan sampai makanan pun khas
islami dari pesantren. Dan pada saat itu Halwa terlihat sangat cantik dan
berseri, dia berpenampilan syar’I dengan menggunakan gaun berwarna hijau tua
dan dilengkapi dengan kerudung panjang sampai menutupi kedua tangannya Halwa berwarna
hijau muda. Dia sangat terlihat anggun dan terlihat wajah bahagia. Sambil
menunggu kedatangan calon pengantin laki-laki , Halwa beserta keluarganya sudah
bersiap-siap menyambut didepan pintu dan kemudian sudah terlihat mobil berwarna
putih yang menuju pesantren dan sepertinya itu adalah mobil keluarga calon
mempelai pengantin laki-laki. Halwa dan keluargapun semakin bersiap-siap,
tetapi Halwa merasa degdegan sampai akhirnya dia kebelet pipis. Kemudian
setelah benar-benar keluarga calon mempelai laki-laki sudah datang dan sudah
berada di dalam ruangan yang telah disediakan maka suasana berubah menjadi
ramai meskipun calon pengantin laki-laki yang akan dijodohkannya belum
menampakan diri didepan kedua keluarga tetapi obrolan demi obrolan bermunculan
dan meramaikan isi ruangan itu. Dan Halwa belum juga terlihat muncul dari kamar
mandi. Kemudian, akhirnya laki-laki yang mamanya Halwa nantikan telah muncul
dan serentak mama dan ayahnya Halwa kaget karena yang muncul adalah Trisna
temannya Halwa yang beberapa minggu lalu sempat berkunjung ke rumahnya. Dan
tiba-tiba “kamuuuu….???” Dengan wajah terheran-heran mama dan ayahnya Halwa
serentak bersamaan mengucapkan kata kamu yang ditujukan kepada Trisna.
“tanteeee…??? Ommm…???? Kenapa ada
disinin ????” Tanya kembali Trisna kepada ayah dan ibunya Halwa yang baru ia
lihat. Trisna juga sama membalasnya dengan wajah terheran-heran mengapa mereka
ada disana. Lalu “jangan-jangaaannn…” tiba-tiba Trisna berhenti bicara karena
didepannya terlihat ada Halwa baru keluar yang memotong pembicaraannya karena Halwa
juga terlihat kaget saat melihatnya berada disana.
“Trisnaaaa…??? Ko kamu bisa ada
disini…????” sambung lagi Halwa bertanya dengan sama-sama memasang wajah
terheran-heran.
Tibs-tiba, sebelum mereka semua
menjawab semua pertanyaan masing-masing disana terlihat seorang lelaki yaitu Sutan
yang juga langsung terlihat kaget karena begitu dia sampai di pintu dia
langsung melihat jelas wajah Trisna dan Halwa yang berada bersamaan disana lalu
“ kaliaaaannn…???? Koooo…????” sambung Sutan yang kembali melemparkan
pertanyaan yang masih sama.
Suasana berubah menjadi hening saat
semuanya terlihat kaget saat mereka menyadari bahwa mereka saling mengenal. Dan
sekarang telah muncul jawaban dari perkiraan yang dulu pernah Sutan ucapkan
yaitu perkiraan dan keyakinannya yang mengatakan dia yakin bahwa Halwa dan Sutan
akan benar-benar menyatu.
“ya Allah ya Rabbana… subhanalloh…
aku tak mengira semuanya akan berakhir seperti ini, Subhanallohi
walhamdulillahi walaaillaha illallohuallohuakbar” ucap syukur Trisna
setelah melihat dan menyadari bahwa sebenarnya wanita yang selama ini tidak ia
ketahui yang akan dijodohkan dengannya adalah Halwa, Halwa adalah wanita yang
sesungguhnya ia cintai dan harapkan untuk menjadi pendampingnya kini telah
menjadi kenyataan, subhanlloh. Sungguh akhir yang begitu indah dan
sungguh Allah memang benar-benar selalu memberikan yang terbaik untuk
makhluknya yang mencari kemudahan dengan bersabar.
“mungkin ini jawaban do’a kita dari
Allah SWT” Halwa berucap dengan nada lirih sambil teresenyum menatap ea rah Trisna.
“Alhamdulillah ya Allah engkau telah
mengabulkan do’a kami senmua” spontan Sutan pun
menambahkan ucapan syukurnya Halwa kepada Allah.
Setelah selesai saling mengungkapkan
keheranan mereka akhirnya suasana pun berubah semakin ramai dan semakin
menambah kebahagiaan dua keluarga itu. Terutama menambah kebahagiaan bagi Halwa
dan Trisna tentunya. Terbukti, jika memang kita bersabar maka Allah juga akan
mempermudah apa yang kita inginkan. Innalloha maashoobiriin…
“om dan tante sungguh tidak menyangka
bahwa kamu adalaah lelaki yang kami tunggu untuk dijodohkan dengan Halwa” ucap
bahagia ayahnya Halwa sambil menatap dan menunjuk Trisna sambil tersenyum.
“iya om, apalagi saya. Saya sangat
gak menyangka bahwa Halwa lah yang akan menjadi jodoh saya dalam perjodohan
ini. Dan saya sangat merasa bersyukur sekali karena Allah telah mempermudah
kami untuk bersatu. Dan anehnya lagi, ketika saya memutuskan untuk menyetujui
perjodohan ini, saya benar-benar merasa tenang seakan saya sudah diberi tahu
bahwa ternyata saya akan dijodohkan dengan Halwa , subhanalloh.. sungguh
scenario Allah yang luar biasa” sambil tak henti-hentinya Trisna mengucapkan syukur
dia pun terus menjawab setiap perkataan yang dilontarkan oleh orang-orang disana.
“berarti sebelumnya kalian sudah
saling kenal ternyata, tetapi kenapa saya tidak mengetahui sebelumnya yah?”
semua pun tertawa bahagia saat mamanya Trisna mengeluarkan kalimat itu. Ayahnya
Trisna pun terlihat sangat bahagia dan terlihat segar saat itu dan ikut tertawa
bersama dan larut dalam kebahagiaan yang tercipta. Dalam hati ayahnya Trisna
berkata “subhanalloh, ya Alloh terimakasih engkau telah memberikanku
kesempatan untuk masih bisa tersenyum bahagia bersama orang-orang yang aku
sangat sayangi dan terimakasih engkau masih memberiku kesempatan melihat anakku
bahagia menyambut hari bahagianya nanti bersama pendampingnya. Dan jika aku
boleh meminta, aku ingin hidup lebih lama lagi dengan kebahagiaan seperti ini
selalu tercipta dalam setiap detik detak jantungku. Aku ingin hidup lebih lama
lagi dengan mereka semua sampai nanti aku melihat kehadiran seorang cucu.,
amiin ya Allah., hanya kepada-Mulah aku meminta dan hanya kepada-Mulah aku memohon
pertolongan” do’a ayahnya Trisna dalam hati. Keputusan dari pertemuan dua
keluarga hari ini adalah akan berlangsungnya pernikahan antara Halwa dan trisna
yang akan dilaksanakan pada hari jum’at seminggu kemudian. Halwa dan Trisna
terlihata sangat bahagia dengan perjodohan ini, begitupun dengan Sutan yang
juga sangat terlihat bahagia melihat sahabatnya dapat menyatu bersama orang
yang sangat dia cintai dan dia harapkan untuk menjadi imam hidupnya. Allah
memang maha segalanya dan Allah tidak pernah mempersulit apapun yang ia
kehendaki. Subhanalloh…
Ketika acara sudah selesai dan
kesepakatan sudah didapat akhirnya kedua keluarga itu pun harus kembali
berpisah dan pulang ke rumah masing untuk memulai mempersiapkan segala sesuatu
yang akan mereka butuhkan nanti untuk acara resepsi pernikahan anak-anaknya.
Tetapi setelah acara selesai Halwa dan Trisna meminta izin kepada orangtuanya
masing-masing agar mereka berdua berbicara empat mata dilain tempat sebelum
mereka berpisah untuk pulang. Orangtua merekapun mengizinkan tetapi diberi
waktu agar mereka tidak terlalu lama. Kemudian Halwa dan Trisna pun bergegas
keluar menuju aula mesjid dan kemudian di ikuti oleh Sutan dari belakang mereka
sambil melihat kebahagiaan mereka berdua.
“Alhamdulillah.., aku sangat
bahagia hari ini Tris” Halwa menatap langit dari pinggir aula mesjid sambil
berdiri.
“ begitupun aku, aku sungguh sangat
bahagia ternyata kamulah jodohku dan kamu cinta sejatiku yang akan menemani
sepanjang hariku dengan kebahagiaan yang diridhoi Allah” ucap Trisna menyambung
perkataannya Halwa.
Kemudian dari belakang terdengar
suara “Alhamdulillah, tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Allah
untuk kebahagiaan yang tiada terkira dihari ini dan semoga akan terus seperti
ini. Aku turut bahagia melihat kalian berdua menyatu wahai para sahabatku, do’a
kalian, do’aku dan do’a kita semua telah terkabul. Aku hanya bisa memberikan
do’a yang terbaik buat kalian berdua dan buat kita semua, semoga kalian selalu
dalam kebaikan, perlindungan, dan keridhoan Allah dan semoga semuanya menjadi
keberkahan buat kita semuanya. Amiin… aku titip sama kamu Tris, jaga sahabatku,
jaga dia lahir bathin, sayangi dia kasihi dia seutuhnya. Jangan kamu pernah
kecewakan dia, tegur dia jika dia salah, ingatkan dia jika dia lupa dan tolong
bombing dia sahabatku menjadi wanita muslimah sejati yang selalu menjalankan
perintah Allah dan menjauhi larangannya. Aku hanya bisa menitipkannya padamu.
Dia adalah merupakan sebagian dari hidupku” pesan Sutan kepada Trisna sambil
memegang pundaknya Trisna dan menatap keatas langit dari pinggir aula.
“insya Allah aku akan
melaksanakan apa yang kamu minta dan semua yang kamu minta juga merupakan
tanggung jawabku sebagai calon imamnya yang harus ditepati” jawab Trisna sambil
kembali memegang dan merangkul Sutan.
“subhanlloh, kalian memang
malaikat ketiga ku setelah orangtuaku” Halwa tersenyum dan meneteskan setitik
air mata bahagia. Mereka bertiga masih dalam posisi berdiri dipinggir aula
mesjid sambil menatap langit yang saat itu terlihat sangat cerah seakan ikut
menyambut dan mengiringi kebahagiaan mereka semua.
Ketika Akad Terucap, Bahagiaku Semakin
Tercipta
Hari yang dinantipun telah tiba
setelah seminggu berlalu akhirnya penantianpun telah berakhir, hari ini adalah
hari dimana mereka berdua akan benar-benar menjemput kebahagiaan mereka dengan
diiringi rasa degdegan karena akan menyambut seuatu momen dimana momen ini
merupakan momen terindah yang insya Allah hanya akan terjadi sekali seumur hidup mereka, amiin.
Keluarganya Halwa telah mempersiapkan tempat untuk acara resepsi dan juga akad
nikah yang akan dilaksanakan hari ini. Tempat yang Halwa pilih adalah mesjid
agung terdekat yang ada di daerahnya yaitu mesjid agung Al-istiqomah. Semuanya
terlihat bahagia saat itu, keluarga Halwa sebagai penerima pun sangat terlihat bahagia
dan begitupun keluarganya Trisna yang juga sama-sama telah mempersiapkan
segalanya. Namun, sebelum acara dimulai ayah dan mamanya Halwa memanggil dan
mengajak Halwa masuk kedalam ruangan khusus untuk nanti berkumpul setelah akad
selesai untuk memberikan pesan terakhir kepada
anaknya yang akan segera diambil oleh imamnya. Disana mereka berbicara dan
saling mengungkapkan perasaan mereka dan juga memberikan pesan-pesan mereka.
“nak, ayah sangat bahagia dihari ini
dengan melihat kamu sekarang akan menjadi seorang istri untuk suamimu nanti,
semoga kamu selalu dalam lindungan Allah dan semoga menjadi keberkahan buat
semuanya, ayah selalu berdo’a yang terbaik buat kamu nak. Kamu adalah anak
satu-satunya ayah, kau harapan kami. Dulu kami merasakan kebahagiaan yang
sama yang pertama kali muncul yaitu
ketika kami menyambut kelahiranmu di dunia ini dan kebahagiaan kedua telah
tercipta dihari ini dimana kami harus menyerahkanmu kepada imammu setelah dulu
kami bersusah payah membesarkanmu sampai sekarang waktunya kamu harus diambil dan
menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri untuk suamimu. Maafkan ayah dan
ibu jika selama ini ayah dan ibu tidak bisa memberikan yang terbaik untuk
hidupmu, ayah dan ibu tidak bisa selalu memberikan kebahagiaan untukmu, ayah
dan ibu juga tidak bisa memenuhi semua apa yang kamu inginkan selama kamu
bersama kami” ucap ayah sambil menangis dan memeluk erat Halwa yang akan segera
diserahkan kepada calon imammnya.
“ayaaahhh ibuuu,… jangan berbicara
seperti itu, Halwa cukup merasakan bahagia yang sangat luar biasa selama Halwa
hidup bersama kalian, kalian anugerah terindah buat Halwa, tanpa kalian Halwa
tidak akan pernah ada. Justru Halwa yang seharusnya berbicara seperti itu, Halwa
lah yang seharusnya meminta maaf jika selama ini Halwa belum bisa jadi yang
terbaik untuk kalian, Halwa belum bisa membalas semua kebaikan ayah dan ibu
selama Halwa hidup, Halwa sayang dan cinta sama ayah dan ibu kalian takkan
terganti dan cinta kasih kalian tiada tertandingin” sambung Halwa halwa sambil
menangis terisak dalam pelukan ayah dan ibunya.
“Halwa sayankkk…, jadilah istri yang
berbakti dan taat kepada suamimu nanti, jangan pernah membuat amarah nya
keluar, bahagiakanlah suamimu lahir dan bathin. Dan semoga kalian jadi keluarga
yang sakinah mawadah dan warahmah, hanya do’a yang terbaik yang dapat mama
berikan untukmu anakku tersayang” sambung mama sambil menangis dan menatap Halwa.
Dan suasana saat itu berubah sangat dramatis dan penuh dengan tangis
kebahagiaan. Dan tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu ruangan tersebut,
dan dia adalah Sutan sang sahabat yang selalu setia kepada Halwa sejak mereka
duduk dibangku sekolah dasar hingga sekarang salah satu diantara mereka akan
melaksanakan pernikahan.
“assalamu’alaikuum,
permisi.., Halwa? Om ? tante ? apakah kalian yang sedang ada didalam ?” sambil
mengetuk pintu Sutan bertanya.
“wa’alaikumsallam, iya Tan
ini kami. Ada apa..?? sebentar lagi kami akan keluar” jawab ayahnya Halwa sambil mereka
membersihkan dan mengeringkan air mata yang bercucuran diwajah mereka dan kemudian
mereka keluar bersamaan.
“oh iya maaf om tante dan Halwa,
sekarang sudah waktunya siap-siap, calon pengantin laki-laki sedang diperjalanan
menuju kesini” ujar Sutan memberi tahu bahwa kedatangan calon mempelai
laki-laki sedang meuju kesini. Ketika mama dan ayahnya Halwa meninggalkan Halwa
bersama Sutan kedepan , kemudian Halwa dan Sutan pun kembali berbicara empat
mata diruangan mak up sambil memperbaiki make up Halwa yang sedikit luntur
bekas terkena air mata dan goresan-goresan tisu.
“Halwa , selamat menempuh hidup
baru. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Ini
yang kamu cita-citakan dan selalu terucap dalam setiap do’amu kini telah
terwujud dengan mudah. Dihari yang sangat berbahagia ini aku tidak bisa
memberikan apapun yang berharga untukmu selain do’a yang terbaik untuk kalian.
Maafkan aku jika selama kamu mengenalku aku belum bisa memberikan sesuatu yang
kamu inginkan yang kamu harapkan dan belum bisa memberikan yang terbaik untuk
hidup kamu selama kamu kenal denganku. Kamu sahabatku, kamu adikku, kamu
keluargaku, dan kamu separuh dari hidupku. Aku menyayangi dan kasih sayangku
kepadamu akan terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku akan menitipkan kamu
sebagai sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku kepada Trisna agar menjagamu
dan membimbingmu ke jalan yang lurus dan diridhoi Allah. Banyak kata yang ingin
aku katakan tapi tidak mungkin semuanya harus aku ungkapkan saat ini, yang
pasti aku menyayangi dan aku sangat merasakan kebahagiaanmu saat ini, I love
you my best friend Halwa si ulat hijau” Sutan berucap dengan mata berkaca-kaca
karena merasa sangat sedih dan seakan akan kehilangan seseorang yang dia
sayangi dalam hidupnya selama ini.
Halwa kembali menangis mendengar
setiap kata demi kata yang terucap dari mulutnya Sutan. Dia seakan akan pergi
dan meninggalkan orang-orang yang sangat dia sayang dalam hidupnya. Sutan
memberikan helai demi helai tissue ketangannya Halwa dan sesekali dia ikut
membersihkan dan mengeringkan air matanya Halwa yang terus bercucur dari
matanya.
“terimakasih wahai sahabatku
prustasi jomblo, aku gak tahu harus bilang apa kepadamu. Kamu yang selalu
melindungiku disaat aku jauh dari orangtuaku dari orang yang menyayangiku, kamu
selalu hadir disetiap suka dan duka ku. Tapi jika suatu saat nanti aku
membutuhkanmu maka kamu jangan pernah bosen dan jangan pernah mengatakan tidak
mau ketika aku menginginkanmu” sambil terus bercucuran air mata Halwa terus
berucap.
Akhirnya setelah mereka selesai
berucap, kini sudah waktunya mereka untuk segera berada ditempat akad nikah
karena sang mempelai pria sudah sampai dan menunggu keluarnya mempelai wanita
dari ruangan. Pada momen ini Halwa sangat terlihat cantik, anggun dan bercahaya
dengan mengenakan kebaya berwarna putih dengan make up yang sederhana juga
dengan memakai kerudung yang syar’i sampai menutupi kedua tangannya. Halwa
terlihat tampil dengan sederhana dan lebih agamis saat itu. Trisna terlihat
sangat terpukau dengan Halwa dihari ini dan Trisna begitu terlihat sangat
bahagia ketika dia memandang Halwa yang sedikit demi sedikit berjalan menuju
tempat duduk yang telah disediakan dan tepat disebelahnya Halwa berhenti
kemudian Halwa menunduk sambil tersenyum bahagia tanpa dia meilirik wajah Trisna,
karena dia tahu setelah ini akan banyak waktu untuk dia bertatap muka bersama Trisna
yang sudah resmi menjadi pendamping hidupnya. Kemudian akan nikahpun akan segera
dilaksanakan dan Trisna sangat terlihat siap.. dari kejauhan Sutan memandang
mereka berdua , memandang sahabatnya yang terlihat sangat bahagia sampai-sampai
diapun terlihat berkaca-kaca melihat kebahagiaan sahabatnya. Mamanya Sutan juga
hadir menemani anaknya menghadiri acara itu. Mamanya Halwa meneteskan air mata
dengan pandangan terus tertuju kepada anaknya. Begitupun dengan mamanya Trisna yang
sangat merasa bahagia dan juga merasakan sedih karena mamanya Trisna memikirkan
kondisi ayahnya Trisna. Tetapi, Alhamdulillah sekarang ayahnya Trisna
masih diberi kesempatan menghadiri dan melihat pernikahan anaknya dan dia sudah
sangat pasrah jikalau nanti setelah dia selesai menikahkan anaknya dia harus
pergi meninggalkan semuanya. Dua keluarga kini sedang dilanda kebahagiaan. Dan
sekarang sudah waktunya pengucapan akad nikah dimulai.
“bismillahhirrohmaanirrohim…,
sebelum kita mulai, saya mau Tanya dulu sama mempelai prianya apakah sudah siap
atau belum..???” Tanya pak penghulu sambil nada sedikit bercanda.
“bismillahhirrohmaanirrohim,
insya Allah saya sudah siap pak” jawab Trisna dengan lantang.
“Alhamdulillah, baiklah kalau
begitu kita mulai saja sekarang” ucap pak penghulu sambil meraih tangannya Trisna
kemudia mereka berpegangan tangan seperti layaknya orang lain ketika
melaksanakan akad.
“bismillahhirrohmaanirrohim,
saya nikahkan dan kawinkan Trisna Sukardi bin Kardi dengan Halwa Syauqina Arrohman
binti Ali Arrohman dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai” ucap
pak penghulu mengucapkan walimatunnikah.
“saya terima nikah dan kawinnya
Halwa Syauqina Arrohman binti Kardi dengan maskawin seperangkat alat sholat
tunai” jawab Trisna dengan lantang dan lancar.
“bagaimana saksi..?? syah..???”
ketika akad sudah terucap pak penghulu pun kembali bertanya kepada saksi untuk
menentukan syah atau tidaknya.
“bismillahhirrohmaanirrohim, syah…”
jawab saksi dengan lantang dan tersenyum.
“Alhamdulillah…” serentak
ucapan syukur terucap dari semua orang yang menghadiri acara pernikahan Halwa
dan Trisna. Alhamdulillah semuanya telah dilaksanakan dengan lancar
dengan segala kemudahan. Kemudian Halwa langsung mencium tangan suaminya dan
begitupun Trisna dengan senang hati mencium kembali keningnya Halwa didepan
semua orang yang saat itu hadir. Kebahagiaan pun semakin tercipta. “barakallohufii
umriik” ucapan selamat dan do’a dari penghulu kepda mereka berdua. Kemudian
setelah semuanya selesai akhirnya acara akad nikah diakhiri dengan do’a tutup
yang dilantunkan oleh pengurus pondok. Lalu semuanya bubar dan langsung
dipersilahkan untuk menikmati hidangan sederhana yang telah disediakan.
Halwa bersama mama dan ayahnya juga
Trisna bersama mama dan ayahnya berkumpul disuatu ruangan yang sengaja telah
dipersiapkan untuk mereka berkumpul setelah acara akad selesai. Ditambah dengan
kehadirannya Sutan sang sahabat yang takan pernah kehilangan momen terindah
saat itu. Mereka berkumpul dan kemudian saling mengucapkan selamat kepada kedua
anak tercintanya. Begitupun dengan Sutan yang juga ikut hadir dan berkumpul
dengan mereka , Sutan sudah bagaikan bagian dari kedua keluarga itu sehingga
disaat ada momen apapun yang khusus apalagi umum Sutan selalu ada dan terlihat hadir.
“Trisna, mulai sekarang ayah
serahkan Halwa kepadamu seutuhnya. Ayah titipkan sama kamu, tolong jaga dia,
sayangi dia, kasihi dia, lindungi dia, bimbing dia ke jalan yang benar” ayahnya
Halwa halwa berucap sambil memegang pundaknya Trisna yang sedang bergandengan
tangan dengan Halwa.
“iya om, insya Allah saya
akan melaksanakan semua yang om minta yang kalian semua minta, karena mulai
sekarang Halwa sudah menjadi tanggung jawab saya” jawab Trisna sambil tersenyum
melirik kewajah Halwa.
“Trisna, ayah juga menitipkan Halwa
sama seperti apa yang ayah Halwa katakan. Kamu harus bisa jadi kebanggaan kami
semua nak. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab terhadap istrimu. Jangan
coba-coba membuatnya bersedih’ sambung ayahnya Trisna.
“siap yah, aku pasti bertanggung
jawab dan akan melaksanakan semua amanat” jawab Trisna kembali.
“Halwa tidak menyangka bahwa kita
akan menjadi sebuah keluarga, sebenarnya jika ayah dan mama semua ingin tahu,
bahwa kami sebelumnya memang sudah menjalin hubungan, kemudian hubungan kami
dulu sedikit terkena musibah yang sekarang menjadi anugerah. Musibah yang
menimpa hubungan kami dulu adalah adanya perjodohan ini, dulu ketika kami
pacaran beberapa bulan yang lalu setelah ada kabar bahwa Trisna harus segera
menikah dan waktu itu hubungan kita sedang baik-baik saja tetapi dengan tiba-tiba
dan tanpa alasan apapun Trisna malah menjauhi Halwa lalu dia pergi bersama
wanita lain dengan tujuan yang waktu itu menurut halwa dan Sutan bahwa dia
jahat dan pengkhianat. Tetapi setelah kami tahu alasan yang sebenarnya mengapa Trisna
pergi bersama wanita lain dan meninggalkanku karena dia justru sangat mencintai
Halwa dan menyayangi Halwa dengan benar-benar. Sehingga dia lebih baik
mengorbankan perasaannya dan mengorbankan cita-citanya untuk menunggu Halwa
lulus kuliah lalu menikah. Tetapi takdir berkata lain, dan Allahpun memudahkan
apa yang menjadi cita-cita dan selalu dalam do’a kami. Ternyata dengan mudahnya
Allah mempertemukan kami kembali dan menyatukan kami yang justru tidak kami
sangka-sangka akan seperti ini, subhanalloh sungguh scenario Allah luar
biasa. Dulu ketika kami mengetahui bahwa kami masing-masing akan dijodohkan
dengan pilihan orangtua kami masing-masing , Trisna sempat mengajakku kembali
untuk bersatu dan memeperbaiki semuanya dan dengan serius Trisna mengajak Halwa
untuk menikah, tetapi saat itu Halwa menolak karena Halwa akan menyetujui
perjodohan yang mama dan ayah tawarkan. Dan pada saat itu juga sebenarnya Halwa
juga tidak tega dan tidak mau sebenarnya
jika harus melihat Trisna bersama wanita lain dan tidak mau kalau Halwa harus
menikah dengan laki-laki lain, tetapi waktu itu juga kami berdua pasrah dan
tawakal dengan semua yang akan terjadi. Dan buktinya kesabaran kami berbuah
kebahagiaan. Alhamdulillah” ucap Halwa panjang lebar tentang kisahnya
dulu sebeum menikah bersama Trisna.
“Ekhem-ekhemmm…..” kemudian
tiba-tiba Sutan pura-pura batuk dan tersenyum becanda bersama.
“hehe…” Trisna tersenyum sambil
mendekap Halwa. “iya begitulah lika-liku hubungan kita ma, untungnya saat itu
ada Sutan yang selalu setia melindungi Halwa ketika aku jauh dari dia” hehe… Trisna
melempar sedikit senyuman.
“subhanalloh, kalian ternyata
nakal yah, bukannya kuliah tapi malah pacaran dibelakang pengawasan kita ya
yah” ucap canda mamanya Halwa sambil mengelus kepala Halwa.
“pokonya jadikan semua yang telah
lalu sebagai cerminan hidup kita sekarang dan kedepannya. Ambil dan tingkatkan
semua hal positive nya, tapi tinggalkan dan lupakan semua hal negativenya yang
pernah terjadi diantara kalian dulu. Dan ayah juga mau berpesan buat semua yang
ada disini jika suatu saat nanti saya benar-benar pergi saya ingin menitipkan
sebuah anugerah terindah dari yang maha kuasa untuk saya yaitu istri saya
tercinta, saya titipkan istri saya satu-satunya kepada kalian jika nanti saya
sudah tidak bisa lagi berada disampingnya dan melindunginya. Temani dia disaat
dia butuh teman, sayangi dia seperti kalian menyayangiku dan aku menyayangi
kalian, ajaklah dia ketika ia sediri dan bantulah dia ketika dia membutuhkan,
lindungi dia istri saya tercinta jika dia sedang membutuhkan perlindungan. Saya
hanya punya kalian semua yang ada disini dan oleh karena itulah saya
menitipkannnya pada kalian semua yang berada disini. Jangan sampai dia
meneteskan air mata kesedihan yah, dan antar dia kerumah terakhir saya nanti
jika dia merindukan saya” ucap ayahnya Trisna yang sangat membuat suasana
menjadi kembali penuh dengan air mata, terutama mamanya Trisna yang menangis
sampai terengah-engah didalam pelukan dan dekapan suaminya. Kemudian Trisnapun
mendekati ayahnya dan kemudian memeluknya erat sambil menangis dan hebatnya ketika
semua yang ada disana hampir menangis semua , ayahnya Trisna sangat tegar
sekali, dia justru malah memberi senyuman dan semangat pada semua yang ada
disana dan ayahnya Trisna sangat hebat ketika terus mencoba tersenyum dan tidak
menampakan kesedihannya yang sangat menyakitkan. Kemudian “ saya juga berpesan
untuk semuanya, jangan pernah sia-siakan waktu kalian. Gunakanlah waktu kalian
sebaik mungkin dan teruslah berusaha untuk meraih ridho Allah, jangan berhenti
bersyukur dan jauhilah keluhan dan putus asa. Perbanyaklah ibadah,berdo’a,
berusaha , dan bersyukur, jangan pernah bersedih dan menyesali apa yang telah
terjadi sedang terjadi dan yang akan terjadi dalam hidup kalian, jangan
sia-siakan apa yang kalian miliki karena Allah lebih tahu apa yang terbaik
untuk kalian semua” sambung ayahnya Trisna sambil terus mengelus kepala
istrinya yang terus menangis dalam dekapannya. Ucapan ayahnya Trisna cukup
menyayat hati orang-orang yang menyayanginya terutama bagi istrinya dan Trisna.
“ayaaahhh… berhenti berbicara
seperti itu. Ayah akan hidup lebih lama lagi bersama kami dengan penuh
kebahagiaan dan Trisna yakin bahwa ayah akan segera sembuh. Ayah jangan
berbicara seperti itu lagi, kami semua menyayangi ayah” ucap Trisna sambil
terisak dengan posisi menunduk ke arah kaki ayahnya tetapi ayahnya langsung
merangkulnya dan memeluknya.
“Trisnaa..masya Allah” ucap Halwa
memanggil Trisna sambil mencoba merangkulnya dari tangisnya.
“ma, jika suatu saat nanti ayah
sudah tidak bisa lagi berada disampingmu menemanimu dan melindungimu, mama
tidak boleh bersedih ya, ayah akan selalu ada buat mama walau mungkin nanti
posisinya berbeda, mama harus buktiin cinta mama kepada ayah dengan terus
berdo’a , mama gak boleh lemah, mama harus kuat, ayah yakin mama bisa tanpa
ayah, jika nanti mama merindukan ayah, mama tinggal temui rumah terakhir ayah,
mama do’akan yang terbaik buat semuanya dan mama do’akan ayah agar ayah bisa
berada ditempat paling mulia disisi Allah. Mama jangan merasa kesepian yah,
karena masih banyak orang-orang disekitar mama seperti mereka yang juga lebih
menyayangi mama. Masih ada Trisna yang akan menggantikan ayah buat mama. I love
you istriku tercinta” ucap ayahnya Trisna sambil mengelus dan sesekali mengecup
kening mamanya didepan kedua orangtua Halwa dan didepan Trisna juga Halwa.
Mamanya Trisna tidak berkata apapun saat itu, dia hanya dapat mengeluarkan air
mata.
Hidup dan mati setiap manusia telah
ditentukan oleh Allah, dan tiada yang tahu kapan dia akan dihidupkan dan kapan
dia akan kembali dipanggil. Hidup dan mati merupakan sebuah misteri, kematian
itu pasti bagi setiap makhluk Allah yang bernyawa, tidak ada yang dapat
menghindar dari kematian jika sudah waktunya, tak ada juga yang dapat meminta
kematian jika memang belum waktunya. Kita hanya tinggal mempersiapkan amal
sholeh sebanyak mungkin agar jika suatu nanti kita sudah waktunya dipanggil
kapanpun itu maka kita sudah memiliki bekal. Isilah setiap waktu luangmu dengan
berbuat, karena orang-orang yang banyak menganggur dalam hidup ini biasanya
akan menjadi penebar isu dan desas desus yang tak bermanfaat. Itu karena akal
dan pikiran mereka selalu melayang dayang tak tahu arah. Dan saat yang paling
berbahaya bagi akal adalah manakala pemiliknya menganggur dan tak berbuat
apa-apa. Orang seperti itu, ibarat mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi
tanpa sopir dan akan mudah oleng ke kanan dan ke kiri. Bila pada suatu hari
kita mendapatkan diri kita menganggur tanpa kegiatan , maka bersiaplah untuk
bersedih, gundah dan cemas. Sebab dalam keadaan kosong itulah pikiran kita akan
menerawang ke mana-mana. Mulai dari mengingat kegelapan masa lalu, menyesali
kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu
akan kita alami. Dan itu membuat akal dan pikiran kita tak terkendali dan mudah
lepas control. Maka dari itu, marilah kita mengerjakan amalan-amalan yang
bermanfaat itu lebih baik daripada terlarut dalam kekosongan yang membinasakan.
Singkatnya, membiarkan diri dalam kekosongan itu sama halnya dengan bunuh diri
dan merusak tubuh dengan narkoba. Waktu kosong itu tak ubahnya dengan siksaan
halus ala penjara Cina. Meletakkan si narapidana dibawah pipa air yang hanya
dapat meneteskan air satu tetes setiap menit selama bertahun-tahun. Dan dalam
masa penantian panjang itulah biasanya seorang narapidana akan menjadi stress
dan gila. Berhenti dari kesibukan itu adalah kelengahan dan waktu kosong adalah
pencuri yang culas. Adapun akal kita tak lain merupakan mangsa empuk yang siap
dicabik-cabik oleh ganasnya terkaman kedua hal tadi, kelengahan dan si pencuri.
Karena itu bangkitlah sekarang juga, kerjakan sholat, baca buku, baca al-qur’an, mengkaji, bertasbih, menulis, merapikan meja kerja, merapikan
kamar, atau berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan oranglain
untuk mengusir kekosogan itu. Bunuhlah setiap waktu kosong dengan pisau
kesibukan, dengan cara itu doctor-doctor di dunia akan berani menjamin bahwa
kita telah mencapai 50% dari kebahagiaan. Lihatlah para petani, nelayan dan
para kuli bangunan . mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti burung
di alam bebas. Mereka tidak seperti kita yang tidur diatas ranjang empuk tetapi
selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan.
“Tiada suatu bencana yang menimpa
dibumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan dia telah tertulis dalam
kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadid : 22).
Tinta pena telah mengering,
lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah
diputuskan dan takdir telah ditetapkan. “katakanlah: sekali-kali tidak akan
menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami” (QS.
At-Taubah: 51. Apa yang membuat kita benar , maka tak akan membuat kita salah, dan
sebaliknya apa yang membuat kita salah maka tidak akan membuat kita benar. Jika
keyakinan tersebut tertanam kuat pada
jiwa kita dan kukuh bersemayam dalam hati kita maka setiap bencana akan menjadi
karunia, setiap ujian menjadi anugerah dan setiap peristiwa menjadi penghargaan
dan pahala. Karena dalam suatu hadits juga dikatakan “barangsiapa yang oleh
Allah dikehendaki menjadi baik maka ia akan diuji oleh-Nya”. Oleh karena itu,
jangan pernah merasa gundah dan bersedih dikarenakan suatu penyakit atau kematian
yang semakin dekat. Betapapun sesungguhnya sang maha pencipta telah menentukan
segala sesuatunya dan takdir telah bicara. Usaha dan upaya dapat sedemikian
rupa, tetapi hak untuk menentukan tetap mutlak milik Allah . pahala telah
tercapai dan dosa telah terhapus. Maka berbahagialah orang-orang yang tertimpa
musibah atas kesabaran dan kerelaan mereka terhadap yang maha mengambil, maha
pemberi, maha mengekang lagi maha lapang. Syaraf-syaraf kita akan tetap tegang,
kegundahan jiwa kita tak akan reda dan kecemasan di dada kita takan pernah
sirna sebelum kita benar-benar beriman terhadap qadha dan qadhar. Tinta pena
telah mengering bersamaan dengan semua hal yang akan kita temui. Maka jangan
biarkan diri kita untuk larut dalam kesedihan, jangan mengira diri kita sanggup
melakukan segala upaya untuk menahan tembok yang akan runtuh , membendung air
yang akan meluap, menahan angin agar tak bertiup atau memelihara kaca agar tak
pecah. Karena apa yang telah digariskan akan terjadi, setiap ketentuan akan
berjalan dan semua keputusan akan terlaksana. Kita harus menyerahkan semua hal
kepada takdir Allah agar tidak ditindas oleh bala tentara kebencian, penyesalan
dan kebinasaan. Dan percayalah dengan kebenaran qadha sebelum kita dilanda
banjir penyesalan, dengan begitu jiwa kita akan tetap tenang menjalani segala
daya upaya dan cara yang memang harus ditempuh. Dan bila kemudian terjadi
hal-hal yang tidak kita inginkan maka itupun merupakan bagian dari ketentuan
yang memang harus terjadi. Jangan pula pernah berandai “seandainya aku
melakukan seperti ini, niscaya akan begini dan begini jadinya” tapi katakanlah
“Allah telah menakdirkan, dan apa yang dia kehendaki akan dia lakukan”.
Bahagiaku
Tercipta, Sedih Menimpa
Alhamdulillah, ketika semua telah
terwujud akhirnya Halwa dan Trisna sekarang hidup bahagia bersama menjalani
hidup. Setelah kebahagiaan mulai datang menghampiri mereka tetapi kesedihan
juga telah menunggu mereka. Kini ayahnya Trisna mulai kembali merasakan
penyakit yang kambuh kembali. Hari ini adalah hari pertma ayahnya Trisna
dirawat kembali di rumah sakit dan kali ini penyakit ayahnya Trisna kambuh
tidak seperti biasanya. Sekarang Trisna, mamanya dan juga ditemani dengan
kehadirannya Halwa yang sedang menunggu ayahnya didepan ruangan UGD. Mamanya
Trisna terlihat sangat khawatir tidak seperti ketika dulu mereka bertemu
sebelum menikah di rumah sakit itu. Mamanya kini terlihat mondar mandir sambil
tak henti-hentinya melafalkan do’a untuk kelancaran dan kesembuhan suaminya.
“mama, mama jangan terlau khawatir.
Mama mendingan tenang dan terus berdo’a agar ayah baik-baik aja dan dilancarkan
segala sesuatunya. Mama mendingan istirahat aja dulu, ntar mama sakit. Sekalian
ini makanan bawa Halwa dimakan ya ma soalnya kan mama belum makan dari tadi”
ucap halwa kepada mamanya Trisna yang terlihat sangat tidak tenang dan Halwapun
merangkul mama untuk duduk sejenak bersamanya.
“iya ma, mama duduk aja. Kita tunggu
hasilnya nanti ketika doctor sudah selesai, kita pasrahkan saja semuanya pada
yang maha kuasa ma.’ Sambung Trisna sambil menghampiri mama yang sedang berdiri
didepan pintu ruang UGD.
Tanpa ada jawaban sepatah katapun
dari mamanya, mamanya langsung menuruti apa yang Halwa dan Trisna katakana.
Mamanya kemudian duduk dipinggir hakwa dan bersandar kepada pundaknya halwa
sambil menangis mencucurkan air mata tanpa suara. Sambil terus melafalkan
dzikir dan memegang tasbih mamanya Trisna terus menangis.
“mama sayaank, please donk ma Trisna
mohon. Trisna sayang mama dan Trisna masih membutuhkan mama. Sudah cukup sekarang
ayah yang sedang merasakan sakit, tapi tolong mama jangan sakit dan mama harus
kuat mama jangan terus seperti ini. Trisna tidak mau kalau Trisna harus melihat
mama seperti ini terus. Trisna sayang mama” Trisna memeluk dan mencium mamanya
yang sedang dalam sandaran istrinya.
Tiba-tiba dokter yang menangani
ayahnya Trisna keluar dari ruangan UGD tempat dan kemudian memberi kabar bahwa
penyakit ayahnya sudah menyebar ke seluruh tubuh dan hasil akhirnya akan
diberikan besok, sekarang ayahnya sudah tak sadarkan diri sama sekali dan
dokterpun memberi pesan agar mereka semua tetap tegar dan tawakal dengan apa
yang akan terjadi besok. Karena dokter telah berusaha semaksimal mungkin untuk
menyembuhkan dan menyelamatkan ayahnya, tetapi Allah berkata lain. Tiada yang
abadi di dunia ini, semuanya milik Allah. Mereka semua malam ini memilih untuk menginap
dirumah sakit bersama-sama menemani ayah.
Esok haripun telah datang, dan
sekarang tinggal menunggu kabar dari dokter mengenai kondisi ayahnya Trisna.
Lalu tiba-tiba salah satu doctor yang baru keluar dari ruangan tempat ayah dirawat
mengatakan bahwa penyakit ayah semakin parah dan sudah tak dapat disembuhkan.
Pihak kedokteran di rumah sakit tersebut sudah menyatakan tidak sanggup untuk
menangani penyakit ayahnya dan para doctor yang telah menangani pnyakit ayahnya
oun menyarankan untuk segera menghabiskan waktu bersama keluarga dan lebih baik
dibawa pulang ke rumah karena situasi dan kondisinya sudah tidak memungkinkan
meskipun sebenarnya kita tidak boleh putus asa dan tetap yakin bahwa segala
sesuatu itu ada dalam kendalinya yang maha kuasa. Tetapi, apa boleh buat jika memang semuanya
sudah seperti itu maka lebih baik kita pasrahkan saja semuanya kepada Allah.
Dan pihak keluarga pun menyetujui untuk agar ayahnya kembali ke rumah dan
menikmati setiap harinya yang masih tersisa dengan keluarga bersama-sama.
“terimakasih doctor atas segalanya
yang telah doctor lakukan da perjuangkan demi kesembuhan ayah saya dan saya
juga ucapkan banyak-banyak terimakasih karena doctor telah dan selalu
memberikan yang terbaik kepada ayah saya selama ayah saya dirawat disini” ucap
terimakasih Trisna kepada semua doctor yang ada di ruangan ayah yang telah
membantunya selama ini. Trisna sudah pasrah dengan apapun yang terjadi , dia
siap dengan semua resikonya dan bahkan dengan kepergian ayahnya pun dia sudah
siap dan mengikhlaskan . tetapi walau begitu, Trisna tak pernah henti-hentinya
untuk terus berdo’a untuk agar ayahnya disembuhka n kembali dari penyakitnya
yang akan mematikannya. Dibalik kesedihannya , Trisna juga maish bersyukur atas
segala sesuatu yang sekarang sedang terjadi padanya dan keluarganya karena
mereka masih dapat merasakan kebersamaan bersama ayahnya dalam waktu yang
mungkin sangat singkat.
“sama-sama nak, itu sudah menjadi
kewajiban dan tanggung jawab kami semua doctor yang ada disini, jangan pernah
menyerah, jangan berputus asa dan jangan pernah berhenti berdo’a meminta dan
melakukan yang terbaik kepada Allah. Nothing impossible in the world,
siapa tahu setelah kejadian ini akan datang keajaiban yang tak disangka-sangka,
jangan berhenti bersyukur kepada Allah. Allah selalu memberi kemudahan untuk
semua makhluknya dan Allah tidak pernah mempersulit segala sesuatunya” pesan
dan semangat dari salah satu doctor kepada Trisna dan juga ibunya. “ masih
banyak orang lain yang hidup tidak seberuntung kalian, masih banyak yang
hidupnya jauh lebih buruk dari kalian semua. Dan kita sudah termasuk
orang-orang yang sangat beruntung walau masih tertimpa masalah dan ujian yang
seperti ini. Ini ujian buat kita semua agar terus bersabar dan bersyukur dengan
hidup ini. Semakin tinggi derajat keimanan kita semakin berat pula ujian kita”
ucap salah satu doctor menyemangati.
“terimakasih doctor” jawab trisna
singkat. Kemudian, mereka semua bergegas siap-siap untuk pulang ke rumah dan
membawa ayah kembali ke rumah menjalani sisa hidup ayah d rumah.
Kebahagiaan
di Sisa Akhir Hidup Ayah
Akhirnya sekarang ayah telah kembali
ke rumah dan semenjak kepulangan ayah dari rumah sakit suasana rumahnya Trisna
terasa selalu ramai dengan kunjungan-kunjungan yang menjenguk ayahnya. Trisna
dan Halwa memutuskan untuk tidak membangun rumah sendiri, tetapi mereka
memutuskan untuk tinggal bersama di rumah orangtuanya Trisna dikarenakan
permintaan ayahnya Trisna juga agar mereka dapat membantu mamanya Trisna dan
juga membantu menjaga ayahnya Trisna sebelum yang maha kuasa memanggilnya.
Kondisi ayah setelah pulang dari
rumah sakit terlihat segar dan berbeda dari ketika ayah sedang berada di rumah
sakit. Ayahnya Trisna juga terlihat bahagia karena mungkin hari-harinya
sekarang selalu ditemani oleh orang-orang yang dia sayangi dan menyayanginya.
Sekarang hari kedua ayahnya berada di rumah dan kondisi badan ayahnya terlihat
semakin membaik dan terlihat lebih segar. Meskipun mereka tidak apa yang
terjadi di dalam tubuh ayah dan mereka berharap ada keajaiban yang datang
kepada mereka untuk kesembuhan ayahnya dan tetap berhusnudhon kepada yang maha
kuasa.
“assalamu’alaikum..??”
terdengar suara yang mengucapkan salam didepan pintu rumahnya Trisna.
“wa’alaikumsallam” jawab
Halwa sambil membukakan pintu yang sekarang menjadi rumahnya juga. Dilihatnya ternyata yang datang saat itu
adalah Sutan yang datang bersama mamanya.
“Hey non, apa kabar??” ucap sutan
sambil tersenyum.
“Allahuakbar, kirain siapa.
Kenapa gak bilang-bilang mau kesini. Alhamdulillah baik Tan. Eeehhh ada
mama juga. Apa kabar ma…??? Ayo masuk dulu” Halwa membukakan pintunya lebar dan kemudian
bersalaman kepada mamanya Sutan dan lalu menggandeng mamanya Sutan untuk masuk
kedalam rumahnya.
“Alhamdulillah nak tante
baik-baik aja. Kamu juga gimana kabarnya? Udah lama tidak main ke rumah” Tanya
mamanya Sutan sambil duduk dikursi yang telah dipersilahkan Halwa.
“Alhamdulillah Halwa juga
baik juga ma, iya maaf ma soalnya mama tau sendiri sekarang Halwa sudah
memiliki kesibukan wajib, hehe” jawab Halwa sambil tertawa kecil. “eh iya ma,
bentar aku panggilin dulu Trisna dan mama” pinta Halwa kepada mamanya Sutan.
“oh iya silahkan nak” jawab mamanya
Sutan.
Ketika Halwa sedang memanggilkan
suaminya dan mertuanya, mamanya Sutan berbisik kepada Sutan “kapan kamu mau
nyusul Halwa..??” hehe… mamanya tersenyum sambil menggodanya. “biar nanti kaya
Trisna, ada yang bantu-bantu mamanya dan setiap hari rumahnya menjadi ramai”
sambung mamanya kepada Sutan.
“ah mama, nanti aja kalau udah
waktunya juga pasti aku nikah ko” jawab Suta.
Kemudian Trisna dan mamanya
menghampiri Sutan dan juga mamanya. Halwa datangnya belakangan karena harus
menyiapkan dan membawakan minuman untuk tamunya yang special.
“assalamu’alaikum, eeehhhh
ada tamu ternyata. Maaf mbak tadi saya dikamar menemani suami saya dan tidak
tahu kalau sedang ada tamu, barusan juga saya dikasih tahu sama Halwa” ucap
mamanya Trisna sambil bersalaman bersama mamanya Sutan.
“wa’alaikumsallam, oh iya
mbak. Tidak apa-apa ko justru saya yang harusnya minta maaf karena mungkin
kehadiran saya mengganggu kegiatan mbak, saya kesini datang hanya untuk
menengok keadaan ayahnya Trisna sekaligus silaturahmi juga, tapi saya malah
tidak sempat membawa apa-apa” ucap mamanya Trisna sambil tersenyum. Kemudian
Sutan juga bersalaman kepada mamanya Trisna.
“oh tidak apa-apa mbak, aduuh justru
saya yang berterimakasih karena mbak udah jauh-jauh datang kesini menyempatkan
waktu untuk menengok suami saya. Ah mbak kaya ke siapa aja. Kehadirannya mbak
kesini aja saya juga sudah banyak ucapkan terimakasih. Sutan juga kemana aja
gak pernah main kesini, padahal disini sibuk lumayan lhooo buat
bantu-bantu,hehee” ucap mamanya Trisna sambil becandain Sutan.
“hehe…ah tante bisa aja. Iya saya
sebenarnya udah pengen kesini dari kemarin-kemarin juga tapi saya udah ada
jadwal kuliah dan kebetulan di kampus juga lagi ada kegiatan jadi saya sibuk,
hehe.. biasa anak rajin tante” jawab Sutan sambil tertawa bersama mendengar
ucapan candanya Sutan.
“hmmm, iya deh iya tante percaya
kamu rajin,hehe” puji mamanya Trisna kepada Sutan.
“jadi bagaimana kondisinya ayah
Trisna sekarang mbak” Tanya mamanya Sutan kepada mamanya Trisna.
“ya begitulah mbak, saya sekarang
hanya dapat menyerahkan semuanya kepada yang maha kuasa dan hanya dapat
tawakal. Sekarang kondisi penyakit suami saya semakin memburuk dan
sampai-sampai pihak kesehatan yang merawat suami saya di rumah sakit pun
mengatakan sudah tidak sanggup dengan penyakit suami saya yang sudah tidak
dapat disembuhkan lagi dan atas saran dari salah satu doctor disana juga
akhirnya saya dan anak-anak lebih memutuskan untuk merawat suami saya
bersama-sama di rumah, biar semuanya Allah yang mengatur” jawab mamanya Trisna
dengan jelas.
“masya Allah, saya ikut
bersedih dengan keadaan dan kondisi suami mbak sekarang. Dan yang terpenting
kita jangan berhenti berdo’a dan jangan berhenti berharap kepada yang maha
kuasa untuk segala sesuatunya. Mbak juga terlalu banyak pikiran, jangan sampai
mbak juga lupa dengan keadaan mbak, mbak juga harus tetap memperhatikan keadaan
kondisi kesehatan mbak” ucap saran mamanya Sutan sambil memegang tangannya mama
Trisna yang duduk disampingnya.
“iya mbak terimakasih atas semangatnya,
insya Allah saya akan membiasakan diri saya untuk tetap tegar dan tetap
semangat menjalani takdir hidup saya yang telah ditentukan oleh Allah. Dan saya
juga akan merayakan semua kejadian ini dengan terus bersyukur dan terus
bersyukur.” Sambung mamanya Trisna sambil menatap mamanya Sutan.
“iya mbak bagus kalau begitu saya
ikut senang mendengar mbak berbicara seperti itu, saya juga wanita yang
setidaknya saya juga dapat merasakan sebagian apa yang mbak rasakan saat ini,
karena saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang suami
yang kita cinta dan kita sayangi yaitu suami kita, hanya mungkin masalahnya
yang berbeda. Ah tapi yang terpenting kita harus tetap husnudhon, terus
bersabar dan bersyukur untuk mencari kemudahan” ucapan saling menyemangati
antara mamanya Trisna dan mamanya Sutan yang juga pernah merasakan kehilangan
seorang suami, dan mungkin mamanya Sutan ditinggalkan suaminya bukan karena
dipanggil oleh Allah tetapi meninggalkannya dengan situasi yang berbeda.
“iya mbak, aduuh maaf mbak saya ko
jadi menangis dan jadinya saya malah mengingatkan mbak kepada masa lalu mbak
dulu” ucap mamanya Trisna sambil tangannya mengusap-usap pipinya yang basah dengan air mata.
“ti8dak apa-apa mbak” jawab mamanya
Trisna sambil tersenyum dan menggenggam tangannya mama Trisna.
“jika dilihat dari kondisi badannya,
mungkin sekarang suami saya jauh lebih terlihat segar ketika sedang bersama dan
terlihat lebih bebas dan raut wajahnya terlihat seperti orang yang sedang
mendapat kebahagiaan mbak” ucap mamanya Trisna sambil menatap mamanya Sutan.
“Alhamdulillah kalau begitu,
mungkin saja itu pertanda baik dan mungkin sebuah tanda keajaiban dari yang
maha kuasa untuk kesembuhan suami mbak. sekarang kita sama-sama berdo’a aja
untuk semuanya mbak” sambung kembali mamanya Sutan.
“iya mbak amiin” ucap mamanya Trisna
dan kemudian memeluk tubuh mamanya Sutan. Sutan yang dari tadi hanya diam dan
mendengarkan pembicaraan mamanya dengan mama Trisna. Begitupun dengan Trisna ,
dia juga hanya terdiam sambil memainkan handphonenya yang sedang ada didalam
genggamannya.
Tanpa disadari kemana Halwa yang
tadi membuatkan minum untuk tamu-tamunya ? apakah selama itu membuatkan minum
untuk 4 orang ? sepertinya tidak, dan kemudian Trisna berjalan menuju dapur
untuk menghampiri Halwa. Dan ternyata setelah sampai didapur, dilihatnya Halwa
sedang terduduk lesu dikursi makan dan Trisna sangat kaget dan sontak ia
mengatakan “astaghfirulloh… Halwa istriku…” ucap Trisna sambil bergegas
merangkul Halwa untuk dibawa ke kamarnya. Setibanya mereka di kamar Trisna
langsung mngambilkan air putih untuk istrinya. “sayank, kamu kenapa. Ko lemes
seperti itu, kamu kecapean yah..?? kita ke doctor yah,?” Tanya Trisna kepada
istrinya sambil memegang kepalanya dan memberi minum kepadanya dengan perlahan.
“aduuh, iya gak tau Tris. Aku juga
tiba-tiba lemes aja gak kuat untuk berjalan, malah mual-mual” jawab Halwa
sambil bersandar ke bantal. “udah sekarang kamu temui lagi Sutan dan mamanya
dan juga temenin mama yang lagi ngobrol, aku gak apa-apa kok ditinggal aja,
sekalian tolong anterin minum ke mejanya ya sayaankkkk….” Pinta halwa sambil
tersenyum manja menggoda suaminya.
Trisna tersenyum dan mencium
keningnya Halwa “ iya istriku sayank, tapi kalau kamu butuh apa-apa tinggal
teriak aja sekeras mugkin yah,hehe” goda Trisna sambil mengelus pipinya Halwa.
“iya pastii,hehe” Halwa kembali
tersenyum.
Trisna kembali ke ruang tamu sambil
membawa minuman yang tadi telah selesai dibuatkan oleh istrinya. Dan kemudian
mempersilahkannya untuk dinikmati. Kemudian Sutan pun bertanya “Halwanya kemana
Tris?”.
“Halwa barusan kecapean kayanya, dia
lemes banget gak bisa jalan dan barusan makanya aku lama kesini soalnya
menggandeng dulu Halwa ke kamar dan sekarang dia sudah istirahat, jadi maaf
kalau barusan kalian menunggu minumnya lama,hehe” sambil menyimpan nampan yang
masih ditangannya.
“ya Allah, tapi dia gak apa-apa kan
Tris..?” Tanya Sutan kaget.
“iya tenang aja, dia gak apa-apa ko
Tan dia hanya lemes aja dan katanya agak mual-mual gitu” jawab Trisna sambil memandang
Sutan.
Mendengar kata “mual-mual dan lemes”
mamanya Trisna dan Sutanpun langsung sontak bersamaan mengatakan “Alhamdulillah”.
“lhooo.., kok Alhamdulillah sih
?” Trisna bertanya-tanya.
“iya Alhamdulillah, nanti
kamu tahu sendiri deh dan kamu juga akan mengatakan Alhamdulillah sama
seperti kami” ucap mamanya Sutan kepada Trisna. Kedua mama mengatakan
Alhamdulillah karena sesuai dengan pengalaman mereka dulu ketika mereka menikah
sudah satu bulan dan mereka merasakan mual-mual dan lemes seperti yang Halwa
alami sekarang dan itu menandakan bahwa mereka Hamil muda dan kebetulan
sekarang sudah genap satu bulan pernikahannya Halwa dan Trisna jadi mereka
tidak terlalu cemas.
“aku masih gak ngerti ma” Tanya Trisna kembali.
“iya ih dasar ibu-ibu rempong,hehe”
ucap Sutan becanda. “yaudah kita bawa aja Halwa ke doctor Tris, gimana?” ajak
Sutan kepada Trisna.
“iya bener Tan aku juga penasaran”
Trisna pun terlihat sangat setuju dengan ajakan Trisna.
Kedua mama itu hanya tersenyum
melihat anak-anaknya mencemaskan Halwa. Kemudian setelah mereka semua
berbincang-bincang dan tak terasa waktupun sudah sore, waktunya Sutan dan
mamanya pulang. Tiba-tiba ketika mereka sedang berpamitan dan bersiap-siap
pulang terdengar suara gelas yang pecah dari arah kamar yang entah itu kamar
siapa. Kemudian semua langsung bergegas menghampiri sumber suara. Sutan dan
Trisna langsung bersamaan menghampiri kamar Trisna yang kebetulan Halwa sedang
tertidur. Kemudian, mamanya Trisna menghampiri kamarnya dia takut terjadi
apa-apa dengan suaminya dan ternyata ketika sampai di kamarnya mamanya Trisna
melihat pecahan kaca gelas yang berserakan dibawah lantai dan tiba-tiba arah
matanya langsung tertuju kepada suaminya yang berada dibawah lantai. “astaghfirulloooohh
ya Allah ayah…” mamanya Trisna setengah berteriak memanggil suaminya dan
kemudian mamanya keluar menuju kamar Trisna sambil berteriak memanggil nama
Trisna dan menangis.
Trisnadan Sutan terlihat tenang
karena ternyata gelas yang berbunyi bukan dari kamarnya dan terlihat Halwa masih
sedang tidur istirahat diatas kasur. Dan tiba-tiba Trisna mendengar suara
mamanya yang berteriak-teriak memanngilnya lalu “mamaaaa…” dengan setengah lari
Trisna pun menghampiri mama.
“Trisna ayaahh,,,” ucap mama
terbata-bata.
“ada apa ma, ayah kenapa ???” Tanya
Trisna sambil memgang mamanya dan kemudian dia langsung berlari menuju kamar
ayahnya. Kemudian didapatinya ayahnya yang sedang tergeletak diatas lantai
dengan tidak sadarkan diri dan melihat pcahan kaca gelas yang juga berserakan.
“Allohuakbar…” Trisna langsung merangkul ayanya dan kemudian meletakkan
ayahnya diatas kasur. Sutan dan mamanya bingung harus berbuat apa dan mereka
mengitu arah Trisna dan mamanya yang berlari menuju kamar. Kemudian Sutan
membantu Trisna merangkul ayahnya dan merapikan posisi badan ayahnya Trisna
kemudian mamanya Sutan membantu mencoba menenangkan mamanya Trisna. Kemudian
semua yang sedang ada di rumahnya menajdi terbawa sibuk. Kemudian Sutan
menelpon ambulanceketika Trisna sedang sibuk mengurus ayahnya. Mamanya Trisna
hanya dapat menangis saat kejadian ditemani mamanya Sutan. Halwa juga terbangun
karena suasana rumah terasa ramai.
“ astaghfirulloh ada apa
ini..??” ko ramai sekali” ucap halwa sendiri di dalam kamar. Halwa sudah
terlihat segar kembali setelah bangun dari istirahatnya dan lalu Halwa meminum
air yang ada di meja kamarnya kemudian berjalan keluar menuju pintu . halwa
kaget ketika begitu ia keluar dan dia langsung melihat petugas rumah sakit yang
sedang menggotong ayahnya Trisna. “ ya Allah ayaaah..” hawa berlari menuju
keramaian.
“Halwa sayank, kamu sudah sadar???
Kamu tidak apa-apa kan..?? sekarang kamu tidak usah ikut capek kamu istirahat
aja di rumah bersama mama dan juga mamanya Sutan. biar sekarang aku mengantar
dulu ayah ke rumah sakit bersama Sutan. dan nanti kalian semua aku jemput.”
Ucap lebar Trisna kepada istrinya.
“oh iya Tris kamu ati-ati di jalan
sayank” Halwa mengangguk dan dia menuruti apa yang suaminya perintahkan .
kemudian dia menghampiri mamanya yang sedang berada di dalam kamar menangis dan
bersandar kepada mamanya Sutan.
“mama..” Halwa langsung memanggil
mamanya.
“Halwa kamu sudah bangun” ucap
mamanya Sutan.
“iya ma, maaf tadi aku malah tidur
soalnya tadi gak bisa jalan lemes banget gak tahu kenapa dan malah mual-mual
ma. Maaf ya kalo mama datang kesini malah direpotin. Dan terimakasih juga
untung ada mama, jadinya ada teman buat mama” ucap Halwa sambil merapikan
kerudungnya mama.
“iya tidak apa-apa sayank, kamu
istirahat aja biar mama yang menemani mbaknya. Tar kamu sakit dan kenpa-kenapa
lagi” ucap mamanya Sutan sambil menyuruh Halwa kembali beristirahat.
“tidak ma, aku sudah segar sekarang.
Mama nginep aja disini yah” ajak Halwa kepada mamanya Sutan.
“tanpa dimintapun justru mama mau
minta izin buat nginep disini dan menemani mamanya Trisna, boleh?” ujar mamanya
Trisna.
“iya mama, dengan sangat senang
hati. Justru Halwa malah seneng biar ada yang menemani mama juga” jawab Halwa
senang.
Mamanya Sutan akhirnya menginap dan
menunggu kedatangan Trisna dan juga anaknya yang masih belum memberi kabar
apapun. Mamanya Trisna, Sutan dan juga Halwa menunaikan sholat maghrib
berjamaah. Karena kebetulan sekarang sudah adzan maghrib. Mereka berdo’a
bersama dan membacakan surat yassin untuk ayahnya Trisna dan semuanya. Mamanya
Trisna terus mencucurkan air mata ketika sedang sholat dan berdo’a. kemudian
setelah mereka selesai berdo’a bersama terdengar suara handphone berbunyi dan
dilihatnya ternyata handphonenya Halwa berbunyi. Kemudian halwa terbangun dari
duduk nya dan lalau mengambil handphonenya yang berbunyi kencang.
“haloooo…assalamu’alaikum?”
ucap Halwa.
“wa’alaikumsallam, Halwa maaf
ini aku Sutan . aku disuruh Trisna menelphone mu dan beritahu bahwa sekarang
kondisi ayahnya semakin kritis. Dan dia menyuruhmu untuk bersiap-siap tapi dengan
tenang lalu ajak mamanya dan juga mamaku bersama kesini ke rumah sakit yang
dulu. Karena sekarang situasinya gawat. Kita banyak-banyak berdo’a saja dan
serahkan semuanya pada yang diatas. Kamu harus tenang yah” ucap panjang lebar
Sutan kepada Halwa yang sedang menelphone.
“Masya Allah, oh iya Tan.
Kalau begitu aku sekarang siap-siap kesana yah” jawab Halwa dan langsung
mematikan telphonenya tanpa mengucapkan salam kepada Sutan.
Kemudian Halwa langsung membereskan
barang-barang apa yang pas untuk dibawa dan yang dibutuhkan. Kemudian dia
memberitahu mamanya dengan tenang untuk segera ke rumah sakit.
Satu jam telah berlalu, merekapun
telah sampai di rumah sakit yang dituju dan begitu mereka sampai mereka
langsung melihat Sutan yang terlihat sedang menunggu kami didepan pintu utama
rumah sakit.
“hey, disini..” ucap trisna setengah
berteriak sambil melambaikan tangannya kea rah mereka.
“oh Alhamdulillah itu Sutan
ma, ayo kita segera kesana” ajak halwa sambil menunggu mama mertuanya berjalan
dengan lemas dan digandeng oleh mamanya Sutan. “ mama harus tenang yah, mama
harus yakin ayah tidak apa-apa. Mama jangan berhenti berdo’a” ucap Halwa sambil
membantu menggandeng mamanya. Mamanya hanya terdiam dan terus menangis tanpa
mengucapkan apapun. Setelah sampai didepan pintu utama, Sutan membantu
membawakan barang-barang bawaan Halwa dari rumahnya kemudian Halwa bergantian
membantu memboyong maman mertanya.
Mereka telah sampai di depan ruangan
tempat ayahnya dirawat dan disana sudah ada Trisna yang sedang mundar mandir
cemas didepan pintu ruangan tempat ayahnya dirawat.
“Halwa sayank.., Alhamdulillah
kalian sudah sampai” Trisna menghampirinya dan mencium keningnya Halwa dan
Halwapun mencium tangan suaminya. “ya Allah, mama..” sambil merangkul mamanya
lalu mendudukan mamanya ditempat duduk yang telah tersedia disana.
“Tris, bagaimana keadaan ayah
sekarang?” Tanya mamanya Trisna dengan nada terbata-bata.
“ayaaahhhhh…, ayaaaahhhhhhh…” jawab
Trisna dengan nada ragu-ragu untuk mengatakannya kepada mamanya.
“ayah kenapa nak” sambung Tanya
mamanya.
Kemudian, belum sempat Trisna
menjawab tiba-tiba ada salah satu doctor yang keluar dari ruangan ayahnya
dirawat dan memberikan kabar bahwa ayahnya sudah tak bisa diselamatkan.
Seketika setelah mereka yang ada disana mendengar bahwa ayahnya sudah dipanggil
oleh yang maha kuasa.
Semua yang ada disana langsung
mengucapkan Innalillahi dan kemudian Mamanya Trisna langsung berlari masuk
ruangan sambil menangis histeris. “ayaaaaaahhhhhhhh….” Teriak mamanya Trisna
sambil memeluk suaminya yang sudah tak bernyawa. “ayaaaahhhhhhh…” mamanya semakin histeris.
“ayaaahhhhh…” Trisna ikut menangis
dan memeluk jasad ayahnya.
“Trisnaaaaa…., Mamaaaaaaaa sudah
kalian istighfar” Halwa memanggil mamanya dan juga memanggil suaminya dan
memeluk mereka ditengah isak tangisnya yang tercipta.
Sutan dan mamanya ikut berduka cita
atas kesedihan yang menimpa mereka semua, kemudian mamanya Sutan ikut menangis
dalam pelukan anaknya.
Trisna berdiri , dan langsung
memeluk mamanya yang menangis histeris didepan jasad ayahnya. Dia menangis dan
memeluk erat mamanya. “mama, sudah ma. Biarkan ayah tenang karena dia telah
dipanggil oleh yang maha kuasa dan kita berdo’a semoga ayah ditempatkan
ditempat paling mulia disisi Allah” Trisna mencoba menyemangati mamanya sambil
menangis.
Pagi telah tiba, suasana duka
semakin tercipta ketika pemakaman ayahnya akan dilaksanakan. Mamanya Trisna
teringat akan kata-kata suaminya dulu ketika suaminya baru terbangun dari
sakitnya yang mengatakan dan berpesan agar istrinya tidak menangis ketika suatu
saat nanti dia meninggal dan ketika acara pemakamannya dia menginginkan agar
tidak satu tetespun air mata yang keluar. Dan Alhamdulillah ketika
pemakan berlangsung sampai pemakaman berakhir tak ada yang menangis. Mereka
semua menahan air mata dan kesdihannya.
Setelah pemakaman selesai , mamanya
Trisna dan juga Trisna menaburkan bunga di pemakaman ayahnya. Trisna memeluk
mamanya yang bersandar padanya. Sutan dan mamanya beranjak pulang lebih dulu
sedangkan Halwa masih berdiri dan menemani suami dan mamanya yang masih berada
di pemakaman.
Hari ini adalah hari pertama
kepergian ayahnya Trisna dan ini adalah hari pertama Trisna dan juga mamanya
menjalani hari-hari tanpa seorang ayah. Tetapi Halwa hadir sebagai pelengkap
kembali hari-harinya.
Allah tidak pernah mencabut sesuatu
dari kita, kecuali Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Tetapi, itu
terjadi jika kita terus bersabar dan tetap ridha dengan segala ketetapan-Nya.
Karena dalam suatu Hadits pun dijelaskan bahwa “ barangsiapa Kuambil dua
kekasihnya (matanya) tetap bersabar, maka Aku akan mengganti kedua (mata)nya
itu dengan surga” maka, kita tak
usah terlalu bersedih dengan musibah yang meimpa kita. Sebab yang menentukan
semua itu adalah Dzat yang memiliki surga, balasan, pengganti, dan ganjaran
yang besar.
Para waliyullah yang pernah
ditimpa musibah, ujian dan cobaan akan mendapatkan penghormatan yang agung di
surga Firdaus dan itu tersirat dalam firman-Nya
“selamat atasmu karena
kesabaranmu. Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu” QS. Ar-Ra’d: 24.
Betapapun kita harus selalu melihat
dan yakin bahwa dibaik musibah terdapat ganti dan balasan dari Allah yang akan
selalu berujung pada kebaikan kita. Dengan begitu kita akan termasuk “mereka itulah yang mendapat keberkatan
yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang
mendapat petunjuk” QS. Al-Baqarah: 157. Itu adalah merupakan ucapan selamat
bagi orang-orang yang mendapat musibah dan kabar gembira bagi orang-orang yang
mendapat bencana.
Umur dunia ini sangat pendek dan
gudang kenikmatannya pun sangat miskin. Adapun akhirat, lebih baik dan kekal.
Sehingga, barangsiapa di dunia mendapat musibah maka ia akan mendapat
kesenangan di akhirat kelak. Dan barangsiapa
hidup sengsara di dunia ia akan hidup bahagia di akhirat. Lain halnya dengan
mereka yang memang lebih mencintai dunia , hanya mendambakan kenikmatan dunia
saja, dan lebih senang pada keindahan dunia. Hati mereka akan selalu gundah
gulana , cemas tidak mendapatkan kenikmatan dunia dan takut tidak nyaman
hidupnya di dunia. Mereka ini hanya menginginkan kenikmatan dunia saja,
sehingga mereka selalu memandang musibah sebagai petaka besar yang mematikan.
Mereka juga akan memandang setiap cobaan sebagai sesuatu yang gelap gulita
selamanya. Ini adalah karena mereka selalu memandang ke arah bawah telapak
kakinya dan hanya mengagungkan dunia yang sangat fana dan tak berharga ini.
Wahai orang-orang yang tertimpa
musibah , sesungguhnya tak ada sesuatupun yang hilang dari kalian. Kalian
justru beruntung , karena Allah selalu menurunkan sesuatu kepada para hambanya
dengan “surat ketetapan” yang disela-sela huruf kalimatnya terdapat suatu
kelembutan, empati, pahala, ada balasan dan juga pilihan. Maka dari itu, siapa
saja yang tertimpa musibah yang hebat, ia harus mengahdapinya dengan sabar,
mata yang jernih dan pola pikir yang panjang. Dengan begitu, ia akan
menyaksikan bahwa buah manis dari musibah itu adalah:
“lalu, diadakan diantara mereka
dinding yang mempunyai pintu. Disebelah dalamnya ada rahmat dan disebelah
luarnya dari situ ada siksa” QS. Al-Hadid: 13.
Dan sesungguhnya apa yang ada disisi
Allah itu ebih baik, lebih abadi, lebih utama dan lebih mulia. Maka dari itu
RAYAKANLAH DENGAN BERSYUKUR.
Selesai
J
RIWAYAT
HIDUP
Lusi Anjani adalah nama asli saya
tetapi saya memiliki nama pena yaitu STANJA. Saya masih duduk di kelas XI
dengan jurusan IPA di Madrasah Aliyah Al-Istiqomah Tanjungsiang. Alamat saya di
Desa Cikawung RT 22 RW 06 ,Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang. Saya tinggal
bersama kedua orangtua kandung saya. Saya adalah anak pertama dari dua
bersaudara. Saya memiliki adik laki-laki yang baru berumur 9 tahun dan masih
duduk di kelas 2 SD. Saya memiliki hobi yaitu yang pastinya menulis ke buku
diary, tetapi sekarang saya menulis diary nya ke Notebook hehe.. Alhamdulillah
ada kemajuan. J saya memiliki
hobi mencari-cari informasi-informasi tentang pendidikan ataupun tentang
tekhnologi juga belajar berbisnis merupakan hobi saya. Sebenarnya masih banyak
hobi-hobi saya yang lainnya dan saya memiliki cita-cita ingin menjadi Arsitek,
Penulis, Dosen seluruh bahasa di dunia, menjadi wanita karir, dan yang pastinya
bercita-cita ingin membahagiakan orangtua dan orang-orang sekitar yang
menyayangi dan saya sayangi. Saya ingin sukses dunia dan akhirat. Amiin..
Langganan:
Postingan (Atom)
MAKALAH DEELNEMING
TURUT SERTA/ PENYERTAAN (DEELNEMING) MELAKUKAN PERBUATAN YANG DAPAT DIHUKUM MAKALAH Disusun untuk memenuhi salah satu tugas terstruk...