Dengan Ridha Allah

Sabtu, 14 Mei 2016

Aku,Kamu,Dia dan Mereka "LuNa StaNja"


Pengkhianatan Berlandaskan Cinta
            Hidup adalah rangkaian proses belajar, belajar syukur meski tak cukup, belajar ikhlas meski tak rela, belajar taat meski berat, belajar memahami meski tak sehati, belajar setia meski tergoda, belajar dan terus belajar dengan keyakinan setegar karang. Tapii….., sudah kodrat hati seperti air laut bergelombang pasang surut dan terbawa arus. Maka tetaplah belajar untuk tetap berada di jalan yang benar dan istiqomah.
            Terlihat sesosok wanita muda yang masih berstatus sebagai mahasiswi yang sedang duduk di bangku taman kampusnya dengan memakai baju gaun syar’i dengan ditambah hiasan long cardy berwarna hijau, bersepatu warna hijau, dengan tas warna hijau ditumpangi handphone diatasnya dengan silicon berwarna hijau sambil menulis dalam sebuah diary yang bersampul hijau dan menulis dengan bollpoint berwarna hijau pula. Dia bernama Halwa Syauqina Arrohman yang sudah terkenal dengan sapaan Halwa si Ulat Hijau, karena dia sangat menyukai warna hijau dan selalu memakai dan membawa benda dengan warna Hijau dan jarang terlihat memakai atau membawa sesuatu tanpa warna hijau.
            “Assalamu’alaikum Halwa si Ulat Hijau..???” sapaan salam godaan Sutan sang sahabat kepadanya. Sutan adalah sahabat Halwa satu-satunya yang masih bertahan dan tetap bertahan bersama Halwa. Dia adalah sesosok lelaki yang sangat bertanggung jawab terhadap orangtuanya terutama ibunya karena sejak dia duduk di kelas 2 sd dia sudah ditinggal sama ayahnya yang pergi meninggalkannya dan lebih memilih bersama istri mudanya. Dia juga sangat peduli dan bertanggung jawab terhadap orang-orang terdekatnya termasuk dia juga sangat peduli terhadap Halwa dan bahkan dia juga sudah menganggap Halwa sebagai adiknya yang juga harus dia jaga. Halwa sudah ikut masuk dalam bagian keluarganya.
            “Wa’alaikusallam frustasi jombloooo…” jawabnya sambil kembali melempar ledekan kecil.
            “Sedang apa wahai putri ulat hijau..?” puja seorang sahabat sambil sedikit menghiburnya lewat canda, karna dia melihat ada yang berbeda dengan si hijau sahabatnya itu.
            “Hmmm…,” hembusan nafas Halwa sambil sedikit menunduk.
            “Ada apa gerangan wahai putri ulat hijau, apakah engkau baik-baik saja??” Tanya Sutan sambil mendekatinya.
            “Aku tidak apa-apa Tan, hanya saja hatiku sedang terganggu dan sedikit kurang baik” sambil menutup buku dan menatap ke arah depan.
            “Apa ada yang telah membuatmu sakit hati dan bersedih???” Tanya Sutan sambil lebih mendekatinya.
            “Mungkin begitu Tan…” jawab Halwa singkat.
            “Jangan bilang sekarang kamu bersedih karena mengingat laki-laki berengsek yang sudah mengkhianati dan bikin kamu hancur!!!” ucap Sutan dengan nada sedikit seperti orang marah sambil menatap ke depan dan sedikit menjauhinya.
            “Mungkin seperti itu Tan, melupakan tak semudah membalikan telapak tangan Tan, aku menyayanginya, aku tak peduli berapa banyak dan berapa besar dia telah menyakitiku. Aku sangat mencintainya Tan, tolong bantu akuuu…!!” Halwa sedikit meneteskan air mata sambil menundukkan kepalanya karena tidak mau Sutan melihatnya. Halwa juga menyadari bahwa semenjak dia mengenal cinta bersama Trisna dia sangat merasakan perubahan yang buruk. Sekarang dia lebih mementingkan cinta daripada masa depannya. Dari segi prestasipun dia sangat menyadari banyak perubahan yang justru membuatnya menurun dan membuatnya teringat akan kata-kata pepatah gurunya yang meengatakan bahwa orang yang banyak maksiat itu akan berkurang bahkan hilang semua ilmu yang didapatnya, akan ditutup pintu rezekinya salah satunya. Masya Allah..
            Satu jam mereka berada di kursi taman dengan posisi saling membelakangi layaknya sepasanng makhluk Allah yang sedang bertengkar. Sutan sang sahabat sangat begitu peduli terhadap Halwa, dia tidak mau ada yang mengganggu kebahagiaannya dan Sutan paling tidak suka saat melihat dia menangis, bersedih dan menyendiri. Dia selalu mencoba berbagai cara agar dia kembali kesemula, dia selalu berusaha menghibur dan membuat dia tersenyum sehingga lupa akan lelaki berengsek itu. Sutan paling tau apa yang bisa membuat Halwa lupa akan masalahnya, yang bisa membuat Halwa tersenyum ceria, yaitu dengan cara mengajaknya berkeliling pesantren mengikuti pengajian atau mengajar sebagian anak santri mengaji. Sutan juga sering mengjak Halwa agar menyibukan diri dengan hal-hal positive lainnya seperti datang ke sekolah-sekolah luar biasa atau SLB di daerah terdekat, karena Halwa suka terlihat bahagia dan seakan lupa dengan masalahhnya ketika sudah berada bersama anak-anak. Karena Sutan tau bahwa dia adalah sesosok wanita yang sangat penyabar. Dan dia lebih menginginkan Halwa untuk secepatnya melupakan lelaki itu dan kembali memulai hari-hari barunya dengan yang lain, karena saking sayangnya Sutan kepadanya sebagai sahabat. Sutan tak sedikitpun memiliki rasa lebih kepadanya selain kepada seorang sahabat, dia juga mempunyai kekasih tapi dia sering mementingkan Halwa dibandingkan kekasihnya.
            Keesokan harinya, “Halwa…!!!” teriak Sutan memanggil halwa dengan suara kencang karena dia sedang berada disebrang jalan kost-kostannya Halwa, dan dia sengaja memanggilnya karena kebetulan melihat Halwa yang sedang duduk sendiri di kursi santai depan kostannya. “heiii.. Halwaaaa ulat hijau??” kembali berteriak sambil melambaikan tangan.
            “siapa yang memanggilku..?” Tanyanya heran dalam hati karena tidak melihat siapa-siapa. Kemudian, “ehhhh kamu FruJo…, sini !!! ngapain teriak-teriak” teriak Halwa sambil bangun dari duduknya sambil melambai-lambaikan tangannya mengajak Sutan untuk menghampirinya.
            “huuuhh.. dasar budek kamu.., aku panggil-panggil kamu dari tadi tapi kamu gak nyaut-nyaut” Sutan menghampiri halwa dan kemudian dia duduk di kursi bekas Halwa duduk tanpa harus menungggu Halwa mempersilahkannnya  “ada acara gak hari ini..?? kita maen yuk…!!!” ajak Sutan dengan rencana supaya Halwa lupa akan lelaki itu dan tidak bersedih menyendiri seperti hari-hari kemarin semenjak dia tahu kekasihnya mengkhianati cintanya dengan berselingkuh bersama wanita lain.
            “A….akuuuu…., aku malas Tan ah…” jawabnya sambil kembali duduk dan menunduk di teras.
            “kenapa..?? tumben kamu nolak, biasanya kamu paling giat kalo diajak jalan. Ada tempat baru yang ingin aku kenalin ke kamu nih, anak-anaknya pada lucu-lucu. Aku juga ada temen lama yang baru pulang dari kairo, mau aku kenalin gak…???? Udahlah lupain aja lelaki berengsek itu, mungkin Allah sengaja membuat kamu terpisah dengan dia karena Allah udah menyiapkan yang lebih segalanya dari dia walau dengan cara yang memang menyakitkan. Kamu move on dooonnnggg..!!! ngapain harus bersedih buat dia, toh dia aja gak sedih saat melihat kamu seperti ini” ucap lebar Sutan padanya dengan nada sedikit membentak karena terbawa emosi. Sutan sengaja ingin memperkenalkan teman lamanya yang jauh segalanya dari lelaki yang sudah mengkhianati dia, dengan niat supaya dia bisa secepatnya move on dan kembali seperti semula.
            “kamu gak ngerti dan gak ngerasain Tan apa yang aku rasain sebenarnya saat ini, dia memang menyakitiku tapi aku tak peduli karena cintaku sudah terlanjur besar padanya. Kamu bisa saja berbicara sesuka kamu dan ungkapin apa yang ada dihati kamu karena kamu hanya sekedar tahu tanpa merasakan yang sebenarnya apa yang aku rasakan sekarang Tan, sudahlah mending kamu pulang saja . aku lagi gak pengen apa-apa selain bertemu dengan dia hidup dengan dia dan bahagia dengan dia. Paham Sutan sang FruJo..???” ungkapan tegas dari halwa sambil menatap dan memegang pundak Sutan yang sedang duduk dipinggirnya.
            Sebenarnya dalam hatinya dia juga merasakan syukur dengan keadaan yang menimpanya sekarang walau memang dengan cara yang sakit tapi akhirnya dia bisa meninggalkan hal negative saat dia masih bersama lelaki itu. Dia berfikir kalau seandainya sekarang dia masih ditakdirkan bersama lelaki itu mungkin dia sekarang masih bergelumut dengan dosa bersama lelaki itu. Meskipun halwa memang sedang merasakan sakit tapi Alhamdulillah dia masih bisa mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah, masih bisa berfikiran dan melakukan hal positive dengan mengendalikan sebagian emosinya walau dia juga masih sering melamun dan meratapi takdir.
            Sutan tak bisa berbicara apa-apa lagi tatkala dia sudah mendengar ungkapan-ungkapan isi hati Halwa. Dia mencoba mengalah dan menahan emosinya terhadap lelaki itu didepan Halwa karena sudah sering dia menjelek-jelekan lelaki yang mengkhianati sahabatnya didepan Halwa sampai-sampai Halwa menangis, dia lebih memilih diam dan pergi saat sudah mendengar ungkapan Halwa seperti itu daripada membuat Halwa kembali menangis dan lebih bersedih. Karena dia sadar memang benar dia tidak merasakan apa yang sedang sahabatnya rasakan, tapi dia tak henti-hentinya mencari cara agar sahabatnya dapat melupakan kekasihnya yang telah mengkhianatinya.









Takdir Yang Menyadarkanku
            Wahai takdir…
            Tahukah kau, bahwa aku takkan pernah hilang asa, tak akan nestapa laraku menunggu kau mengirimkan jawaban atas segala do’aku pada Rabbku…
            Biarkan aku tak putus berharap akan hadirnya sang belahan jiwa, sang imam yang akan mengantarkanku ke syurga-Nya….
            Ucap do’a Halwa dalam hati ketika dia kembali teringat kepada lelaki yang dia sayangi namun malah mengkhianatinya. Halwa sekarang sudah mulai bisa berfikiran lebih dewasa sedikit demi sedikit. Dengan masalah dan kesakitan yang dia alami sekarang Alhamdulillah dia telah dapat mengambil hikmahnya, walau terkadang dia suka kembali menangis dan bertanya Mengapa ini harus terjadi kepadaku..??? ucapan yang seakan dia tak bisa menerima keadaan. Astaghfirulloh…
            2 minggu telah berlalu dan Sutan merasa bahagia karena sekarang sahabatnya jarang terlihat menyendiri bersedih dan menangis memikirkan lelaki yang telah mengkhianatinya lagi, sekarang dia sudah mulai tersenyum tertawa meski terkadang suka melamun. Tapi, walau begitu Sutan tak henti-hentinya mencari cara agar sahabatnya dapat melupakan lelaki itu dan agar dia tersenyum seperti semula.
“heiii Spagaw..!!! Spagaww…!!!” teriak Sutan memanggil Spagaw teman di kampusnya.
            “heiii Tan, iya ada apa manggil-manggil gue..??” jawab Spagaw sambil mendekati Sutan, Spagaw adalah teman dekat Sutan dan juga Halwa. Spagaw adalah cewe tomboy yang hobinya olahraga dan pantang untuk menangis kecuali kalau udah denger lagunya Melly yang berjudul Bunda, dia bisa kalah dan menangis saat dia mendengar lagu itu karena mungkin dia teringat kepada ibunya yang sudah tiada sejak dia masih duduk di kelas 4 SD. Dia adalah sosok wanita yang tegar, baik, gak sombong, gak gengsian, pemberani, gampang akrab sama siapapun dan dia gak pelit kepada siapapun terutama kepada teman.
            Dari Spagaw juga Halwa mendapat banyak pelajaran tentang hidup. Halwa juga menganggap Spagaw sebagai wanita motivator agar dia tetap bersyukur dengan apa yang dia miliki dan apa yang sedang terjadi padanya sekarang dalam hidupnya. Halwa sering belajar darinya dan dia suka berfikir “Spagaw   aja kuat dan masih bisa hidup dengan keadaan yang tidak lengkap tanpa kehadiran seorang ibu, tapi aku baru ditinggal seorang lelaki yang belum  halal pula sering menangis dan seakan mau kehilangan segalanya, padahal Spagaw aja yang kehilangan seseorang paling berharga dari pada lelaki yang aku sayang masih bisa setegar itu, Subhanalloh..”. dan sekarang Halwa meyakini bahwa segala sesuatu yang telah diberikan kepadanya dari Allah dan apa yang terjadi padanya sekarang adalah yang terbaik buat hidupnya. Syukur itu indah.
            “gue mau minta bantuan loe, bisa gak??” sambung Sutan kepada Spagaw.
            “bantuin apaan..???”jawab Spagaw sambil memasang wajah heran .
            loe tau kan Halwa sahabat gue..???, dia sekarang sedang bersedih gara-gara dikhianatin sama cowonya yang berengsek dan gak tau diuntung, jarang-jarang ada cewe kaya dia yang berani ngorbanin apa-apa demi kekasihnya, ehhh dia malah nyakitin dia abis-abisan, dia malah selingkuh sama cewe lain yang belum tentu cewe itu bisa seperti Halwa yang super zuper kuat dan tegar menghadapi hubungan bersama dia selama 3 tahun. Sekarang aja gue liat-liat di kronologi Facebook si cewe selingkuhannya yang juga gak tau diri itu  udah banyak ngeluh inilah itulah gara-gara mungkin dia gak dipentingin sama si berengsek itu, karena si lelaki hidung belang itu hanya menginginkan kepuasan aja dari para cewe. Wajah dan prilakunya aja yang so alim dan dijadiin modal buat ngegaet para cewe agar mau deket sama dia dengan modal so soan agamis lah, padahal dia lebih busuk dari pada lelaki-lelaki yang blangsak. Dia lelaki bermuka 9…, ha…ha….” Ucap Sutan panjang lebar kepada Spagaw.
            waaaaawwwww…..!!!! amazing !!!! yang bener Tan..??? emang dia diselingkuhi sama siapa..??? sialan banget tuh cewe dan cowo, berani-beraninya dia sakitin temen gue. Awas aja kalo gue ketemu udah gue abisin tuh orang, gue kagak ikhlas kalau temen gue harus digituin.” Sontak Spagaw menjawab penjelasan Sutan dengan emosi sambil mengepakan tangannya.
            eiitttsss.., gue gak minta bantuan loe buat nyakitin mereka berdua. Karena kalau misalkan Halwa tau kekasihnya kita sakitin dia bakal marah abis sama kita karena kan dia cinta banget sama kekasihnya walau udah disakitin abis-abisan dan anehnya juga nih gue ke Halwa dia tuh jadi cewe sabar banget gituh, mau-maunya dia mertahanin hubungan yang udah jelas-jelas bikin dia sakit apalagi dia masih mau berkorban abis-abisan demi cowo brengsek itu..” Sutan memperjelas ungkapan mohon bantuannya kepada Spagaw agar tidak melakukan yang tidak diinginkan kepada lelaki yang telah mengkhianati sahabatnya.
            “yaudah dech gue juga ngerti , gak apa-apa kok. Yang pasti gue bakalan bantuin loe buat bikin Halwa move on lagi okey..!!” sambil menepuk pundaknya Sutan , Spagaw berbicara tegas dan “ sekarang gue gak bisa lama-lama disini Tan karena gue lagi mau ada kegiatan bareng temen-temen gue yang lain, nanti kalo loe ada perlu apa-apa loe tinggal hubungi gue aja yah kapanpun !!!!” sambil berjalan menuju temannya yang menunggunya di depan pintu gerbang kampus.
            “okeyy.., makasih ya Spa.. tar gue hubungi loe..!!” teriak Sutan kepada Spagaw yang berjalan semakin jauh. Sutan kembali duduk dan merenungkan tentang keadaan sahabatnya sekarang, dia takut ada sesuatu yang tejadi kepada sahabatnya. Dia memiliki rencana untuk membuat sahabatnya move on dari hubungannya yang udah dihancurkan oleh lelaki berengsek itu, dia mempunyai rencana untuk mencomblangkan sahabatnya kepada temannya yang baru pulang mesantren dan bersekolah di al-azhar kairo.
















Ya Allah apakah dia Jodohku?
“aku memang terlalu bodoh, aku memang terlalu lemah dalam menghadapi masalah. L aku mencintai kekasihku, aku menyayangi dan aku tak peduli dengan apa yang terjadi denganmu dan diriku yang pasti aku mencintaimu lebih dari apapun dan aku akan lakukan yang terbaik untuk hubungan kita apapun itu !!! aku siap jika memang aku harus dimadu dan menjadi istri keduamu nanti, cintaku sudah tak  bisa kulepas dan tak bisa kumencinta yang lain, cintaku sudah kuberikan selurhnya untukmu L” ungkapan hati Halwa dalam hati , sambil menangis dan menuliskan semua ungkapan perasaan yang ada dalam hati kedalam  buku diary kesayangannya yang bersampul warna hijau dengan gambar keropi favoritenya. Ungkapan hati Halwa barusan adalah ungkapan dimana dia sedang kembali dibutakan oleh cinta dan ingatan-ingatannya bersama kekasihnya sudah mengkhianatinya. Tetapi Halwa masih sedikit bertanya-tanya dengan alasan kenapa Trisna harus selingkuh dan mengkhianatinya dan tanpa meninggalkan kabar apapun kepadanya. Ada apa ini sebenarnya…??? Tanya Halwa dalam hati sambil mengusap air mata yang hamper mongering dipipinya.
            Kemudian, pada sepertiga malam tepatnya pukul setengah dua malam Halwa terbangun lalu segera bergegas pergi ke kamar mandi lalu mengambil air wudhu dan kemudian menunaikan sholat tahjjud. Dalam tahajjudnya ia selalu berdo’a untuk kebaikan hidupnya, keberkahan hidupnya.
            Ya rabbana…
            Apakah dia jodoh hamba..???
            Allohuma ya Allah, mudahkanlah jodoh hamba..
            Jika dia adalah calon suami yang engkau kirimkan untuk hamba , mudaqhkanlah jalannya….
            Namu, jika ia bukan jodoh hamba, maka jauhkanlah…
            Jadikanlah hamba ridho dan ikhlas menerima semua ketentuanmu…
            Itu adalah do’a Halwa ketika menunaikan sholat tahajjud. Dia selalu berharap dan meminta agar lelaki yang sedang ia sayangi sekarang merupakan jodohnya dan ia tak peduli dengan kesakitan yang ia rasakan yang telah diberikan oleh lelaki itu kepadanya. Halwa tetap sabar dan selalu berdo’a agar diberikan yang terbaik dalam hidupnya.
            Minggu ketiga Halwa menjalani hari dengan keadaan hati yang tak seperti biasanya. Ketika dia sedang duduk ditempat biasa di bangku taman kampus nya tiba-tiba ada yang memanggilnya dengan kata “sayaaankk…????” Halwa kebingungan karena untuk siapakah panggilan itu dan siapa orang yang mengucapkan itu?, dan ternyata “sayankkk…, ini aku Trisna !!” ternyata kekasihnya yang telah mengkhianatinya tiba-tiba muncul dibelakangnya sambil memeluknya yang sedang berdiri mencari sumber suara.
            “Ya Allah, apa aku gak salah liat..??? apa aku gak lagi mimpi??” ucap heran Halwa sambil berbalik badan dan memegang pipinya yang memiliki lesung pipit.
            “ iya sayank ini aku kekasihmu yang selalu mencintaimu, maafkan aku sayang..” ungkapan Trisna tanpa basa basi sambil memegang tangan Halwa. “maafkan aku sayank, aku emang berengsek udah tega-teganya mengkhianati cinta tulus kamu, tetapi pada dasarnya semua yang kulakukan demi kamu juga. Dan sekarang aku berjanji aku akan kembali padamu dan takan mengulangi kejadian itu sayank apapun yang terjadi, aku berjanji”. Sambung Trisna sambil memeluknya erat dan matanya berkaca-kaca.
            “iya sayank, aku juga sangat mencintaimu. Jangan khianati dan menyakitiku lagi !! apalagi sampai meninggalkanku sayank, cintaku hanya untukmu sayank, aku gak mau kehilangan kamu, aku bahagia dengan kamu” Halwa menangis sambil membalas pelukan dari Trisna, karena dia memang menginginkannya walau sakit yang sudah ia terima begitu besar tapi dia tak memperdulikannya yang penting dia bisa bersamanya. Tanpa disadari Halwa yang selama menjalin hubungan bersama trisna belum pernah berpelukan sama sekali selain mendapat pegangan tangan dari Trisna yang itupun hanya pernah dilakukan 2 kali oleh Trisna , kepada halwa karena dia mengakui bahwa Halwa adalah sosok wanita muslimah yang syar’i sekarang dia malah sedang berpelukan lama dengan Trisna.
            astaghfirulloh…..” ucap Halwa sambil melepaskan pelukannya bersama Trisna. “ya Allah ma’afkan hambamu, dan maafin aku Trisna barusan aku…….” Sambung Halwa dengan posisi tangan menutupi wajahnya yang berubah menjadi merah karena baru menyadari bahwa barusan ia telah melakukan sebuah dosa. Walapun sebenarnya dia tahu kalau berpacaran itu dosa, karena dalam islam tidak ada istilah pacaran melainkan ta’aruf. Tapi dia merasa bahwa dirinya juga wanita muslim yang normal yang ingin merasakan cinta dan kemudian dia memaksakan kehendaknya ingin merasakan cintanya kepada seorang lelaki hingga pada akhirnya dia merasakan sakit seperti sekarang. Dan dia juga menyadari pemikirannya yang menyatakan bahwa dia adalah wanita normal yang ingin merasakan cinta, itu adalah hasutan dari syaiton. Tetapi dia tetap tidak bisa mengendalikannya hingga akhirnya dia seperti ini.
            “iya sayank, tidak apa-apa… dan ma’afkan aku juga karena barusan aku telah lancang memelukmu, ma’afkan aku sayaaaankkkkk…..” Trisna juga kembali mengucapkan ma’af kepada Halwa terhadap perlakuannya barusan yang telah lancang memeluk Halwa karena saking baagianya.  Trisna meminta ma’af sambil megulurkan tangannya untuk kembali mengambil tangan Halwa dengan mata berkaca-kaca.
            “Trisna, aku sangat menyayangimu….!!!!” Halwa akhirnya meneteskan air mata langsung didepan trisna tanpa ditutup tutupi.
            “iya sayank aku janji, dan aku ingin menikahimu !!! mau kah kamu menerima maharku sayank..???” sambil memegang tangan Halwa erat.
            “iya sayank aku menerima dengan sangat bahagia, aku memang menginginkan itu dari dulu, aku siap sayank…” sontak Halwa menjawab permintaan dari kekasihnya tanpa dia fikirkan apakah betul atau tidak apa yang kekasihnya katakana itu dan yang pasti dia sangat bahagia dengan air mata yang bercucuran diwajahnya sebagai ungkapan kebahagiaan hatinya. “tapiiii…..” kemudian Halwa berucap kembali sambil mencoba untuk melepaskan tangannya yang sedang ada dalam genggaman Trisna dan mencoba untuk tidak terlalu terbawa langsung oleh suasana.
            “tapi kenapa sayank, kamu ragu..???? atau mungkin sekarang kamu sudah memiliki penggantiku selama aku bersama wanita itu..???” Trisna kembali memegang erat tangan Halwa dan menatap tajam Halwa yang agak menunduk lemah.
            “tidakkk…” Halwa menjawab singkat sambil menunduk.
            “lalu kenapa..?? ada apa sayang..??? kenapa kamu terlihat seperti menjadi ragu??” Tanya Trisna dengan wajah heran.
            “tapii, aku tidak mau menyakiti wanita yang telah kamu pilih. Aku tidak mau merebutmu kembali disaat kamu sudah menjadi milik oranglain. Cukup aku yang merasakan sakitnya dikhianati tapi tidak untuk orang lain, aku tidak mau membalas keburukan dengan keburukan lagi. Aku tau aku sayang dan cinta kamu tapi tidak berarti aku harus merebutmu kembali dari wanita yang kau sangat sayangi. Biar Allah yang membalas dan menggantikanmu dengan yang lain, biar aku meminta sama sang Pemilik yang Haqiqi daripada aku memaksakan kehendak dengan harus kembali merebutmu. Tidaakkkk….!!! Aku tidak bisa melakukan hal jahat seperti itu Trisna..” Halwa melepaskan total genggaman tangan Trisna lalu Halwa menjauhi Trisna dan membelakanginya sambil menangis.
            “tapi sayaaannnkkkk…” Trisna belum langsung menjelaskan apa yang terjadi padanya dan wanita yang telah dijadikannya sebagai selingkuhannya.
            “sudah Trisnaaaa….!!! Stop panggil aku sayank dan maafkan tingkahku barusan, juga lupakan kata-kataku barusan kepadamu karena itu hanya ungkapanku yang terbawa angin. Dan sekarang kumohon pergilaaaahhh..!!!” ucap Halwa memperjelas. Dalam hati kecilnya dia sangat tak ingin mengucapkan kata-kata barusan yang telah terucap kasar, dalam hati kecilnya juga sebenarnya dia sangat menginginkan untuk kembali sesuai kata-katanya tadi tapi dia mencoba untuk menahannya dan mencoba untuk tetap tegar. Karena dia yakin bahwa Innalloha ma’ashoobiriin yang artinya sesungguhnya Allah ada bersama orang-orang yang sabar.
            “baiklah, maafkan aku. Tapi asal kamu tahu, aku melakukan itu karena dengan alas an lain yang belum kamu tahu yang mungkin jika kamu berada di posisiku kamu juga mungkin akan melakukan hal sama demi orang yang sangat kamu sayangi, dan untuk masalah wanita itu sekarang aku sudah tidak bersamanya lagi bahkan dia sekarang sudah menikah dengan laki-laki lain dan ternyata mereka berdua bersekongkol hanya untuk memeras hartaku” Trisna akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi walau belum semuanya dan sekarang dia pasrah dengan apa yang akan Halwa lakukan terhadapnya. Dia pasrah Halwa mau menerima kembali ataupun tidak tapi yang pasti dia berkeinginan untuk bisa kembali dan akan secepatnya menikahi Halwa demi memenuhi permintaan ayahnya.
            Akhirnya, mereka berdua saling berdiam dengan posisi Halwa masih membelakangi Trisna dan Trisna menghadap kepada Halwa yang sedang membelakanginya. Mereka berdua saling terdiam selama kurang lebih 5 menit tanpa ada satu katapun yang terucap setelah mendengar penjelasan dari mereka masing-masing.
            Ya Allah..
            Hanya kepadamulah aku memohon pertolongan dan hanya kepadamulah aku meminta..
            Semoga semuanya selalu ada dalam perlindungan, kebaikan dan keridhoanmu..
            Ya Rabb….
            “baiklah…” kata itu akhirnya serentak keluar terucap dari mulut mereka secara bersamaan. Dan merekapun kembali terdiam kaku.
            “yasudah, silahkan kamu duluan yang bicara Halwa” akhirnya Trisna membuka keheningan yang sejenak tercipta dan dia mengalah untuk Halwa agar dia mengungkapkan terlebih dahulu apa yang ingin dia ungkakan barusan.
            “tidak, biar kamu saja dulu Tris.. silahkan!!!” sambil membalikan badan Halwa berkata sambil tangannya mengelus-elus pipinya yang telah basah terguyur air mata.
            “baiklah, maaf aku mendahului berbicara. Aku ingin mengungkapkan keseriusan cintaku terhadapmu, aku ingin kita menikah. Apakah kamu bersedia menerima maharku untuk menjadi pendamping hidupku…????” Trisna kembali memberanikan diri secara langsung, tegas dan serius mengungkapkan maksudnya sambil terus menatap  Halwa yang menunduk.
            Mendengar ajakannya Trisna, Halwa hanya terdiam kembali dan hanya menjawabnya dengan hembusan nafasnya yang lembut seakan nafas itu mewakili kelegaan dan kecemasan hatinya. Dia merasa lega disaat dia mengajaknya serius, Halwa merasakan bahwa Trisna benar-benar tulus berbicara dan dengan serius mengajaknya. Tetapi ada pula kecemasan yang tersimpan dihatinya, dia masih cemas dengan keadaan ini dan dia masih memiliki rasa takut kalau kejadian yang terjadi dibulan ini tepatnya bulan juni ini akan terjadi dimasa yang akan datang. Karena dia sadar dia hanya manusia biasa yang tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena dia hanya manusia yang hanya mampu berencana tetapi yang menentukannya adalah Allah yang maha segalanya. Tetapi dia sekarang pasrah dan mencoba untuk terus kembali husnudhon dengan apa yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi selanjutnya dalam hidupnya yang akan datang.
            “Tris, aku udah harus pulang cepet nih. Terimakasih ya buat waktunya hari ini, dan terimakasih juga udah memberiku sedikit kebahagiaan dihari ini. Untuk masalah itu, aku minta waktu untuk berfikir” ujar Halwa sambil membelokan badan kearah depan lalu dia meninggalkannya tanpa basa basi lagi dan tanpa menengok kembali ke arah Trisna.
            Trisna pun tak bisa memaksakan kehendak dan dia juga mengerti bagaimana pedihnya jadi seorang dia. Tapi walaupun begitu , sekarang Halwa bagi Trisna merupakan sebuah anugerah terindah dari Allah yang akan segera ia jemput.



Aku Sudah Paham
            Ya Allah..
            Gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan..,
Jadikan kesedihan itu awal kebahagiaan..
            Sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram…
            Ya Allah...
            Dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan ,
Padamkan bara jiwa dengan air keimanan….
Wahai Rabb..
Anugerahkan pada mata yang tak dapat terpejam ini rasa kantuk dari-Mu yang menentramkan…
Tuangkan dalam jiwa yang bergolak ini kedamaian…
Ganjarlah dengan kemenangan yang nyata..
Wahai Rabb..
Tunjukanlah pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu..
Bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-Mu yang lurus..
Tuntunlah aku dan orang-orang  yang menyimpang dari jalan-Mu merapat ke hidayah-Mu..
Ya Allah…
Sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang..
Hancurkan perasaan yang jahat dengan secercah sinar kebenaran..
Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan bala tentara-Mu..
Ya Allah..
Sirnakan dari ku rasa sedih dan duka dan usirlah kegundahan dari jiwa ku …
Ya Allah…
Aku berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera..
Hanya kepada-Mu aku bersandar dan bertawakal..
Hanya kepada-Mu aku memohon dan hanya dari-Mulah semua pertolongan…
Cukup engkau sebagai pelindung ku, karena engkaulah sebaik-baik pelindung dan penolong….
Amiin…
Halwa berdo’a dalam setiap sujud di sepertiga malam. Sekarang dia hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan ia alami dalam hidupnya. Ia hanya bisa pasrah dan berharap mendapat yang terbaik dari yang terbaik dalam hidupnya yang penuh dengan misteri. Subhanalloh..
Tak terasa, Halwa yang tadi bangun pada pukul 1.30 kemudian melaksanakan sholat tahajjud kemudian ia mencurahkan apa yang sedang terjadi padanya dan berdo’a untuk kebaikan hidupnya kepada Rabb-Nya dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat suci al-qur’an sampai-sampai dia tak menyadari bahwa waktu sekarang telah menunjukan pukul 4 dan waktunya menunaikan sholat subuh karena adzan telah berkumandang. Kemudian, ia pun langsung bersiap kembali untuk menunaikan ibadah sholat subuh dengan semangat dan hati tenang karena telah mengadu kepada pemilik segalanya yaitu Allah. Hatinya merasa tenang setelah ia beribadah dan rasa kantuk pun berhasil ia usir jauh-jauh.
“tok tok tokkk…” terdengar suara ketukan pada pintu kos-kostannya Halwa dan “assalamu’alaikum…???” terdengar suara wanita yang mengucapkan salam di depan pintu kostannya Halwa.
“wa’alaikum sallam…” jawab Halwa singkat sambil segera bergegas menuju pintu depan karena kebetulan sekarang sudah menunjukan pukul 8 pagi dan jadwalnya dia beres-beres di kostannya. Karena hari ini dia gak ada jadwal kuliah makanya ketika ada orang datang ke kostannya pada jam pagi dia masih memakai pakaian tidur bekas semalam.
Tiba-tiba…… “ MAMAAAAAAAAAAAAAAA……” Halwa setengah berteriak memanggil mamanya yang sedang berada di hadapannya. “ mamaaaaa…” kembali dia mengulang memanggil mamanya dengan nada panjang. “ mamaaa.., kangeeeennnnn . mama kenapa gak bilang-bilang aku kalau mama hari ini mau kesini??? Padahal kalau mama bilang dulu sehari sebelumnya kek kalau mama mau kesini, biar nanti aku siapin dulu makanan atau apa kek buat mama. Ihh mamaaaa kangeennn…” Halwa sangat terlihat bahagia dengan kehadiran mamanya pagi ini karena sudah hampir satu semester ini dia tidak pulang sama sekali, dia hanya kontekan melalui handphone itupun juga jarang. Halwa mencium tangan mamanya lalu memeluk erat mamanya dengan manja.
“aduuuhhhh anak mama tersayang.., mama juga kangen sama kamu nak. Kamu kenapa gak pulang satu semester ini…??? Tumben banget, biasanya kamu baru satu bulan di kostan udah sms minta dijemput atau kalau gak dijemput kamu suka tiba-tiba udah nongol didepan pintu rumah” mamanya melepaskan pelukannya sambil mengelus-elus kepala anak tunggal kesayangannya dengan manja.
Halwa lalu menggandeng mamanya untuk masuk ke dalam kostannya karena dia malu takut ada yang tahu kalau sebenarnya dibalik sifat dan sikap kedewasaannya di depan teman-teman kampusnya dia juga manja kalau berada di dekat mama atau ayahnya. Mungkin dia manja karena dia memang di manja sama kedua orang tuanya, karena dia merupakan anak satu-satunya. Tapi walau mama dan ayahnya memanjakannya , mereka tetap tegas terhadap anaknya dan mereka memanjakan Halwa tidak seperti memanjakan anak-anak seperti yang lainnya. Dia memanjakannya dengan didikan yang juga tegas karena mereka juga tidak mau kalau anak satu-satunya itu harus sengsara dimasa yang akan datang dengan kemanjaan yang dimilikinya. Walau dia dimanja tapi mereka juga menginginkan anaknya untuk mandiri.
“iya maaf ma, habis disini banyak tugas jadi tanggung kalau Halwa harus bolak-balik ke rumah, mending kalau bisa lama di rumahnya. Kalau Cuma sehari tanggung kan, lagian aku juga mau belajar mandiri donk ma. Biar nanti ketika aku jauh dari mama aku bisa ngerjain semuanya sendiri dan gak mungkin kan ketika aku udah nikah nanti terus jauh dari mama masa aku harus pulang dulu ke mama, kaya anak yang mau minta nenen..., hahaaaa…” Halwa berbicara sambil godain mamanya dan memeluk kecil pinggang mamanya dia tertawa.
“hehe ah kamu bisa aja deh… iya mama sama ayah udah kangen sama kamu makanya mama kesini disuruh ayah juga mama harus cepet-cepet nengok kamu katanya takut anak kesayangannya kenapa-kenapa soalnya gak biasanya. Sekalian mama juga ada perlu yang harus mama sampein ke kamu langsung” sambil terus mengelus lembut kepala anaknya mamapun mencoba memberitahukan maksud dia menemui anaknya yang sebenarnya. Karena selain dia kangen dan khawatir kepada anaknya mamanya Halwa juga memiliki sesuatu hal yang harus ia sampaikan langsung secepatnya mengenai masa depannya sebagai seorang wanita muslimah.
“emang ada perlu apa ma ..?? mama gak bawa apa-apa ksini..???” Tanya Halwa sambil agak cemberut manja godain mamanya karena tidak membawa apapun selain tas yang masih nempel bahu mamanya.
“eh iya mama lupa, mama juga buru-buru jadi gak sempet bawa apa-apa. Mama naik angkutan umum sayank…” jawab mama sambil buka-buka isi tas nya.
“hmmm mama…, emang ada apaan sih ma..?? kayanya penting banget..” sambung Halwa “tapi Halwa belum mandi ma, mau nungguin Halwa mandi dulu atau mau cerita sekarang ma…???” Halwa tersipu malu sama mama.
“iya tidak apa-apa lah kamu gak mandi juga, kamu udah tetep cantik ko buat mama walau gak mandi badan bau terasi juga,haha…” mama dan Halwa ketawa bersama.
“ih mama dasar” Halwa a mencubit manja tangan mamanya.
“begini nak, mama sebetulnya kesini selain kangen dan khawatir sama kamu ada juga hal lain yang yang tidak kalah penting buat kamu dan kita. Dua minggu yang lalu mama kedatangan tamu, dan tamu itu adalah istrinya teman lama  ayah namanya pak Kardi. Dia adalah sahabat ayah dulu yang menghilang tanpa kabar dan kemaren tiba-tiba istrinya datang mendadak ke rumah kita dan memberitahu bahwa sekarang suaminya itu sedang menderita sakit parah yang katanya dokter memvonis suaminya itu tidak akan hidup lama lagi soalnya penyakit yang di deritanya cukup mematikan. Meskipun sebenarnya yang menentukan hidup dan mati manusia adalah Allah tapi kita sebagai makhluknya hanya bisa tawakal dan pasrah ketika mendapat kenyataan yang sangat tak memungkinkan” ucap mama jelas tentang maksud kedatangannya kesana, mamanya tidak langsung mengutarakan apa maksud dan tujuan utamanya yaitu untuk menjodohkan anaknya dengan anak teman ayahnya yang katanya hampir seumuran dengan dia hanya saja beda beberapa tahun dan lebih tuaan anak teman ayahnya 3 tahun.
astaghfirulloh.., kasian ya ma. Terus setelah itu apa yang menjadi hubungannya dengan Halwa ma …?? Apa temannya ayah ingin bertemu dengan Halwa atau bagaimana…???” Tanya Halwa pura-pura polos.
“iya sayank keluarganya teman ayah ingin bertemu dengan kamu yang katanya sebagai permintaan terakhir sebelum temannya meninggal. Meskipun mama juga belum lihat langsung seperti apa kondisinya sekarang, yang pasti mama cukup merasakan apa yang istrinya rasakan setelah mendengar cerita dan kronologinya  bagaimana” mamanya mencoba berbicara perlahan sambil menatap dan memegang pundaknya Halwa.
Mamanya cukup merasakan musibah yang sedang menimpa keluarga teman suaminya. Mamanya merasakan apa yang istri teman suaminya rasakan karena dia juga wanita. Hidup memang benar-benar proses belajar, tetaplah nikmati dan syukuri hidup ini, selagi kita mampu melaksanakan dan melakukan hal baik apa yang seharusnya kita laksanakan maka lakukanlah sebelum penyesalan datang menghampiri kita. Allah takan pernah salah dan takkan pernah memberikan sesuatu kepada makhluknya dengan sia-sia dan takkan memberikan suatu ujian dan cobaan kepada setiap makhluknya dibatas kemampuannya. Allah memberikan ujian dan cobaan dan apapun itu karena Allah tau makhluknya mampu dan itulah yang terbaik, pikirkan dan syukurilah. J
“Iya ma, kasian ya ma, yasudah kalau gitu nanti kita main ke rumahnya sekalian menjenguknya yu ma” masih dengan laga pura-pura polos Halwa berucap.
“iya tapi selain mereka ingin bertemu dengan kamu, teman ayahmu juga meminta agar kamu mau……” belum sempat mamanya menjelaskan kata-katanya sampai beres tiba-tiba Halwa pun memotong pembicaraan mamanya dan langsung menebak apa yang akan dikatakan mamanya.
“mauuuu dijodohkan dengan anak teman ayah kan..????” Halwa berbicara dengan raut wajah tenang sambil tersenyum dan kemudian “iya kaaaannn…??? Haha.. pasti begitu, kaya di film-film aja, dramatis ma…hehe…” sambung Halwa sambil memain-mainkan alis nya didepan wajah mamanya lalu tertawa kecil.
“hehe…, iya anak mama pinter. Kamu itu udah gede udah dewasa tapi kalau sama mama sama ayah kamu aja pasti berubah jadi manja, pantes aja teman-teman kamu pada kaget pas lihat tingkah kamu kalau lagi sama mama dan ayah, hehe.,..” mamapun tersenyum kembali mendengar kata-kata Halwa.
“hehe.. sebenarnya Halwa udah tau ko ma tapi Halwa pura-pura polos aja, pasti kalau awalnya begitu ujungnya pasti begitu juga,hehe…” ucap santai Halwa sambil berjalan menuju handuk yang menggantung.
“iya nak,hehe.. mama jadi malu deh. Ah kamu dasar nak manja. Hehe..” goda mama kepada Halwa, tetapi mamanya cukup lega setelah tau apa yang dia maksudkan telah diketahui oleh anaknya dan mamanya juga tenang dan senang melihat respon anaknya yang santai dan justru tidak ada kaget-kagenya sama sekali. Kemudian mamanya menyambung “sini dulu sayank bentar, jadi gini nak kemaren istrinya teman ayah setelah dia panjang lebar membicarakan tentang keadaan keluarganya sekarang dia juga menyampaikan salah satu permintaan suaminya untuk segera melihat anak semata wayangnya melangsungkan pernikahan sebelum ayahnya meninggal dan dia meminta agar anaknya dijodohkan dengan kamu lalu melangsungkan pernikahan. Tapi ayah dan mama belum mengiyakan permintaan mereka, karena mama dan ayah gak mau langsung mengambil keputusan iya atau tidaknya karena kan yang punya keputusan adalah kamu dan yang akan menjalaninya kan juga kamu Halwa” sambil memegang pundak anaknya.
“hmmm…, emang mama udah merestui kalau Halwa menikah di usia Halwa sekarang ini..?? kan Halwa masih harus kuliah ma..?? apalagi Halwa kan baru 22 tahun” Halwa menatap mama.
“kalau mama dan ayah sih terserah kamu, jika seandainya kamu sudah benar-benar siap dengan semuanya ya mama dan ayah akan merestui. Tapi kalau kamu belum siap juga ya jangan memaksakan sih, lebih baik kita jelaskan saja secara baik-baik kepada keluarganya kalau misalkan kamu belum siap. Bagaimana sayank..???” dengan santai mamanya melanjutkan pembicaraannya.
“hmmmm (Halwa menghembuskan nafas kecil), terus kalau misalkan Halwa belum siap dan menolak permintaan mereka bagaimana ma ? terus bagaimana dengan ayahnya yang memiliki permintaan terakhirnya..??” kembali halwa bertanya. Karena sebenarnya dia sudah pasrah dan sudah merelakan cintanya kepada Trisna kalau misalkan dia harus menikah dengan laki-laki lain selain dia apalagi perjodohannya didasari dengan niat baik menolong, karena dia yakin bahwa semuanya yang terjadi pada hidupnya itulah yang terbaik. Dan Halwa juga sudah siap jika memang sekarang dengan usianya yang sudah lumayan matang untuk menikah dia sudah siap dan tidak akan memandang siapapun dan bagaimana pun laki-laki yang akan menjadi suaminya nanti asalkan yang terpenting keimanannya kuat dan dapat membimbing dia ke jalan yang benar. Halwa juga sudah tidak mau terus terpuruk dengan kisah cintanya bersama Trisna yang bisa dibilang gagal atau mungkin memang ada yang lebih baik darinya untuk menjadi imamnya dan dia berharap mungkin perjodohan inilah yang terbaik dan akan memberikannya lelaki yang lebih baik juga dari Trisna.
Ya Allah.., jika ini semuanya memang jalan takdirku maka ikhlaskanlah aku untuk menerima semuanya dan jika memang dia jodohku maka satukanlah kami dengan keadaan yang engkau ridhoi yaitu pernikahan.amiin…” dalam hati Halwa berdo’a.
“ya mama juga bingung sih, mama tidak mau memaksakan kepada kamu tapi disisi lain juga mama kasian dengan keadaan keluarganya dan mungkin ini amanat dari suaminya kepada istrinya teman ayah agar segera diwujudkan” dengan wajah bimbang mamanya Halwa membelokan muka.
“yasudah mama gak usah pusing gitu, biar nanti aku pikir-pikir dulu bahkan istikhoroh dulu.hehe… sekarang Halwa mau mandi dulu ya ma, nanti kita lanjutkan lagi dan sekarang mama istirahat aja dulu kasian mama cape kayanya. Soalnya jam segini mama udah bisa nyampe kesini pake angkutan umum lagi. Tenang mama sayank, Halwa akan meberikan keputusan yang akan membuat mama bangga dengan niat yang membanggakan buat mama juga J,hehe.. amiin..” Halwa berdiri tersenyum sambil memegang handuk dan bergegas bersiap menuju kamar mandinya. Tapi “ eh lupa, mama mau makan gak ? atau mama mau makanan dan minuman apa gitu, biar aku ambilin dulu..” Halwa membalikan badannya kembali kehadapan mama karena kebetulan dia hanya menyediakan air putih saja diatas meja kecil.
“iya amiin sayank. gak usah ah, biar mama ngambil aja sendiri. Sekarang kamu mandi dulu aja sana, biar tambah cantik. Eh iya , hari ini juga kamu ikut mama pulang dulu ya, karena kata temen kamu tadi pas di jalan mama ketemu katanya kamu seminggu ini lagi kosong jadwal kuliah karena fakultas kamu ada tugas khusus katanya” mama berbicara sambil menyimpan tasnya diatas kasur tempat Halwa tidur dan membereskan baju halwa yang berserakan ditempat tidur.
“hahhh…?? Hari ini..??? aduh mama ah suka ngedadak gini deh…, tapi gimana nanti aja yang pasti aku mau mandi dulu dan yaudah mama juga kalau mau apa-apa ambil aja sendiri ya mama sayank,hehe…” Halwa ketawa kecil dan kemudian berjalan meninggalkan mamanya menuju kamar mandi.
            Setelah Halwa mandi beberapa menit dan mamapun menyibukan diri di kostannya Halwa sambil membereskan baju-baju dan barang-barang Halwa yang berserakan. Dalam hati mereka masing-masing merasakan ketenangan karena pertama bagi mamanya sangat merasa tenang ketika melihat respon halwa yang sangat baik tentang masalah perjodohan anaknya begitupun Halwa, dia juga merasa tenang karena sekarang dia berniat untuk meniggalkan masa lajang dan masa remaja nya untuk menjadi seorang istri bagi suaminya nanti jika memang perjodohannya benar-benar terjadi.
            “Halwa gapapa yah baju kamu mama rapikan, sekalian mama masukin ke ransel kamu sebagian bajunya biar nanti kamu beres-beresnya gak lama dan gak ribet juga” pinta mama kepada Halwa.
            “iya terserah mama aja deh, Halwa nurut aja sama mama. Berarti sekarang Halwa harus langsung siap-siap donk ma, kita langsung pulang ke rumah apa langsung ke rumah temennya ayah..??” Halwa masih dalam keadaan memakai handuk dikepalanya.
            “terus selain baju apalagi yang harus dibawa sayank? Iya kita sekarang berangkat setelah kamu beres disini,terus kita mampir ke pesantrennya temen mama ,kamu temenin mama dulu ngambil pesenan kerudung buat mama dan buat kamu juga. Terus kita langsung pulang ke rumah deh” penjelasan mama tentang schedule hari ini bersama Halwa.
            “udah mama siapin baju aja dulu biar yang lainnya Halwa yang siapin. Asiiikkk shoping kerudung baru nih,hehe.. Halwa pengen kerudung yang panjang warna navy ma soalnya bosen yang ini udah jelek.. oke deh” pinta Halwa dengan manja kepada mamanya.
               













Bahagia Mulai Menyapa
Akhirnya, mereka pun sudah sampai kembali di rumah dan kelihatannya mereka capek dan langsung masuk ke kamar masing-masing tanpa basa basi. Kebetulan di rumahnya sedang tidak ada siapa-siapa karena ayah lagi sibuk kerja dan dirumahnya Halwa tidak menggunakan jasa pembantu karena mamanya masih merasa mampu mengerjakan semuanya sendiri tanpa harus memakai pembantu. Keluarga mereka merupakan keluarga sederhana walau sebenarnya mamanya adalah keturunan orang mampu tapi mereka tetap hidup sederhana dan agamis.
            “kring kring kriiingggg….” Tiba-tiba suara handphone nya Halwa berbunyi dan handphonenya Halwa tertinggal di tasnya mama. Lalu mamanya mengangkat telponnya tapi mama tidak tau siapakah yang menelpon Halwa saat itu karena nomornya tanpa nama.
            “halo assalamu’alaikum..???” terdengar suara laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Halwa.
            “iya wa’alaikumsallam, maaf ini dengan siapa yah..???”
            “ini aku Trisna Halwa, ko suara kamu beda. Kamu baik-baik aja kan …??”
            “oh maaf ,ini bukan Halwa tapi ini sama mamanya Halwa. Trisna yang mana yah..?? temennya Halwa bukan..??” Tanya mama.
            “oh aduh maaf tante saya kira ini Halwa,iya ini saya Trisna teman kampusnya Halwa.  Halwanya kemana tante…???”
            “iya tidak apa-apa nak, Halwa nya ada tapi dia kayanya lagi cape soalnya baru pulang dan sekarang baru aja nyampe rumah”
            “oh gitu ya tante, emang Halwa pulang kenapa..?? dia tidak apa-apa kan tante…??” Tanya Trisna sebagai basa-basi.
            “Halwa sengaja pulang soalnya mau ada keperluan keluarga, dia Alhamdulillah sehat ko. Ngomong-ngomong ada keperluan apa ya sama Halwa??” Tanya mamanya Halwa kembali
            “enggak ko tante saya cuma ada perlu sedikit sama Halwa, tapi kalau misalkan Halwa nya lagi istirahat biarkan saja dia istirahat dulu biar nanti saya telpon lagi atau kalau boleh saya mau ke rumahnya Halwa gimana tante,boleh..???”
            “oh iya silahkan kalau gitu, main aja kesini nak. Kebetulan Halwa juga kayanya mau agak lama pulangnya” dengan nada senang mamanya Halwa membolehkan Trisna untuk main ke rumahnya. Padahal Trisna adalah anaknya teman ayahnya yang mau dijodohkan dengan Halwa tetapi mama dan ayahnya Halwa belum mengetahuinya begitupun Halwa.
            Alhamdulillah, yaudah kalau begitu langsung saja besok pagi saya mampir ke rumah tante ya, soalnya kebetulan saya juga sepertinya bakalan lama berada di rumah” dengan senang hati juga Trisna menyambut diperbolehkannya dia main ke rumahnya Halwa.
            Keesokana harinya Trisna pun benar-benar datang ke rumahnya Halwa dengan membawa banyak oleh-oleh untuk mamanya sekalian perkenalan juga kepada keluarganya Halwa dan berharap maksud dan tujuan utamanya dapat terwujud dan disetujui oleh keluarganya Halwa dengan baik.
            Setelah akhirnya Trisna memberanikan diri datang menemui keluarganya Halwa, dengan modal pura-pura ada perlu kepada Halwa akhirnya dia berhasil bergabung dengan baik dengan keluarganya Halwa. Setelah beberapa jam Trisna, Halwa dan juga keluarganya Halwa berbincang bincang bersama mengenai kedatangnnya kesana untuk apa akhirnya telah selesai. Sebelum Trisna pulang Trisna mengajak Halwa ketaman belakang rumahnya dan lalu mereka berdua berbicara 4 mata dan kemudian Trisna menjelaskan maksud dan tujuan utamanya dia datang kesana.
            “Halwa, kamu tau apa maksud dan tujuan ku kesini kan..??” Tanya Trisna pada Halwa dengan jantung degdegan karena takut Halwa masih belum bisa menerima dia.
            “iya aku tahu maksud dan tujuan kamu kesini, yaitu untuk memperkenalkan diri kamu kepada keluargaku kan. Lalu mengambil hati mereka sampai nanti akhirnya kamu dapat restu mereka untuk bisa bersatu kembali denganku bukan..???” jawab lebar Halwa kepada Trisna.
            “iya betul Halwa, aku kesini memang sengaja ingin dekat dan kenal dengan keluargamu yang masih utuh” jawab Trisna kembali.
            “jujur, aku sangat senang dengan usahamu memberanikan diri bertemu dengan keluargaku hanya untuk mengambil dan meminta restu mereka agar kita dapat bersatu kembali, tapi apa kamu tidak malu dengan kesalahan besarmu yang dulu pernah kamu lakukan terhadapku..???” ucapan Halwa sangat tajam kepada Trisna.
            “ya justru itu, aku sengaja dan memang benar-benar niat untuk meminta restu orang tuamu sedikit demi sedikit agar aku juga dapat menebus kesalahnku dulu yang pernah kulakukan kepadamu. Aku mohon Halwa sayank, aku yakin kamu juga masih menyimpan rasa cinta dan sayang kepadaku. Maka aku mohon bantulah aku untuk menebus semua kesalahanku kepadamu dulu” dengan sangat tulus Trisna memohon kepada Halwa.
            “hmmm.., tanpa kamu memintapun sebenarnya aku sudah akan membantumu ko, karena aku juga menginginkanmu dan menginginkan kita untuk bisa bersatu dengan keadaan yang diridhoi” ucap Halwa dengan nada lirih. “tapiiii…, sepertinya sekarang aku tidak bisa..” sambung Halwa lalu menunduk.
            “kenapa..???” Tanya Trisna singkat.
            “aku dijodohkan Tris” jawab Halwa singkat.
            “lalu, kamu menyetujui perjodohannya,,…???” Trisna menunduk sambil merebahkan badannya diatas kursi taman yang terasa lemas karena mendengar penjelasan Halwa.
            “iya aku menyetujuinya Tris, maafkan aku !! bukan aku tak cinta tapi aku memang harus melakukannya” Halwa pun duduk diatas rumput-rumput ditaman.
            “kalau harus jujur, aku juga sama dijodohkan sama teman ayahku. Dia meminta aku agar aku menyetujui perjodohan ku dengan anak temannya sebagai permintaan terakhir ayahku” ucap Trisna sambil menengadahkan kepala diatas kursi taman.
            “lalu, apakah kamu juga menyetujuinya..???” tanya Halwa dengan perasaan degdegan karena sebenarnya dia tidak mau kalau Trisna harus jadi milik orang lain.
            Ya Allah..
            Mengapa semuanya harus berbelit seperti ini..
            Tunjukanlah aku jalan-Mu yang terbaik..” ucap lirih Halwa dalam hati.
            “aku belum menyetujuinya karena aku belum tahu seperti apakah dia dan bagamanakah dia, aku baru dapat kabar dari mama bahwa ayah memintaku untuk segera menikah dengan wanita pilihan ayah yaitu anak temannya ayah sebagai permintaan terakhirnya” ujar Trisna sambil memegang rambutnya. “ya Allah, jangan biarkan aku mengeluh dengan keadaan ini ya Allah, aku tahu bahwa ini adalah ujian dari-Mu dan ini yang terbaik untuk hidupku dan keluargaku dari-Mu. Tapi.., jika aku boleh meminta, aku mohon aku ingin ayahku sembuh, biar aku yang menggantikannya. Cabutlah nyawaku ya Allah gantikanlah posisi ayahku denganku, aku tak bisa kalau harus melihat ayahku tertidur lemah dengan merasakan sakit yang tak bisa kubayangkan.  Aku belum bisa dan belum sanggup jika aku harus kehilangan orang yang aku sayangi untuk selamanya ya Allah..” Trisna menangis dengan posisi tangan meremas rambutnya. Dia belum sanggup jika harus secepatnya ditinggal oleh orang yang sangat dia sayangi dalam hidupnya apalagi seorang ayah. Hidup memang penuh misteri tiada yang tahu akhirnya karena kita sebagai makhluknya hanya dapat berencana dan yang menentukan adalah Allah.
            innalloha ma’ashoobiriin, sesungguhnya Allah ada bersama orang-orang yang sabar. Jangan seperti itu Trisna, kamu pasti bisa ko. Kenapa kamu jadi berfikiran seperti itu..??? seharusnya kamu bersyukur karena setidaknya kamu masih diberi kesempatan bersama ayah kamu sampai usia kamu seperti sekarang, kamu masih diberi kesempatan bersama-sama dengan ayah dan ibu kamu. Coba kalau kamu lihat anak-anak yang ada di panti asuhan atau dipinggri jalan, mereka belum tentu seberuntung kamu. Jangan berhenti bersyukur Tris, jangan menyerah , tetap bersabar. Aku yakin kamu bisa!!!” Halwa mendekati Trisna lalu memegang pundaknya Trisna sambil menyodorkan selembar tissue untuk menghappus air mata Trisna yang sedikit demi sedikit menetes. Halwa merasa bersalah, merasa kasihan melihat dia seperti itu. Dia merasa tidak tega melihat orang yang dia sayangi seperti itu.
            “Halwaaaaaa…, ayolah bantu aku melaksanakan amanat dari ibuku dan bantu aku melaksanakan permintaan ayahku. Karena aku yakin hanya kamu yang mampu, hanya kamu yang bisa, hanya kamu yang pantas” Trisna menatap dan memohon kepada Halwa dengan air mata menetes satu persatu. “iya oke, dulu aku pernah menyakitimu aku pernah mengecewakanmu dengan alasan yang tidak jelas. Tapi asal kamu tahu aja , semua itu aku benar-benar melakukannya demi kamu, karena aku sayang kamu karena aku ingin melihat masa depanmu seperti apa yang kamu inginka, tapi aku gagal..” Trisna menunduk.
            “maksud kamu Tris..?? aku gak ngerti deh dengan ucapanmu, kamu katakana bahwa kamu sayng aku, bahwa kamu ingin melihat aku bahagia, tapi..?? jelas-jelas kamu malah seakan menunjukan kalau kamu tidak menyayangiku dan justru malah hamper menghambat aku dalam meraih cita-cita dan masa depanku” Tanya Halwa heran dan tak mengerti dengan apa yang Trisna katakan.
            astaghfirulloh, ya Alloh…. (Trisna sedikit menggeram) aaarrrrrggggghhhhhhhhht….” Trisna menutup wajahnya sambil beristighfar.
            “Trisnaaaaa…???? Ayo sekarang kita kembali saja ke rumah, kamu ambil air wudhu sekalian kita siap-siap buat sholat dzuhur karena bentar lagi sudah mau adzan. Aku paling gak mau lihat orang yang aku sayang termasuk kamu seperti itu. Udah gak usah cerita apa-apa tentang perselingkuhanmu, karena aku sudah tahu alasannya, aku memang tidak lebih baik dari wanita itu” Halwa terlihat sedang membendung air mata di wajahnya , Halwa jongkok sambil sedikit demi sedikit membantu Trisna berdiri karena dia terlihat benar-benar lemas dan baru kali ini dia melihat trisna seperti itu.
            Setelah kejadian tadi selesai dan mereka sudah menunaikan sholat berjamaah bersama,  Halwa pun mengantarkan Trisna pulang sampai kedepan pintu gerbang rumahnya. Dari perkataan Trisna  tadi Halwa masih terheran-heran dengan maksud dari kata-katanya tadi, dan Halwa juga penasaran dengan siapakah Trisna dijodohkan dan kenapa waktunya harus bersamaan dengan perjodohan yang juga dilakukan olehnya dan keluarganya. Apakah ini sebuah kebetulan ? atau mungkin perjodohan yang dimaksudkan orang tuanya Trisna sama dengan perjodohannya Halwa..? ah entahlah, Halwa hanya dapat pasrah dengan semua yang telah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi dengan hidupnya. Yang pasti Halwa akan terus tetap mensyukuri apa yang sedang dia miliki saat ini.













Dengan Sabar Ku Mencari Kemudahan
            Keesokan harinya tepatnya pukul 10 pagi tiba-tiba handphone Halwa berbunyi, dan dilihatnya sudah ada 3 sms panjang bagaikan pidato dari sahabatnya yang berisi :
assalamu’alaikum Halwa..?? kamu gimana kabarnya? Sehatkan ? kamu pulang ko mendadak sih non, gak bilang-bilang aku lagi.” Itu adalah sms pertama dari Sutan sahabatnya.
“non, aku punya kabar yang entah menurutmu itu baik  atau buruk tapi yang pasti menurutku ini adalah kabar baik. Kamu udah denger belum tentang Trisna sekarang dia dimana dan bagaimana? Sebelumnya aku minta maaf, kalau aku tiba-tiba nongol dan langsung membawakan kabar tentang Trisna yang pasti mudah-mudahan kabarku membawa perubahan baik” sms kedua dari sutan.
“to the point aja yah, aku kemaren duduk ditempat pas waktu minggu-minggu lalu kita bertemu dibangku taman kampus, waktu itu aku nyimpen tas di bangku lalu tasku lupa gak aku tutup resletingnya kemudian pen ku jatoh dan gak sengaja aku menemukan sebuah buku kecil warna hitam, tadinya sih aku niatnya mau balikin buku itu ke orang yang punya nya makanya aku buka-buka dan aku baca siapa tau ada namanya dan berharap yang punya buku itu adalah cewe dan siapa tau juga itu jodohku,hehe… tapi ternyata pas aku baca *sebagian teks hilang*” sms ketiga tetapi belum lengkap, kemudian muncul kembali sms lanjutan dari sms ketiga yang belum lengkap tadi.
“tapii L aku baca disitu ada nama Trisna, tertulis dengan jelas dan besar mungkin ukuran huruf nya 78,hehe.., lalu ak u gak sengaja membaca sedikit demi sedikit yang akhirnya aku baca semua deh apa isi buku itu, siapa tahu ada nama kamu disana. Dan ternyata memang benar disitu semuanya tertulis namamu disetiap lembarnya, subhanalloh. Sungguh cinta yang tulus (cry emotikon). Kamu harus kembali sama Trisna non, dia ternyata tidak seburuk yang kita kira, ternyata dibalik kejahatannya sama kamu, tersimpan kasih sayang dan cinta yang tulus yang benar-benar cinta sesungguhnya, subhanalloh.. kamu harus tahu langsung apa alasan dia meniggalkanmu dulu, cepat kamu hubungi dia sekarang!!!” sms lanjutan Sutan yang memberi tahu kabar tentang Trisna kepada Halwa.
            Halwa semakin bertanya-tanya dengan ucapan Trisna hari kemarin itu, Halwa juga masih bertanya-tanya mengenai alasan kenapa Trisna dulu melakukan hal itu kepadanya yang belum Trisna jawab juga. Ditambah dengan adanya lagi sms dari sahabatnya yang tiba-tiba membawa kabar tentang Trisna tanpa dia tahu ada apa ini sebenarnya. Kemudian tanpa basa basi sampai tidak sempat membalas sms nya Sutan, Halwa langsung menelphone Sutan setelah ia membaca sampai selesai sms dari sahabatnya. Tapi sayangnya ketika dia menelphone Sutan , jawaban yang ia dapat adalah “the number your calling is no active, please try again latter” . kemudian tanpa basa basi Halwa menghubungi Trisna tetapi ketika dia menghubungi Trisna dia hanya mendapat jawaban sms automatic yang isinya “sorry, I will call you latter” dari Trisna ketika Trisna tak sempat menjawab dan itu artinya dia sedang sibuk sampai-sampai dia mengirimnya sms automatic saat Halwa menghubunginya. Karena dia tahu kalau Trisna hanya pernah satu kali mengirim sms automatic seperti itu kepadanya, itupun saat dulu ia sibuk mengurus ayahnya yang sedang kritis dan itupun 2 tahun yang lalu. Sebenarnya ada apa ini ya Allah..?? Halwa terus saja berpositif thinking dengan kejadian sekarang dan berharap semoga semuanya baik-baik saja. Untuk lebih menenangkannya Halwa kemudian segera bergegas untuk mengambil air wudhu dan kemudian dia menunaikan sholat dhuha yang masih dapat ia laksanakan. Halwa memang selalu melakukan hal seperti ini, ketika dia mendapat sebuah hal yang membuatnya tidak tenang , maka ia akan langsung menunaikan sholat. Dan ketika kebetulan ia mendapat ketidak tenangan saat sedang berada ditengah-tengah waktu sholat dzuhur dan ashar, ashar dan maghrib maka sholat yang ia lakukan adalah sholat mutlak. Kalaupun waktunya tidak memungkinkan untuk sholat ia selalu membaca al-qur’an yang selalu ia bawa di dalam tas nya. Ataupun ketika keadaanya sangat tidak memungkinkan untuk sholat ataupun membaca al-qur’an maka ia akan langsung melantunkan dzikir ataupun bersholawat sambil ia mendengarkan sholawat atau lantunan ayat suci al-qur’an yang ada di playlist handphonenya.
            Halwa selesai menenangkan hatinya dengan sholat dan dzikir kepada Allah dan kemudian dia sedikit menekankan tangannya kedadanya secara perlahan sambil membaca Q.S Al-insyirah sebanyak 7 kali agar hatinya semakin tenang. Ia selalu melakukan hal itu karena dia tahu bahwa Al-Qur’an adalah sebagai Syifa atau obat yang paling manjur untuk menyembuhkan semua macam penyakit. Ia juga mengetahui cara itu dari tausyiah gurunya dulu ketika ia duduk di bangku SMA. Tak lama kemudian, “kring kring kriiiiiinggggggg……” tiba-tiba handphonenya Halwa berbunyi dan dilihatnya adalah panggilan dari Trisna. Kemudian “halo assalamu’alaikum..??” Halwa memulainya. “wa’alaikumsallam.. nak Halwa ibu hanya mau menyampaikan pesan dari Trisna yang katanya dia minta maaf karena tadi dia tidak mengangkat telephonmu dan sampai sekarangpun dia juga minta maaf belum bisa menelphonemu karena dia sedang sibuk dan ini mamanya Trisna” ucap mamanya Trisna dengan nada tenang dan  tanpa basa-basi langsung menyampaikan amanat dari Trisna, karena Trisna sedang sibuk mengurusi ayahnya yang sedang kritis di rumah sakit. Tetapi mamanya terdengar begitu tenang oleh halwa.
            “oh iya tante tidak apa-apa, tetapi saya heran aja tumben Trisna sesibuk itu. Emangnya Trisna sedang sibuk apa tante??” Tanya Halwa sedikit agak ragu dengan jawaban mamanya Trisna.
            Tanpa terdengar jawaban dari mamanya Trisna tiba-tiba telephonenya terputus dan Halwa malah merasa degdegan. “ya Allah jangan biarkan aku merasa terhimpit oleh suatu keadaan,karena aku yakin setiap keadaan pasti berubah.karena sebaik-baiknya ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Dan aku yakin bahwa Allah akan menciptakan sesuatu yang baru setelah ini semua, karena sesungguhnya setelah kesulitan itu akan muncul kemudahan” do’a Halwa dalam hati sambil sedikit menunduk dan terduduk lesu.
            “Halwa sekarang aku tunggu kamu jam 10 di taman panti asuhan Kasih Bunda” tiba-tiba sms Sutan mendadak ngajak bertemu. Tanpa berfikiran untuk membalasnya Halwa pun langsung bergegas bersiap-siap untuk pergi menemui Sutan.
            assalamu’alaikum..” ucap salam Halwa ketika dia sudah sampai dan bertemu dengan Sutan. Karena kebetulan jarak dari rumahnya Halwa  ke panti asuhannya hanya membutuhkan waktu setengah jam.
            wa’alaikum sallam, nona akhirnya kamu datang juga, aku kira kamu gak akan datang soalnya kamu gak jawab smsku” jawab Sutan.
            “iya aku pasti datang kok, soalnya aku takut ada hal penting. Aku sengaja gak jawab sms kamu soalnya aku langsung siap-siap begitu dapet sms dari kamu, sekalian aku juga ada perlu sama kamu”  ucap Halwa dengan nada tergesa-gesa seperti orang kecapean, karena jarak dari pintu depan ke taman lumayan berjarak apalagi harus melewati beberapa anak tangga.
            “iya bagus kalo gitu. Nona kamu harus dengerin cerita dari aku yang kemaren di sms itu belom beres” ujar Sutan sambil meletakan tas nya diatas bangku taman.
            “iya silahkan, langsung aja Tan. Soalnya aku juga penasaran dan banyak hal lain juga yang ingin tanyakan ke kamu” jawab Halwa dengan wajah penuh pertanyaan.
            “Halwa cantiiiikk.., maafkan aku jika selama ini aku selalu menjelek-jelekan Trisna didepan kamu , karena aku tidak tahu yang sebenarnya. Tapii, sekarang kamu harus dengerin aku dan kamu harus langsung menemui dia” tegas Sutan berucap sambil menatap Halwa. Kemudian Sutan melanjutkan pembicaraannya tanpa memberi waktu untuk Halwa berbicara “kamu harus tahu, sebenarnya Trisna dulu mengkhianati kamu itu karena dia benar-benar menyayangimu sampai-sampai setelah dia bersama wanita selingkuhannya pun dia masih selalu mengawasi kamu dibanding wanita itu. Asal kamu tahu sebenarnya Trisna  mengawasi dan memperhatikanmu tetapi dari kejauhan” ucap Sutan panjang lebar.
            “terus..? kamu tahu darimana semua itu..?? frujooo…” Tanya Halwa dengan santai.
            “aku tahu semuanya dari buku ini” jawab Sutan sambil memperlihatkan buku kecil yang dia temukan kemarin.
            “lalu hanya dengan adanya buku ini kamu langsung begitu saja percaya..??” Tanya kembali Halwa.
            “iya., aku cukup percaya dan ikut merasa bersalah karena aku telah suudhon kepadanya. Dari adanya buku ini aku sudah percaya dan aku juga yakin bahwa dulu dia melakukan pengkhianatan itu bukan semata-mata karena keinginannya saja. Tapii.., dia melakukan perselingkuhan dan menjauhimu karena dia lebih menyayangimu dan menginginkanmu bahagia dengan masa depanmu. Dia dulu selingkuh karena dia terpaksa, karena permintaan ayahnya yang sedang kritis dan memintanya untuk segera menikah, dan dia berinisiatif untuk mencari wanita lain yang sudah siap untuk menikah dengannya namun dia gagal karena sudah terbukti bahwa wanita yang menjadi selingkuhannya dulu malah hanya menginginkan hartanya saja padahal wanita itu sudah memiliki kekasih dan alasan yang paling penting yang harus kamu tahu saat dia dulu lebih memilih wanita lain dan lalu meninggalkanmu karena dia sangat mencintaimu dan dia lebih menginginkanmu untuk meraih cita-citamu dulu karena dia tahu bahwa masa depanmu masih panjang dan karena itulah dia lebih baik meninggalkanmu dan lebih memilih menyakiti dirinya karena harus berpisah denganmu daripada dia harus mengorbankan masa depanmu. Tapi sekarang dia berrniat untuk kembali padamu karena dia yakin bahwa kamulah yang memang benar-benar cocok untuk dia tapi ayahnya malah sudah memiliki calon istri untuknya yaitu akan menjodohkan Trisna dengan teman ayahnya dulu” dengan sangat jelas Sutan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Trisna saat ini. “ternyata Trisna adalah sosok lelaki hebat, dia lelaki yang bertanggung jawab, subhanalloh” sambung Sutan.
            “ya Allah” Halwa menangis mendengar apa yang dikatakan oleh Sutan.
            “makanya sekarang aku mohon, kamu kembali padanya lalu menikahlah dengannya Halwa, aku menyayangimu dan aku ingin melihat orang yang aku sayangi bahagia kamu adalah sebagian dari hidupku wahai sahabatku” ucap Sutan dengan nada lembut dan memegang kedua pundaknya Halwa yang sedang menangis.
            “iya makasih Sutan, aku juga menyayangimu sahabatku sekaligus kakaku. Tapi bagaimana aku bisa kembali pada Trisna karena sekarang Trisna sudah dijodohkan dengan wanita lain dan begitupun aku, aku juda sudah dijodohkan dengan lelaki lain oleh ayahku dan kemungkinan besar aku menyetujuinya dan akan segera melangsungkan pernikahan karena terdesak oleh situasi dan kondisi keluarganya lelaki yang akan dijodohkan denganku” Halwa menatap Sutan.
            “tapi aku yakin , kalian dapat bersatu. Aku akan berdo’a untuk kebahagiaan kalian , aku berdo’a untuk orang-orang yang aku sayangi agar dapat bahagia dan selalu berada dalam keridhoan Allah, amiin..” ucap semangat Sutan untuk Halwa.
            “terus sekarang bagaimana keadaan Trisna Tan..??” Tanya Halwa singkat.
            “tadi aku mencari dia dikampus tapi tidak ketemu katanya dia sedang pulang ke rumahnya karena kondisi ayahnya kritis kembali, dan kemungkinan dia juga akan secepatnya menikahi wanita yang akan dijodohkan dengannya sebelum ayahnya meninggal karena katanya ayahnya menderita penyakit yang mematikan dan dokter memvonis umur ayahnya tidak akan lama lagi apalagi sekarang sedang kritis” jawab Sutan. “tapi kamu jangan menyerah, tetaplah berhusnudhon nona. Aku yakin dia adalah cinta sejatimu dari Allah untuk kamu” sambung Sutan sambil menyemangati Halwa.
            “kalau begitu sekarang kamu antar aku ke rumah sakit yang sedang ayahnya Trisna dirawat, kamu tahu dimana rumah sakitnya?” ajak Halwa kepada Sutan dengan semangat dan sambil menghapus air matanya yang mengering di pipinya.
            “iya aku tahu, ayo sekarang juga aku antar karena kebetulan aku membawa motor” jawab Sutan sambil bergegas pergi menuju motornya dan menggandeng tangan Halwa agar cepat.
            Akhirnya mereka berdua bersama-sama pergi menuju rumah sakit dan akan menemui Trisna dan juga melihat kondisi ayahnya Trisna. Sepanjang perjalanan dia terbayang terus dengan wajahnya Trisna dan juga pengorbanannya yang sangat luar biasa demi orang-orang yang sangat dia sayangi. Halwa tak menyangka bahwa Trisna akan melakukan hal itu dan dia tak menyangka bahwa sangat besar kasih sayang dan cintanya Trisna untuk Halwa. Subhanalloh..
            “Ya Allah..
            Mudahkanlah jalanku agar aku dapat bersatu dengannya..” ucap lirih Halwa dalam hati, dan akhirnya mereka sampai dirumah sakit tempat ayahnya Trisna dirawat. Kemudian dia bertemu dengan Trisna yang sedang duduk diruang tunggu tempat ayahnya dirawat dan disana terlihat dia sedang bersama seorang wanita setengah baya disampingnya dan itu adalah ibunya Trisna. Trisna dan ibunya terlihat sangat sedih duduk dibangku dan kemudian Halwa dan Sutan menghampirinya.
            assalamu’alaikum.. permisi..?” salam Halwa dengan posisi berdiri didepan Trisna dan ibunya. Sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan ibunya Trisna. Begitupun dengan Sutan yang sama-sama bersalaman dengan ibunya Trisna.
            wa’alaikumsallam, Halwa Sutan..???” sambil mengangkat kepalanya yang sedang menunduk Trisna terlihat kaget dengan kedatangannya Halwa dan Sutan disana karena dia sama sekali tidak memeberitahunya tentang keberadaannya disana.
            Belum sempat menjawab tanya Trisna , Sutan pun kembali bertanya dan menyapa “assalamu’alaikum tante, maaf jika kedatangan kami mengganggu. Gimana kabarnya tante? Dan bagaimana keadaanya ayah Trisna? Tris, kamu juga gimana kabarnya?” Tanya Sutan tentang kabar dan keadaan ayahnya Trisna kepada mamanya Trisna yang terlihat lesu. Sutan juga menyapa Trisna yang terlihat berbeda dan Sutan juga menanyakan keadaan Trisna.
            wa’alaikumsallam, iya tidak apa-apa nak, tanten justru merasa senang dengan kedatangan kalian kesini yang jauh-jauh hanya untuk menengok kami disini. Alhamdulillah nak tante baik-baik saja dan keadaannya ayah Trisna juga insya Allah akan cepat membaik , tante minta do’anya dari kalian untuk kelancaran dan kesembuhan ayahnya Trisna yang mungkin kalian bisa ketahui sendiri bagaimana keadaanya sekarang” mamanya Trisna sedikit menetesakan air mata.
            Alhamdulillah Tan seperti yang kamu lihat beginilah keadaan aku dan keluargaku, tapi insya Allah kami akan baik-baik saja. Kalian ada apa kesini dan kalian tahu darimana aku ada disini..??” Tanya Trisna kepada Sutan dan juga Halwa.
            “iya kami berdo’a semoga kamu dan keluargamu dalam keadaan baik dan selalu dalam lindungan Allah Tris. Kami sengaja kesini ingin menemuimu dan ingin melihat kondisi dan keadaan ayah kamu yang aku denger dari temen-temen kampusmu bilang katanya sedang kritis” jawab Sutan tenang.
            “Iya Tris aku sengaja kesini ingin bertemu denganmu juga, maafkan kami selama ini” potong Halwa sambil menunduk sedikit tanpa menatap Trisna.
            “yasudah tante mau keluar sebentar ya nak , tante mau ke mushola sebentar. Tidak apa-apa kalau tante tinggal kalian disini sebentar bersama Trisna..???” potong kembali ibunya Trisna yang meminta izin untuk keluar menunaikan sholat dzuhur sebentar.
            “oh iya tante silahkan, tidak apa-apa tante” jawab Sutan singkat.
            “yasudah kalau begitu tante tinggal ya nak” ucap ibunyaa Trisna sambil memegang pundanknya Halwa yang sedang dipinggirnya dan kemudian ibunya Trisna berjalan menuju arah luar dan meninggalkan mereka.
            Sekarang mereka tinggal bertiga dan kemudian mereka bertiga melanjutkan pembicaraannya. “ iya tidak apa-apa ko. Terus kalian kesini sengaja ingin bertemu denganaku juga kah??” Tanya kembali Trisna kepada Halwa dan juga Sutan.
            “iya aku dan Sutan sengaja kesini dan kita sudah tahu semuanya Tris. Aku minta maaf atas kesuudhonanku kepadamu selama ini” jawab Halwa dengan sedikit malu.
            “maksud kamu tahu semuanya tentang apa? Iya tidak apa-apa justru aku yang seharusnya minta maaf sama kamu karena udah menyakitimu. Dan sebelum aku nanti benar-benar meninggalkanmu aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu. Dan harus kamu tahu juga bahwa cinn……” belum sempat dia melanjutkan perkataannya tiba-tiba Halwa memotong pembicaraan Trisna yang belum selesai terucap.
            “bahwa kamu cintaaaaa sama aku kan..???” sambil tersenyum dan sedikit menghibur Halwa mengucapkan kalimat itu karena dia tahu bahwa Trisna akan mengatakan itu.
            “iya benar, bahwa aku cinta sama kamu tetapi maafkan aku jika nanti aku akan benar-benar meninggalkanmu dan semuanya kulakukan juga demi kebaikan, kebahagiaan dan masa depanmu. aku akan segera melangsungkan pernikahan setelah keadaan ayahku kembali stabil dengan wanita pilihan ayahku nanti. Aku menuruti permintaan ayahku karena aku takut itu permintaan terakhir ayahku yang harus aku wujudkan. Meskipun aku juga berharap semoga ayah dapat sembuh total dari sakitnya sekarang” Trisna kembali melanjutkan pembicaraannya dan kembali menjelaskan kepada Halwa bahwa dia akan segera menikah dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya.
            “iya tidak apa-apa, mungkin ini sudah jalan takdir kita, dan entah kenapa kita harus sama-sama mengalami perjodohan. Tapi aku selalu berharap mudah-mudahan ini jadi yang terbaik buat kita semua. Tak usah bersedih Tris J aku juga sama mungkin akan segera melangsungkan pernikahan tanpa proses ta’aruf terlebih dahulu karena keadaanya sangat mendesak” dengan mencoba terus tersenyum didepan Trisna dan juga Sutan dengan keadaan hati sebenarnya sangat merasakan sakit dan matanya sudah seakan tak kuat menahan dan membendung air mata yang ingin keluar, tetapi ia terus mencoba menahannya karena dia tidak ingin mereka berdua tahu apa yang sedang ia rasakan sebenarnya.
            “tapi aku justru memiliki keyakinan lain , aku yakin dan percaya bahwa ini adalah salah satu lika-liku kisah cinta kalian yang akhirnya nanti kalian akan dapat kembali menyatu” potong Sutan mengucapkan apa yang ia pikirkan sambil memegang pundaknya Trisna dan juga Halwa sambil melemparkan senyuman semangat kepada mereka.
            “iya amiin, aku juga tidak berhenti berharap seperti itu, walau dengan kenyataannya seperti ini. Dan sekarang kita sama-sama berdo’a aja untuk kebaikan dan keberkahan hidup kita semua” Trisna kemudian melanjutkan perkataan dari Sutan.
            Akhirnya mereka bertiga sama-sama saling menyemati dan saling berdo’a untuk kebaikan dan keberkahan semuanya. Halwa, Sutan dan juga Trisna kini telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan mereka. Sungguh kisah yang indah. Mereka berbincang-bincang dengan keadaan hati masing-masing yang berbeda tetapi mereka bertiga sama-sama berusaha menampilkan kebahagiaan. Dan tanpa terasa ibunya Trisna sudah kembali dari luar dan kemudian mereka bertiga kembali mengobrol bersama-sama dengan ibunya Trisna kembali.
           






            Aku, Dia dan Perjodohan
Kemudian dua minggu telah berlalu dan terdengar kabar bahwa ayahnya Trisna sudah kembali pulih dan otomatis Trisna pun akan segera melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi, karena besoknya dia akan persiapan untuk bertemu langsung dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya dan juga untuk memastikan acara nanti pernikahannya dengan keluarga pihak wanita yang serba mendadak. Mereka semua sekarang hanya bisa tawakal dan bersabar juga bersyukur. Karena jika mereka melihat kembali kebawah maka mereka termasuk orang-orang yang beruntung dan harus banyak-banyak bersyukur karena masih bisa hidup dengan keadaan yang cukup, keluarga yang masih lengkap juga masih diberi pemikiran yang jernih dan masih diberi kesempatan untuk bisa memperbaiki hidup. Sedangkan disana masih banyak orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kita. Maka dari itu perbanyaklah bersyukur dengan apapun yang kita miliki saat ini. Tetap berhusnudhon kepada yang Allah berikan J .
            Hari ini adalah hari dimana akan diadakan pertemuan antaran calon pengantin perempuannya Halwa dan calon pengantin laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Dan pertemuannya diadakan disebuah pesantren dekat rumahnya Halwa, yang menentukan dan memilih tempat untuk pertemuan ini adalah dari pihak calon pengantin wanita yaitu keluarganya Halwa dan yang memilih pertemuannya dilaksanakan disebuah pesantren adalah Halwa sendiri karena dia berniat ingin berbagi kebahagiaan bersama anak-anak santriwati dan santriawan karena kebetulan pesantren itu jarak nya lumayan dekat dengan rumahnya Halwa dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Acara pertemuannya bertema islami, dari mulai pakaian , acara penyambutan sampai makanan pun khas islami dari pesantren. Dan pada saat itu Halwa terlihat sangat cantik dan berseri, dia berpenampilan syar’I dengan menggunakan gaun berwarna hijau tua dan dilengkapi dengan kerudung panjang sampai menutupi kedua tangannya Halwa berwarna hijau muda. Dia sangat terlihat anggun dan terlihat wajah bahagia. Sambil menunggu kedatangan calon pengantin laki-laki , Halwa beserta keluarganya sudah bersiap-siap menyambut didepan pintu dan kemudian sudah terlihat mobil berwarna putih yang menuju pesantren dan sepertinya itu adalah mobil keluarga calon mempelai pengantin laki-laki. Halwa dan keluargapun semakin bersiap-siap, tetapi Halwa merasa degdegan sampai akhirnya dia kebelet pipis. Kemudian setelah benar-benar keluarga calon mempelai laki-laki sudah datang dan sudah berada di dalam ruangan yang telah disediakan maka suasana berubah menjadi ramai meskipun calon pengantin laki-laki yang akan dijodohkannya belum menampakan diri didepan kedua keluarga tetapi obrolan demi obrolan bermunculan dan meramaikan isi ruangan itu. Dan Halwa belum juga terlihat muncul dari kamar mandi. Kemudian, akhirnya laki-laki yang mamanya Halwa nantikan telah muncul dan serentak mama dan ayahnya Halwa kaget karena yang muncul adalah Trisna temannya Halwa yang beberapa minggu lalu sempat berkunjung ke rumahnya. Dan tiba-tiba “kamuuuu….???” Dengan wajah terheran-heran mama dan ayahnya Halwa serentak bersamaan mengucapkan kata kamu yang ditujukan kepada Trisna.
            “tanteeee…??? Ommm…???? Kenapa ada disinin ????” Tanya kembali Trisna kepada ayah dan ibunya Halwa yang baru ia lihat. Trisna juga sama membalasnya dengan wajah terheran-heran mengapa mereka ada disana. Lalu “jangan-jangaaannn…” tiba-tiba Trisna berhenti bicara karena didepannya terlihat ada Halwa baru keluar yang memotong pembicaraannya karena Halwa juga terlihat kaget saat melihatnya berada disana.
            “Trisnaaaa…??? Ko kamu bisa ada disini…????” sambung lagi Halwa bertanya dengan sama-sama memasang wajah terheran-heran.
            Tibs-tiba, sebelum mereka semua menjawab semua pertanyaan masing-masing disana terlihat seorang lelaki yaitu Sutan yang juga langsung terlihat kaget karena begitu dia sampai di pintu dia langsung melihat jelas wajah Trisna dan Halwa yang berada bersamaan disana lalu “ kaliaaaannn…???? Koooo…????” sambung Sutan yang kembali melemparkan pertanyaan yang masih sama.
            Suasana berubah menjadi hening saat semuanya terlihat kaget saat mereka menyadari bahwa mereka saling mengenal. Dan sekarang telah muncul jawaban dari perkiraan yang dulu pernah Sutan ucapkan yaitu perkiraan dan keyakinannya yang mengatakan dia yakin bahwa Halwa dan Sutan akan benar-benar menyatu.
            ya Allah ya Rabbana… subhanalloh… aku tak mengira semuanya akan berakhir seperti ini, Subhanallohi walhamdulillahi walaaillaha illallohuallohuakbar” ucap syukur Trisna setelah melihat dan menyadari bahwa sebenarnya wanita yang selama ini tidak ia ketahui yang akan dijodohkan dengannya adalah Halwa, Halwa adalah wanita yang sesungguhnya ia cintai dan harapkan untuk menjadi pendampingnya kini telah menjadi kenyataan, subhanlloh. Sungguh akhir yang begitu indah dan sungguh Allah memang benar-benar selalu memberikan yang terbaik untuk makhluknya yang mencari kemudahan dengan bersabar.
            “mungkin ini jawaban do’a kita dari Allah SWT” Halwa berucap dengan nada lirih sambil teresenyum menatap ea rah Trisna.
            “Alhamdulillah ya Allah engkau telah mengabulkan do’a kami senmua” spontan Sutan pun  menambahkan ucapan syukurnya Halwa kepada Allah.
            Setelah selesai saling mengungkapkan keheranan mereka akhirnya suasana pun berubah semakin ramai dan semakin menambah kebahagiaan dua keluarga itu. Terutama menambah kebahagiaan bagi Halwa dan Trisna tentunya. Terbukti, jika memang kita bersabar maka Allah juga akan mempermudah apa yang kita inginkan. Innalloha maashoobiriin…
            “om dan tante sungguh tidak menyangka bahwa kamu adalaah lelaki yang kami tunggu untuk dijodohkan dengan Halwa” ucap bahagia ayahnya Halwa sambil menatap dan menunjuk Trisna sambil tersenyum.
            “iya om, apalagi saya. Saya sangat gak menyangka bahwa Halwa lah yang akan menjadi jodoh saya dalam perjodohan ini. Dan saya sangat merasa bersyukur sekali karena Allah telah mempermudah kami untuk bersatu. Dan anehnya lagi, ketika saya memutuskan untuk menyetujui perjodohan ini, saya benar-benar merasa tenang seakan saya sudah diberi tahu bahwa ternyata saya akan dijodohkan dengan Halwa , subhanalloh.. sungguh scenario Allah yang luar biasa” sambil tak henti-hentinya Trisna mengucapkan syukur dia pun terus menjawab setiap perkataan yang dilontarkan oleh orang-orang disana.
            “berarti sebelumnya kalian sudah saling kenal ternyata, tetapi kenapa saya tidak mengetahui sebelumnya yah?” semua pun tertawa bahagia saat mamanya Trisna mengeluarkan kalimat itu. Ayahnya Trisna pun terlihat sangat bahagia dan terlihat segar saat itu dan ikut tertawa bersama dan larut dalam kebahagiaan yang tercipta. Dalam hati ayahnya Trisna berkata “subhanalloh, ya Alloh terimakasih engkau telah memberikanku kesempatan untuk masih bisa tersenyum bahagia bersama orang-orang yang aku sangat sayangi dan terimakasih engkau masih memberiku kesempatan melihat anakku bahagia menyambut hari bahagianya nanti bersama pendampingnya. Dan jika aku boleh meminta, aku ingin hidup lebih lama lagi dengan kebahagiaan seperti ini selalu tercipta dalam setiap detik detak jantungku. Aku ingin hidup lebih lama lagi dengan mereka semua sampai nanti aku melihat kehadiran seorang cucu., amiin ya Allah., hanya kepada-Mulah aku meminta dan hanya kepada-Mulah aku memohon pertolongan” do’a ayahnya Trisna dalam hati. Keputusan dari pertemuan dua keluarga hari ini adalah akan berlangsungnya pernikahan antara Halwa dan trisna yang akan dilaksanakan pada hari jum’at seminggu kemudian. Halwa dan Trisna terlihata sangat bahagia dengan perjodohan ini, begitupun dengan Sutan yang juga sangat terlihat bahagia melihat sahabatnya dapat menyatu bersama orang yang sangat dia cintai dan dia harapkan untuk menjadi imam hidupnya. Allah memang maha segalanya dan Allah tidak pernah mempersulit apapun yang ia kehendaki. Subhanalloh…
            Ketika acara sudah selesai dan kesepakatan sudah didapat akhirnya kedua keluarga itu pun harus kembali berpisah dan pulang ke rumah masing untuk memulai mempersiapkan segala sesuatu yang akan mereka butuhkan nanti untuk acara resepsi pernikahan anak-anaknya. Tetapi setelah acara selesai Halwa dan Trisna meminta izin kepada orangtuanya masing-masing agar mereka berdua berbicara empat mata dilain tempat sebelum mereka berpisah untuk pulang. Orangtua merekapun mengizinkan tetapi diberi waktu agar mereka tidak terlalu lama. Kemudian Halwa dan Trisna pun bergegas keluar menuju aula mesjid dan kemudian di ikuti oleh Sutan dari belakang mereka sambil melihat kebahagiaan mereka berdua.
            Alhamdulillah.., aku sangat bahagia hari ini Tris” Halwa menatap langit dari pinggir aula mesjid sambil berdiri.
            “ begitupun aku, aku sungguh sangat bahagia ternyata kamulah jodohku dan kamu cinta sejatiku yang akan menemani sepanjang hariku dengan kebahagiaan yang diridhoi Allah” ucap Trisna menyambung perkataannya Halwa.
            Kemudian dari belakang terdengar suara “Alhamdulillah, tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Allah untuk kebahagiaan yang tiada terkira dihari ini dan semoga akan terus seperti ini. Aku turut bahagia melihat kalian berdua menyatu wahai para sahabatku, do’a kalian, do’aku dan do’a kita semua telah terkabul. Aku hanya bisa memberikan do’a yang terbaik buat kalian berdua dan buat kita semua, semoga kalian selalu dalam kebaikan, perlindungan, dan keridhoan Allah dan semoga semuanya menjadi keberkahan buat kita semuanya. Amiin… aku titip sama kamu Tris, jaga sahabatku, jaga dia lahir bathin, sayangi dia kasihi dia seutuhnya. Jangan kamu pernah kecewakan dia, tegur dia jika dia salah, ingatkan dia jika dia lupa dan tolong bombing dia sahabatku menjadi wanita muslimah sejati yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Aku hanya bisa menitipkannya padamu. Dia adalah merupakan sebagian dari hidupku” pesan Sutan kepada Trisna sambil memegang pundaknya Trisna dan menatap keatas langit dari pinggir aula.
            insya Allah aku akan melaksanakan apa yang kamu minta dan semua yang kamu minta juga merupakan tanggung jawabku sebagai calon imamnya yang harus ditepati” jawab Trisna sambil kembali memegang dan merangkul Sutan.
            subhanlloh, kalian memang malaikat ketiga ku setelah orangtuaku” Halwa tersenyum dan meneteskan setitik air mata bahagia. Mereka bertiga masih dalam posisi berdiri dipinggir aula mesjid sambil menatap langit yang saat itu terlihat sangat cerah seakan ikut menyambut dan mengiringi kebahagiaan mereka semua.


















                                                                                                       


 Ketika Akad Terucap, Bahagiaku Semakin Tercipta
            Hari yang dinantipun telah tiba setelah seminggu berlalu akhirnya penantianpun telah berakhir, hari ini adalah hari dimana mereka berdua akan benar-benar menjemput kebahagiaan mereka dengan diiringi rasa degdegan karena akan menyambut seuatu momen dimana momen ini merupakan momen terindah yang insya Allah hanya akan  terjadi sekali seumur hidup mereka, amiin. Keluarganya Halwa telah mempersiapkan tempat untuk acara resepsi dan juga akad nikah yang akan dilaksanakan hari ini. Tempat yang Halwa pilih adalah mesjid agung terdekat yang ada di daerahnya yaitu mesjid agung Al-istiqomah. Semuanya terlihat bahagia saat itu, keluarga Halwa sebagai penerima pun sangat terlihat bahagia dan begitupun keluarganya Trisna yang juga sama-sama telah mempersiapkan segalanya. Namun, sebelum acara dimulai ayah dan mamanya Halwa memanggil dan mengajak Halwa masuk kedalam ruangan khusus untuk nanti berkumpul setelah akad selesai  untuk memberikan pesan terakhir kepada anaknya yang akan segera diambil oleh imamnya. Disana mereka berbicara dan saling mengungkapkan perasaan mereka dan juga memberikan pesan-pesan mereka.
            “nak, ayah sangat bahagia dihari ini dengan melihat kamu sekarang akan menjadi seorang istri untuk suamimu nanti, semoga kamu selalu dalam lindungan Allah dan semoga menjadi keberkahan buat semuanya, ayah selalu berdo’a yang terbaik buat kamu nak. Kamu adalah anak satu-satunya ayah, kau harapan kami. Dulu kami merasakan kebahagiaan yang sama  yang pertama kali muncul yaitu ketika kami menyambut kelahiranmu di dunia ini dan kebahagiaan kedua telah tercipta dihari ini dimana kami harus menyerahkanmu kepada imammu setelah dulu kami bersusah payah membesarkanmu sampai sekarang waktunya kamu harus diambil dan menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri untuk suamimu. Maafkan ayah dan ibu jika selama ini ayah dan ibu tidak bisa memberikan yang terbaik untuk hidupmu, ayah dan ibu tidak bisa selalu memberikan kebahagiaan untukmu, ayah dan ibu juga tidak bisa memenuhi semua apa yang kamu inginkan selama kamu bersama kami” ucap ayah sambil menangis dan memeluk erat Halwa yang akan segera diserahkan kepada calon imammnya.
            “ayaaahhh ibuuu,… jangan berbicara seperti itu, Halwa cukup merasakan bahagia yang sangat luar biasa selama Halwa hidup bersama kalian, kalian anugerah terindah buat Halwa, tanpa kalian Halwa tidak akan pernah ada. Justru Halwa yang seharusnya berbicara seperti itu, Halwa lah yang seharusnya meminta maaf jika selama ini Halwa belum bisa jadi yang terbaik untuk kalian, Halwa belum bisa membalas semua kebaikan ayah dan ibu selama Halwa hidup, Halwa sayang dan cinta sama ayah dan ibu kalian takkan terganti dan cinta kasih kalian tiada tertandingin” sambung Halwa halwa sambil menangis terisak dalam pelukan ayah dan ibunya.
            “Halwa sayankkk…, jadilah istri yang berbakti dan taat kepada suamimu nanti, jangan pernah membuat amarah nya keluar, bahagiakanlah suamimu lahir dan bathin. Dan semoga kalian jadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah, hanya do’a yang terbaik yang dapat mama berikan untukmu anakku tersayang” sambung mama sambil menangis dan menatap Halwa. Dan suasana saat itu berubah sangat dramatis dan penuh dengan tangis kebahagiaan. Dan tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu ruangan tersebut, dan dia adalah Sutan sang sahabat yang selalu setia kepada Halwa sejak mereka duduk dibangku sekolah dasar hingga sekarang salah satu diantara mereka akan melaksanakan pernikahan.
            assalamu’alaikuum, permisi.., Halwa? Om ? tante ? apakah kalian yang sedang ada didalam ?” sambil mengetuk pintu Sutan bertanya.
            wa’alaikumsallam, iya Tan ini kami. Ada apa..?? sebentar lagi kami akan keluar”  jawab ayahnya Halwa sambil mereka membersihkan dan mengeringkan air mata yang bercucuran diwajah mereka dan kemudian mereka keluar bersamaan.
            “oh iya maaf om tante dan Halwa, sekarang sudah waktunya siap-siap, calon pengantin laki-laki sedang diperjalanan menuju kesini” ujar Sutan memberi tahu bahwa kedatangan calon mempelai laki-laki sedang meuju kesini. Ketika mama dan ayahnya Halwa meninggalkan Halwa bersama Sutan kedepan , kemudian Halwa dan Sutan pun kembali berbicara empat mata diruangan mak up sambil memperbaiki make up Halwa yang sedikit luntur bekas terkena air mata dan goresan-goresan tisu.
            “Halwa , selamat menempuh hidup baru. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Ini yang kamu cita-citakan dan selalu terucap dalam setiap do’amu kini telah terwujud dengan mudah. Dihari yang sangat berbahagia ini aku tidak bisa memberikan apapun yang berharga untukmu selain do’a yang terbaik untuk kalian. Maafkan aku jika selama kamu mengenalku aku belum bisa memberikan sesuatu yang kamu inginkan yang kamu harapkan dan belum bisa memberikan yang terbaik untuk hidup kamu selama kamu kenal denganku. Kamu sahabatku, kamu adikku, kamu keluargaku, dan kamu separuh dari hidupku. Aku menyayangi dan kasih sayangku kepadamu akan terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku akan menitipkan kamu sebagai sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku kepada Trisna agar menjagamu dan membimbingmu ke jalan yang lurus dan diridhoi Allah. Banyak kata yang ingin aku katakan tapi tidak mungkin semuanya harus aku ungkapkan saat ini, yang pasti aku menyayangi dan aku sangat merasakan kebahagiaanmu saat ini, I love you my best friend Halwa si ulat hijau” Sutan berucap dengan mata berkaca-kaca karena merasa sangat sedih dan seakan akan kehilangan seseorang yang dia sayangi dalam hidupnya selama ini.
            Halwa kembali menangis mendengar setiap kata demi kata yang terucap dari mulutnya Sutan. Dia seakan akan pergi dan meninggalkan orang-orang yang sangat dia sayang dalam hidupnya. Sutan memberikan helai demi helai tissue ketangannya Halwa dan sesekali dia ikut membersihkan dan mengeringkan air matanya Halwa yang terus bercucur dari matanya.
            “terimakasih wahai sahabatku prustasi jomblo, aku gak tahu harus bilang apa kepadamu. Kamu yang selalu melindungiku disaat aku jauh dari orangtuaku dari orang yang menyayangiku, kamu selalu hadir disetiap suka dan duka ku. Tapi jika suatu saat nanti aku membutuhkanmu maka kamu jangan pernah bosen dan jangan pernah mengatakan tidak mau ketika aku menginginkanmu” sambil terus bercucuran air mata Halwa terus berucap.
            Akhirnya setelah mereka selesai berucap, kini sudah waktunya mereka untuk segera berada ditempat akad nikah karena sang mempelai pria sudah sampai dan menunggu keluarnya mempelai wanita dari ruangan. Pada momen ini Halwa sangat terlihat cantik, anggun dan bercahaya dengan mengenakan kebaya berwarna putih dengan make up yang sederhana juga dengan memakai kerudung yang syar’i sampai menutupi kedua tangannya. Halwa terlihat tampil dengan sederhana dan lebih agamis saat itu. Trisna terlihat sangat terpukau dengan Halwa dihari ini dan Trisna begitu terlihat sangat bahagia ketika dia memandang Halwa yang sedikit demi sedikit berjalan menuju tempat duduk yang telah disediakan dan tepat disebelahnya Halwa berhenti kemudian Halwa menunduk sambil tersenyum bahagia tanpa dia meilirik wajah Trisna, karena dia tahu setelah ini akan banyak waktu untuk dia bertatap muka bersama Trisna yang sudah resmi menjadi pendamping hidupnya. Kemudian akan nikahpun akan segera dilaksanakan dan Trisna sangat terlihat siap.. dari kejauhan Sutan memandang mereka berdua , memandang sahabatnya yang terlihat sangat bahagia sampai-sampai diapun terlihat berkaca-kaca melihat kebahagiaan sahabatnya. Mamanya Sutan juga hadir menemani anaknya menghadiri acara itu. Mamanya Halwa meneteskan air mata dengan pandangan terus tertuju kepada anaknya. Begitupun dengan mamanya Trisna yang sangat merasa bahagia dan juga merasakan sedih karena mamanya Trisna memikirkan kondisi ayahnya Trisna. Tetapi, Alhamdulillah sekarang ayahnya Trisna masih diberi kesempatan menghadiri dan melihat pernikahan anaknya dan dia sudah sangat pasrah jikalau nanti setelah dia selesai menikahkan anaknya dia harus pergi meninggalkan semuanya. Dua keluarga kini sedang dilanda kebahagiaan. Dan sekarang sudah waktunya pengucapan akad nikah dimulai.
            bismillahhirrohmaanirrohim…, sebelum kita mulai, saya mau Tanya dulu sama mempelai prianya apakah sudah siap atau belum..???” Tanya pak penghulu sambil nada sedikit bercanda.
            bismillahhirrohmaanirrohim, insya Allah saya sudah siap pak” jawab Trisna dengan lantang.
            Alhamdulillah, baiklah kalau begitu kita mulai saja sekarang” ucap pak penghulu sambil meraih tangannya Trisna kemudia mereka berpegangan tangan seperti layaknya orang lain ketika melaksanakan akad.
            bismillahhirrohmaanirrohim, saya nikahkan dan kawinkan Trisna Sukardi bin Kardi dengan Halwa Syauqina Arrohman binti Ali Arrohman dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai” ucap pak penghulu mengucapkan walimatunnikah.
            “saya terima nikah dan kawinnya Halwa Syauqina Arrohman binti Kardi dengan maskawin seperangkat alat sholat tunai” jawab Trisna dengan lantang dan lancar.
            “bagaimana saksi..?? syah..???” ketika akad sudah terucap pak penghulu pun kembali bertanya kepada saksi untuk menentukan syah atau tidaknya.
            bismillahhirrohmaanirrohim, syah…” jawab saksi dengan lantang dan tersenyum.
            Alhamdulillah…” serentak ucapan syukur terucap dari semua orang yang menghadiri acara pernikahan Halwa dan Trisna. Alhamdulillah semuanya telah dilaksanakan dengan lancar dengan segala kemudahan. Kemudian Halwa langsung mencium tangan suaminya dan begitupun Trisna dengan senang hati mencium kembali keningnya Halwa didepan semua orang yang saat itu hadir. Kebahagiaan pun semakin tercipta. “barakallohufii umriik” ucapan selamat dan do’a dari penghulu kepda mereka berdua. Kemudian setelah semuanya selesai akhirnya acara akad nikah diakhiri dengan do’a tutup yang dilantunkan oleh pengurus pondok. Lalu semuanya bubar dan langsung dipersilahkan untuk menikmati hidangan sederhana yang telah disediakan.
            Halwa bersama mama dan ayahnya juga Trisna bersama mama dan ayahnya berkumpul disuatu ruangan yang sengaja telah dipersiapkan untuk mereka berkumpul setelah acara akad selesai. Ditambah dengan kehadirannya Sutan sang sahabat yang takan pernah kehilangan momen terindah saat itu. Mereka berkumpul dan kemudian saling mengucapkan selamat kepada kedua anak tercintanya. Begitupun dengan Sutan yang juga ikut hadir dan berkumpul dengan mereka , Sutan sudah bagaikan bagian dari kedua keluarga itu sehingga disaat ada momen apapun yang khusus apalagi umum Sutan selalu ada dan terlihat hadir.
            “Trisna, mulai sekarang ayah serahkan Halwa kepadamu seutuhnya. Ayah titipkan sama kamu, tolong jaga dia, sayangi dia, kasihi dia, lindungi dia, bimbing dia ke jalan yang benar” ayahnya Halwa halwa berucap sambil memegang pundaknya Trisna yang sedang bergandengan tangan dengan Halwa.
            “iya om, insya Allah saya akan melaksanakan semua yang om minta yang kalian semua minta, karena mulai sekarang Halwa sudah menjadi tanggung jawab saya” jawab Trisna sambil tersenyum melirik kewajah Halwa.
            “Trisna, ayah juga menitipkan Halwa sama seperti apa yang ayah Halwa katakan. Kamu harus bisa jadi kebanggaan kami semua nak. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab terhadap istrimu. Jangan coba-coba membuatnya bersedih’ sambung ayahnya Trisna.
            “siap yah, aku pasti bertanggung jawab dan akan melaksanakan semua amanat” jawab Trisna kembali.
            “Halwa tidak menyangka bahwa kita akan menjadi sebuah keluarga, sebenarnya jika ayah dan mama semua ingin tahu, bahwa kami sebelumnya memang sudah menjalin hubungan, kemudian hubungan kami dulu sedikit terkena musibah yang sekarang menjadi anugerah. Musibah yang menimpa hubungan kami dulu adalah adanya perjodohan ini, dulu ketika kami pacaran beberapa bulan yang lalu setelah ada kabar bahwa Trisna harus segera menikah dan waktu itu hubungan kita sedang baik-baik saja tetapi dengan tiba-tiba dan tanpa alasan apapun Trisna malah menjauhi Halwa lalu dia pergi bersama wanita lain dengan tujuan yang waktu itu menurut halwa dan Sutan bahwa dia jahat dan pengkhianat. Tetapi setelah kami tahu alasan yang sebenarnya mengapa Trisna pergi bersama wanita lain dan meninggalkanku karena dia justru sangat mencintai Halwa dan menyayangi Halwa dengan benar-benar. Sehingga dia lebih baik mengorbankan perasaannya dan mengorbankan cita-citanya untuk menunggu Halwa lulus kuliah lalu menikah. Tetapi takdir berkata lain, dan Allahpun memudahkan apa yang menjadi cita-cita dan selalu dalam do’a kami. Ternyata dengan mudahnya Allah mempertemukan kami kembali dan menyatukan kami yang justru tidak kami sangka-sangka akan seperti ini, subhanalloh sungguh scenario Allah luar biasa. Dulu ketika kami mengetahui bahwa kami masing-masing akan dijodohkan dengan pilihan orangtua kami masing-masing , Trisna sempat mengajakku kembali untuk bersatu dan memeperbaiki semuanya dan dengan serius Trisna mengajak Halwa untuk menikah, tetapi saat itu Halwa menolak karena Halwa akan menyetujui perjodohan yang mama dan ayah tawarkan. Dan pada saat itu juga sebenarnya Halwa  juga tidak tega dan tidak mau sebenarnya jika harus melihat Trisna bersama wanita lain dan tidak mau kalau Halwa harus menikah dengan laki-laki lain, tetapi waktu itu juga kami berdua pasrah dan tawakal dengan semua yang akan terjadi. Dan buktinya kesabaran kami berbuah kebahagiaan. Alhamdulillah” ucap Halwa panjang lebar tentang kisahnya dulu sebeum menikah bersama Trisna.
            “Ekhem-ekhemmm…..” kemudian tiba-tiba Sutan pura-pura batuk dan tersenyum becanda bersama.
            “hehe…” Trisna tersenyum sambil mendekap Halwa. “iya begitulah lika-liku hubungan kita ma, untungnya saat itu ada Sutan yang selalu setia melindungi Halwa ketika aku jauh dari dia” hehe… Trisna melempar sedikit senyuman.
            subhanalloh, kalian ternyata nakal yah, bukannya kuliah tapi malah pacaran dibelakang pengawasan kita ya yah” ucap canda mamanya Halwa sambil mengelus kepala Halwa.
            “pokonya jadikan semua yang telah lalu sebagai cerminan hidup kita sekarang dan kedepannya. Ambil dan tingkatkan semua hal positive nya, tapi tinggalkan dan lupakan semua hal negativenya yang pernah terjadi diantara kalian dulu. Dan ayah juga mau berpesan buat semua yang ada disini jika suatu saat nanti saya benar-benar pergi saya ingin menitipkan sebuah anugerah terindah dari yang maha kuasa untuk saya yaitu istri saya tercinta, saya titipkan istri saya satu-satunya kepada kalian jika nanti saya sudah tidak bisa lagi berada disampingnya dan melindunginya. Temani dia disaat dia butuh teman, sayangi dia seperti kalian menyayangiku dan aku menyayangi kalian, ajaklah dia ketika ia sediri dan bantulah dia ketika dia membutuhkan, lindungi dia istri saya tercinta jika dia sedang membutuhkan perlindungan. Saya hanya punya kalian semua yang ada disini dan oleh karena itulah saya menitipkannnya pada kalian semua yang berada disini. Jangan sampai dia meneteskan air mata kesedihan yah, dan antar dia kerumah terakhir saya nanti jika dia merindukan saya” ucap ayahnya Trisna yang sangat membuat suasana menjadi kembali penuh dengan air mata, terutama mamanya Trisna yang menangis sampai terengah-engah didalam pelukan dan dekapan suaminya. Kemudian Trisnapun mendekati ayahnya dan kemudian memeluknya erat sambil menangis dan hebatnya ketika semua yang ada disana hampir menangis semua , ayahnya Trisna sangat tegar sekali, dia justru malah memberi senyuman dan semangat pada semua yang ada disana dan ayahnya Trisna sangat hebat ketika terus mencoba tersenyum dan tidak menampakan kesedihannya yang sangat menyakitkan. Kemudian “ saya juga berpesan untuk semuanya, jangan pernah sia-siakan waktu kalian. Gunakanlah waktu kalian sebaik mungkin dan teruslah berusaha untuk meraih ridho Allah, jangan berhenti bersyukur dan jauhilah keluhan dan putus asa. Perbanyaklah ibadah,berdo’a, berusaha , dan bersyukur, jangan pernah bersedih dan menyesali apa yang telah terjadi sedang terjadi dan yang akan terjadi dalam hidup kalian, jangan sia-siakan apa yang kalian miliki karena Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kalian semua” sambung ayahnya Trisna sambil terus mengelus kepala istrinya yang terus menangis dalam dekapannya. Ucapan ayahnya Trisna cukup menyayat hati orang-orang yang menyayanginya terutama bagi istrinya dan Trisna.
            “ayaaahhh… berhenti berbicara seperti itu. Ayah akan hidup lebih lama lagi bersama kami dengan penuh kebahagiaan dan Trisna yakin bahwa ayah akan segera sembuh. Ayah jangan berbicara seperti itu lagi, kami semua menyayangi ayah” ucap Trisna sambil terisak dengan posisi menunduk ke arah kaki ayahnya tetapi ayahnya langsung merangkulnya dan memeluknya.
            “Trisnaa..masya Allah” ucap Halwa memanggil Trisna sambil mencoba merangkulnya dari tangisnya.
            “ma, jika suatu saat nanti ayah sudah tidak bisa lagi berada disampingmu menemanimu dan melindungimu, mama tidak boleh bersedih ya, ayah akan selalu ada buat mama walau mungkin nanti posisinya berbeda, mama harus buktiin cinta mama kepada ayah dengan terus berdo’a , mama gak boleh lemah, mama harus kuat, ayah yakin mama bisa tanpa ayah, jika nanti mama merindukan ayah, mama tinggal temui rumah terakhir ayah, mama do’akan yang terbaik buat semuanya dan mama do’akan ayah agar ayah bisa berada ditempat paling mulia disisi Allah. Mama jangan merasa kesepian yah, karena masih banyak orang-orang disekitar mama seperti mereka yang juga lebih menyayangi mama. Masih ada Trisna yang akan menggantikan ayah buat mama. I love you istriku tercinta” ucap ayahnya Trisna sambil mengelus dan sesekali mengecup kening mamanya didepan kedua orangtua Halwa dan didepan Trisna juga Halwa. Mamanya Trisna tidak berkata apapun saat itu, dia hanya dapat mengeluarkan air mata.
            Hidup dan mati setiap manusia telah ditentukan oleh Allah, dan tiada yang tahu kapan dia akan dihidupkan dan kapan dia akan kembali dipanggil. Hidup dan mati merupakan sebuah misteri, kematian itu pasti bagi setiap makhluk Allah yang bernyawa, tidak ada yang dapat menghindar dari kematian jika sudah waktunya, tak ada juga yang dapat meminta kematian jika memang belum waktunya. Kita hanya tinggal mempersiapkan amal sholeh sebanyak mungkin agar jika suatu nanti kita sudah waktunya dipanggil kapanpun itu maka kita sudah memiliki bekal. Isilah setiap waktu luangmu dengan berbuat, karena orang-orang yang banyak menganggur dalam hidup ini biasanya akan menjadi penebar isu dan desas desus yang tak bermanfaat. Itu karena akal dan pikiran mereka selalu melayang dayang tak tahu arah. Dan saat yang paling berbahaya bagi akal adalah manakala pemiliknya menganggur dan tak berbuat apa-apa. Orang seperti itu, ibarat mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi tanpa sopir dan akan mudah oleng ke kanan dan ke kiri. Bila pada suatu hari kita mendapatkan diri kita menganggur tanpa kegiatan , maka bersiaplah untuk bersedih, gundah dan cemas. Sebab dalam keadaan kosong itulah pikiran kita akan menerawang ke mana-mana. Mulai dari mengingat kegelapan masa lalu, menyesali kesialan masa kini, hingga mencemaskan kelamnya masa depan yang belum tentu akan kita alami. Dan itu membuat akal dan pikiran kita tak terkendali dan mudah lepas control. Maka dari itu, marilah kita mengerjakan amalan-amalan yang bermanfaat itu lebih baik daripada terlarut dalam kekosongan yang membinasakan. Singkatnya, membiarkan diri dalam kekosongan itu sama halnya dengan bunuh diri dan merusak tubuh dengan narkoba. Waktu kosong itu tak ubahnya dengan siksaan halus ala penjara Cina. Meletakkan si narapidana dibawah pipa air yang hanya dapat meneteskan air satu tetes setiap menit selama bertahun-tahun. Dan dalam masa penantian panjang itulah biasanya seorang narapidana akan menjadi stress dan gila. Berhenti dari kesibukan itu adalah kelengahan dan waktu kosong adalah pencuri yang culas. Adapun akal kita tak lain merupakan mangsa empuk yang siap dicabik-cabik oleh ganasnya terkaman kedua hal tadi, kelengahan dan si pencuri. Karena itu bangkitlah sekarang juga, kerjakan sholat, baca buku,  baca al-qur’an, mengkaji, bertasbih,  menulis, merapikan meja kerja, merapikan kamar, atau berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan oranglain untuk mengusir kekosogan itu. Bunuhlah setiap waktu kosong dengan pisau kesibukan, dengan cara itu doctor-doctor di dunia akan berani menjamin bahwa kita telah mencapai 50% dari kebahagiaan. Lihatlah para petani, nelayan dan para kuli bangunan . mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti burung di alam bebas. Mereka tidak seperti kita yang tidur diatas ranjang empuk tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan.
            “Tiada suatu bencana yang menimpa dibumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan dia telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadid : 22).
            Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan. “katakanlah: sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami” (QS. At-Taubah: 51. Apa yang membuat kita benar , maka tak akan membuat kita salah, dan sebaliknya apa yang membuat kita salah maka tidak akan membuat kita benar. Jika keyakinan  tersebut tertanam kuat pada jiwa kita dan kukuh bersemayam dalam hati kita maka setiap bencana akan menjadi karunia, setiap ujian menjadi anugerah dan setiap peristiwa menjadi penghargaan dan pahala. Karena dalam suatu hadits juga dikatakan “barangsiapa yang oleh Allah dikehendaki menjadi baik maka ia akan diuji oleh-Nya”. Oleh karena itu, jangan pernah merasa gundah dan bersedih dikarenakan suatu penyakit atau kematian yang semakin dekat. Betapapun sesungguhnya sang maha pencipta telah menentukan segala sesuatunya dan takdir telah bicara. Usaha dan upaya dapat sedemikian rupa, tetapi hak untuk menentukan tetap mutlak milik Allah . pahala telah tercapai dan dosa telah terhapus. Maka berbahagialah orang-orang yang tertimpa musibah atas kesabaran dan kerelaan mereka terhadap yang maha mengambil, maha pemberi, maha mengekang lagi maha lapang. Syaraf-syaraf kita akan tetap tegang, kegundahan jiwa kita tak akan reda dan kecemasan di dada kita takan pernah sirna sebelum kita benar-benar beriman terhadap qadha dan qadhar. Tinta pena telah mengering bersamaan dengan semua hal yang akan kita temui. Maka jangan biarkan diri kita untuk larut dalam kesedihan, jangan mengira diri kita sanggup melakukan segala upaya untuk menahan tembok yang akan runtuh , membendung air yang akan meluap, menahan angin agar tak bertiup atau memelihara kaca agar tak pecah. Karena apa yang telah digariskan akan terjadi, setiap ketentuan akan berjalan dan semua keputusan akan terlaksana. Kita harus menyerahkan semua hal kepada takdir Allah agar tidak ditindas oleh bala tentara kebencian, penyesalan dan kebinasaan. Dan percayalah dengan kebenaran qadha sebelum kita dilanda banjir penyesalan, dengan begitu jiwa kita akan tetap tenang menjalani segala daya upaya dan cara yang memang harus ditempuh. Dan bila kemudian terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan maka itupun merupakan bagian dari ketentuan yang memang harus terjadi. Jangan pula pernah berandai “seandainya aku melakukan seperti ini, niscaya akan begini dan begini jadinya” tapi katakanlah “Allah telah menakdirkan, dan apa yang dia kehendaki akan dia lakukan”.
           



Bahagiaku Tercipta, Sedih Menimpa
            Alhamdulillah, ketika semua telah terwujud akhirnya Halwa dan Trisna sekarang hidup bahagia bersama menjalani hidup. Setelah kebahagiaan mulai datang menghampiri mereka tetapi kesedihan juga telah menunggu mereka. Kini ayahnya Trisna mulai kembali merasakan penyakit yang kambuh kembali. Hari ini adalah hari pertma ayahnya Trisna dirawat kembali di rumah sakit dan kali ini penyakit ayahnya Trisna kambuh tidak seperti biasanya. Sekarang Trisna, mamanya dan juga ditemani dengan kehadirannya Halwa yang sedang menunggu ayahnya didepan ruangan UGD. Mamanya Trisna terlihat sangat khawatir tidak seperti ketika dulu mereka bertemu sebelum menikah di rumah sakit itu. Mamanya kini terlihat mondar mandir sambil tak henti-hentinya melafalkan do’a untuk kelancaran dan kesembuhan suaminya.
            “mama, mama jangan terlau khawatir. Mama mendingan tenang dan terus berdo’a agar ayah baik-baik aja dan dilancarkan segala sesuatunya. Mama mendingan istirahat aja dulu, ntar mama sakit. Sekalian ini makanan bawa Halwa dimakan ya ma soalnya kan mama belum makan dari tadi” ucap halwa kepada mamanya Trisna yang terlihat sangat tidak tenang dan Halwapun merangkul mama untuk duduk sejenak bersamanya.
            “iya ma, mama duduk aja. Kita tunggu hasilnya nanti ketika doctor sudah selesai, kita pasrahkan saja semuanya pada yang maha kuasa ma.’ Sambung Trisna sambil menghampiri mama yang sedang berdiri didepan pintu ruang UGD.
            Tanpa ada jawaban sepatah katapun dari mamanya, mamanya langsung menuruti apa yang Halwa dan Trisna katakana. Mamanya kemudian duduk dipinggir hakwa dan bersandar kepada pundaknya halwa sambil menangis mencucurkan air mata tanpa suara. Sambil terus melafalkan dzikir dan memegang tasbih mamanya Trisna terus menangis.
            “mama sayaank, please donk ma Trisna mohon. Trisna sayang mama dan Trisna masih membutuhkan mama. Sudah cukup sekarang ayah yang sedang merasakan sakit, tapi tolong mama jangan sakit dan mama harus kuat mama jangan terus seperti ini. Trisna tidak mau kalau Trisna harus melihat mama seperti ini terus. Trisna sayang mama” Trisna memeluk dan mencium mamanya yang sedang dalam sandaran istrinya.
            Tiba-tiba dokter yang menangani ayahnya Trisna keluar dari ruangan UGD tempat dan kemudian memberi kabar bahwa penyakit ayahnya sudah menyebar ke seluruh tubuh dan hasil akhirnya akan diberikan besok, sekarang ayahnya sudah tak sadarkan diri sama sekali dan dokterpun memberi pesan agar mereka semua tetap tegar dan tawakal dengan apa yang akan terjadi besok. Karena dokter telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan dan menyelamatkan ayahnya, tetapi Allah berkata lain. Tiada yang abadi di dunia ini, semuanya milik Allah.  Mereka semua malam ini memilih untuk menginap dirumah sakit bersama-sama menemani ayah.
            Esok haripun telah datang, dan sekarang tinggal menunggu kabar dari dokter mengenai kondisi ayahnya Trisna. Lalu tiba-tiba salah satu doctor yang baru keluar dari ruangan tempat ayah dirawat mengatakan bahwa penyakit ayah semakin parah dan sudah tak dapat disembuhkan. Pihak kedokteran di rumah sakit tersebut sudah menyatakan tidak sanggup untuk menangani penyakit ayahnya dan para doctor yang telah menangani pnyakit ayahnya oun menyarankan untuk segera menghabiskan waktu bersama keluarga dan lebih baik dibawa pulang ke rumah karena situasi dan kondisinya sudah tidak memungkinkan meskipun sebenarnya kita tidak boleh putus asa dan tetap yakin bahwa segala sesuatu itu ada dalam kendalinya yang maha kuasa.  Tetapi, apa boleh buat jika memang semuanya sudah seperti itu maka lebih baik kita pasrahkan saja semuanya kepada Allah. Dan pihak keluarga pun menyetujui untuk agar ayahnya kembali ke rumah dan menikmati setiap harinya yang masih tersisa dengan keluarga bersama-sama.
            “terimakasih doctor atas segalanya yang telah doctor lakukan da perjuangkan demi kesembuhan ayah saya dan saya juga ucapkan banyak-banyak terimakasih karena doctor telah dan selalu memberikan yang terbaik kepada ayah saya selama ayah saya dirawat disini” ucap terimakasih Trisna kepada semua doctor yang ada di ruangan ayah yang telah membantunya selama ini. Trisna sudah pasrah dengan apapun yang terjadi , dia siap dengan semua resikonya dan bahkan dengan kepergian ayahnya pun dia sudah siap dan mengikhlaskan . tetapi walau begitu, Trisna tak pernah henti-hentinya untuk terus berdo’a untuk agar ayahnya disembuhka n kembali dari penyakitnya yang akan mematikannya. Dibalik kesedihannya , Trisna juga maish bersyukur atas segala sesuatu yang sekarang sedang terjadi padanya dan keluarganya karena mereka masih dapat merasakan kebersamaan bersama ayahnya dalam waktu yang mungkin sangat singkat.
            “sama-sama nak, itu sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab kami semua doctor yang ada disini, jangan pernah menyerah, jangan berputus asa dan jangan pernah berhenti berdo’a meminta dan melakukan yang terbaik kepada Allah. Nothing impossible in the world, siapa tahu setelah kejadian ini akan datang keajaiban yang tak disangka-sangka, jangan berhenti bersyukur kepada Allah. Allah selalu memberi kemudahan untuk semua makhluknya dan Allah tidak pernah mempersulit segala sesuatunya” pesan dan semangat dari salah satu doctor kepada Trisna dan juga ibunya. “ masih banyak orang lain yang hidup tidak seberuntung kalian, masih banyak yang hidupnya jauh lebih buruk dari kalian semua. Dan kita sudah termasuk orang-orang yang sangat beruntung walau masih tertimpa masalah dan ujian yang seperti ini. Ini ujian buat kita semua agar terus bersabar dan bersyukur dengan hidup ini. Semakin tinggi derajat keimanan kita semakin berat pula ujian kita” ucap salah satu doctor menyemangati.
            “terimakasih doctor” jawab trisna singkat. Kemudian, mereka semua bergegas siap-siap untuk pulang ke rumah dan membawa ayah kembali ke rumah menjalani sisa hidup ayah d rumah.
           
















Kebahagiaan di Sisa Akhir Hidup Ayah
            Akhirnya sekarang ayah telah kembali ke rumah dan semenjak kepulangan ayah dari rumah sakit suasana rumahnya Trisna terasa selalu ramai dengan kunjungan-kunjungan yang menjenguk ayahnya. Trisna dan Halwa memutuskan untuk tidak membangun rumah sendiri, tetapi mereka memutuskan untuk tinggal bersama di rumah orangtuanya Trisna dikarenakan permintaan ayahnya Trisna juga agar mereka dapat membantu mamanya Trisna dan juga membantu menjaga ayahnya Trisna sebelum yang maha kuasa memanggilnya.
            Kondisi ayah setelah pulang dari rumah sakit terlihat segar dan berbeda dari ketika ayah sedang berada di rumah sakit. Ayahnya Trisna juga terlihat bahagia karena mungkin hari-harinya sekarang selalu ditemani oleh orang-orang yang dia sayangi dan menyayanginya. Sekarang hari kedua ayahnya berada di rumah dan kondisi badan ayahnya terlihat semakin membaik dan terlihat lebih segar. Meskipun mereka tidak apa yang terjadi di dalam tubuh ayah dan mereka berharap ada keajaiban yang datang kepada mereka untuk kesembuhan ayahnya dan tetap berhusnudhon kepada yang maha kuasa.
            assalamu’alaikum..??” terdengar suara yang mengucapkan salam didepan pintu rumahnya Trisna.
            wa’alaikumsallam” jawab Halwa sambil membukakan pintu yang sekarang menjadi rumahnya juga.  Dilihatnya ternyata yang datang saat itu adalah Sutan yang datang bersama mamanya.
            “Hey non, apa kabar??” ucap sutan sambil tersenyum.
            Allahuakbar, kirain siapa. Kenapa gak bilang-bilang mau kesini. Alhamdulillah baik Tan. Eeehhh ada mama juga. Apa kabar ma…??? Ayo masuk dulu”  Halwa membukakan pintunya lebar dan kemudian bersalaman kepada mamanya Sutan dan lalu menggandeng mamanya Sutan untuk masuk kedalam rumahnya.
            Alhamdulillah nak tante baik-baik aja. Kamu juga gimana kabarnya? Udah lama tidak main ke rumah” Tanya mamanya Sutan sambil duduk dikursi yang telah dipersilahkan Halwa.
            Alhamdulillah Halwa juga baik juga ma, iya maaf ma soalnya mama tau sendiri sekarang Halwa sudah memiliki kesibukan wajib, hehe” jawab Halwa sambil tertawa kecil. “eh iya ma, bentar aku panggilin dulu Trisna dan mama” pinta Halwa kepada mamanya Sutan.
            “oh iya silahkan nak” jawab mamanya Sutan.
            Ketika Halwa sedang memanggilkan suaminya dan mertuanya, mamanya Sutan berbisik kepada Sutan “kapan kamu mau nyusul Halwa..??” hehe… mamanya tersenyum sambil menggodanya. “biar nanti kaya Trisna, ada yang bantu-bantu mamanya dan setiap hari rumahnya menjadi ramai” sambung mamanya kepada Sutan.
            “ah mama, nanti aja kalau udah waktunya juga pasti aku nikah ko” jawab Suta.
            Kemudian Trisna dan mamanya menghampiri Sutan dan juga mamanya. Halwa datangnya belakangan karena harus menyiapkan dan membawakan minuman untuk tamunya yang special.
            assalamu’alaikum, eeehhhh ada tamu ternyata. Maaf mbak tadi saya dikamar menemani suami saya dan tidak tahu kalau sedang ada tamu, barusan juga saya dikasih tahu sama Halwa” ucap mamanya Trisna sambil bersalaman bersama mamanya Sutan.
            wa’alaikumsallam, oh iya mbak. Tidak apa-apa ko justru saya yang harusnya minta maaf karena mungkin kehadiran saya mengganggu kegiatan mbak, saya kesini datang hanya untuk menengok keadaan ayahnya Trisna sekaligus silaturahmi juga, tapi saya malah tidak sempat membawa apa-apa” ucap mamanya Trisna sambil tersenyum. Kemudian Sutan juga bersalaman kepada mamanya Trisna.
            “oh tidak apa-apa mbak, aduuh justru saya yang berterimakasih karena mbak udah jauh-jauh datang kesini menyempatkan waktu untuk menengok suami saya. Ah mbak kaya ke siapa aja. Kehadirannya mbak kesini aja saya juga sudah banyak ucapkan terimakasih. Sutan juga kemana aja gak pernah main kesini, padahal disini sibuk lumayan lhooo buat bantu-bantu,hehee” ucap mamanya Trisna sambil becandain Sutan.
            “hehe…ah tante bisa aja. Iya saya sebenarnya udah pengen kesini dari kemarin-kemarin juga tapi saya udah ada jadwal kuliah dan kebetulan di kampus juga lagi ada kegiatan jadi saya sibuk, hehe.. biasa anak rajin tante” jawab Sutan sambil tertawa bersama mendengar ucapan candanya Sutan.
            “hmmm, iya deh iya tante percaya kamu rajin,hehe” puji mamanya Trisna kepada Sutan.
            “jadi bagaimana kondisinya ayah Trisna sekarang mbak” Tanya mamanya Sutan kepada mamanya Trisna.
            “ya begitulah mbak, saya sekarang hanya dapat menyerahkan semuanya kepada yang maha kuasa dan hanya dapat tawakal. Sekarang kondisi penyakit suami saya semakin memburuk dan sampai-sampai pihak kesehatan yang merawat suami saya di rumah sakit pun mengatakan sudah tidak sanggup dengan penyakit suami saya yang sudah tidak dapat disembuhkan lagi dan atas saran dari salah satu doctor disana juga akhirnya saya dan anak-anak lebih memutuskan untuk merawat suami saya bersama-sama di rumah, biar semuanya Allah yang mengatur” jawab mamanya Trisna dengan jelas.
            “masya Allah, saya ikut bersedih dengan keadaan dan kondisi suami mbak sekarang. Dan yang terpenting kita jangan berhenti berdo’a dan jangan berhenti berharap kepada yang maha kuasa untuk segala sesuatunya. Mbak juga terlalu banyak pikiran, jangan sampai mbak juga lupa dengan keadaan mbak, mbak juga harus tetap memperhatikan keadaan kondisi kesehatan mbak” ucap saran mamanya Sutan sambil memegang tangannya mama Trisna yang duduk disampingnya.
            “iya mbak terimakasih atas semangatnya, insya Allah saya akan membiasakan diri saya untuk tetap tegar dan tetap semangat menjalani takdir hidup saya yang telah ditentukan oleh Allah. Dan saya juga akan merayakan semua kejadian ini dengan terus bersyukur dan terus bersyukur.” Sambung mamanya Trisna sambil menatap mamanya Sutan.
            “iya mbak bagus kalau begitu saya ikut senang mendengar mbak berbicara seperti itu, saya juga wanita yang setidaknya saya juga dapat merasakan sebagian apa yang mbak rasakan saat ini, karena saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang suami yang kita cinta dan kita sayangi yaitu suami kita, hanya mungkin masalahnya yang berbeda. Ah tapi yang terpenting kita harus tetap husnudhon, terus bersabar dan bersyukur untuk mencari kemudahan” ucapan saling menyemangati antara mamanya Trisna dan mamanya Sutan yang juga pernah merasakan kehilangan seorang suami, dan mungkin mamanya Sutan ditinggalkan suaminya bukan karena dipanggil oleh Allah tetapi meninggalkannya dengan situasi yang berbeda.
            “iya mbak, aduuh maaf mbak saya ko jadi menangis dan jadinya saya malah mengingatkan mbak kepada masa lalu mbak dulu” ucap mamanya Trisna sambil tangannya mengusap-usap pipinya yang  basah dengan air mata.
            “ti8dak apa-apa mbak” jawab mamanya Trisna sambil tersenyum dan menggenggam tangannya mama Trisna.
            “jika dilihat dari kondisi badannya, mungkin sekarang suami saya jauh lebih terlihat segar ketika sedang bersama dan terlihat lebih bebas dan raut wajahnya terlihat seperti orang yang sedang mendapat kebahagiaan mbak” ucap mamanya Trisna sambil menatap mamanya Sutan.
            Alhamdulillah kalau begitu, mungkin saja itu pertanda baik dan mungkin sebuah tanda keajaiban dari yang maha kuasa untuk kesembuhan suami mbak. sekarang kita sama-sama berdo’a aja untuk semuanya mbak” sambung kembali mamanya Sutan.
            “iya mbak amiin” ucap mamanya Trisna dan kemudian memeluk tubuh mamanya Sutan. Sutan yang dari tadi hanya diam dan mendengarkan pembicaraan mamanya dengan mama Trisna. Begitupun dengan Trisna , dia juga hanya terdiam sambil memainkan handphonenya yang sedang ada didalam genggamannya.
            Tanpa disadari kemana Halwa yang tadi membuatkan minum untuk tamu-tamunya ? apakah selama itu membuatkan minum untuk 4 orang ? sepertinya tidak, dan kemudian Trisna berjalan menuju dapur untuk menghampiri Halwa. Dan ternyata setelah sampai didapur, dilihatnya Halwa sedang terduduk lesu dikursi makan dan Trisna sangat kaget dan sontak ia mengatakan “astaghfirulloh… Halwa istriku…” ucap Trisna sambil bergegas merangkul Halwa untuk dibawa ke kamarnya. Setibanya mereka di kamar Trisna langsung mngambilkan air putih untuk istrinya. “sayank, kamu kenapa. Ko lemes seperti itu, kamu kecapean yah..?? kita ke doctor yah,?” Tanya Trisna kepada istrinya sambil memegang kepalanya dan memberi minum kepadanya dengan perlahan.
            “aduuh, iya gak tau Tris. Aku juga tiba-tiba lemes aja gak kuat untuk berjalan, malah mual-mual” jawab Halwa sambil bersandar ke bantal. “udah sekarang kamu temui lagi Sutan dan mamanya dan juga temenin mama yang lagi ngobrol, aku gak apa-apa kok ditinggal aja, sekalian tolong anterin minum ke mejanya ya sayaankkkk….” Pinta halwa sambil tersenyum manja menggoda suaminya.
            Trisna tersenyum dan mencium keningnya Halwa “ iya istriku sayank, tapi kalau kamu butuh apa-apa tinggal teriak aja sekeras mugkin yah,hehe” goda Trisna sambil mengelus pipinya Halwa.
            “iya pastii,hehe” Halwa kembali tersenyum.
            Trisna kembali ke ruang tamu sambil membawa minuman yang tadi telah selesai dibuatkan oleh istrinya. Dan kemudian mempersilahkannya untuk dinikmati. Kemudian Sutan pun bertanya “Halwanya kemana Tris?”.
            “Halwa barusan kecapean kayanya, dia lemes banget gak bisa jalan dan barusan makanya aku lama kesini soalnya menggandeng dulu Halwa ke kamar dan sekarang dia sudah istirahat, jadi maaf kalau barusan kalian menunggu minumnya lama,hehe” sambil menyimpan nampan yang masih ditangannya.
            “ya Allah, tapi dia gak apa-apa kan Tris..?” Tanya Sutan kaget.
            “iya tenang aja, dia gak apa-apa ko Tan dia hanya lemes aja dan katanya agak mual-mual gitu” jawab Trisna sambil memandang Sutan.
            Mendengar kata “mual-mual dan lemes” mamanya Trisna dan Sutanpun langsung sontak bersamaan mengatakan “Alhamdulillah”.
            “lhooo.., kok Alhamdulillah sih ?” Trisna  bertanya-tanya.
            “iya Alhamdulillah, nanti kamu tahu sendiri deh dan kamu juga akan mengatakan Alhamdulillah sama seperti kami” ucap mamanya Sutan kepada Trisna. Kedua mama mengatakan Alhamdulillah karena sesuai dengan pengalaman mereka dulu ketika mereka menikah sudah satu bulan dan mereka merasakan mual-mual dan lemes seperti yang Halwa alami sekarang dan itu menandakan bahwa mereka Hamil muda dan kebetulan sekarang sudah genap satu bulan pernikahannya Halwa dan Trisna jadi mereka tidak terlalu cemas.
            “aku masih gak ngerti ma” Tanya  Trisna kembali.
            “iya ih dasar ibu-ibu rempong,hehe” ucap Sutan becanda. “yaudah kita bawa aja Halwa ke doctor Tris, gimana?” ajak Sutan kepada Trisna.
            “iya bener Tan aku juga penasaran” Trisna pun terlihat sangat setuju dengan ajakan Trisna.
            Kedua mama itu hanya tersenyum melihat anak-anaknya mencemaskan Halwa. Kemudian setelah mereka semua berbincang-bincang dan tak terasa waktupun sudah sore, waktunya Sutan dan mamanya pulang. Tiba-tiba ketika mereka sedang berpamitan dan bersiap-siap pulang terdengar suara gelas yang pecah dari arah kamar yang entah itu kamar siapa. Kemudian semua langsung bergegas menghampiri sumber suara. Sutan dan Trisna langsung bersamaan menghampiri kamar Trisna yang kebetulan Halwa sedang tertidur. Kemudian, mamanya Trisna menghampiri kamarnya dia takut terjadi apa-apa dengan suaminya dan ternyata ketika sampai di kamarnya mamanya Trisna melihat pecahan kaca gelas yang berserakan dibawah lantai dan tiba-tiba arah matanya langsung tertuju kepada suaminya yang berada dibawah lantai. “astaghfirulloooohh ya Allah ayah…” mamanya Trisna setengah berteriak memanggil suaminya dan kemudian mamanya keluar menuju kamar Trisna sambil berteriak memanggil nama Trisna dan menangis.
            Trisnadan Sutan terlihat tenang karena ternyata gelas yang berbunyi bukan dari kamarnya dan terlihat Halwa masih sedang tidur istirahat diatas kasur. Dan tiba-tiba Trisna mendengar suara mamanya yang berteriak-teriak memanngilnya lalu “mamaaaa…” dengan setengah lari Trisna pun menghampiri mama.
            “Trisna ayaahh,,,” ucap mama terbata-bata.
            “ada apa ma, ayah kenapa ???” Tanya Trisna sambil memgang mamanya dan kemudian dia langsung berlari menuju kamar ayahnya. Kemudian didapatinya ayahnya yang sedang tergeletak diatas lantai dengan tidak sadarkan diri dan melihat pcahan kaca gelas yang juga berserakan. “Allohuakbar…” Trisna langsung merangkul ayanya dan kemudian meletakkan ayahnya diatas kasur. Sutan dan mamanya bingung harus berbuat apa dan mereka mengitu arah Trisna dan mamanya yang berlari menuju kamar. Kemudian Sutan membantu Trisna merangkul ayahnya dan merapikan posisi badan ayahnya Trisna kemudian mamanya Sutan membantu mencoba menenangkan mamanya Trisna. Kemudian semua yang sedang ada di rumahnya menajdi terbawa sibuk. Kemudian Sutan menelpon ambulanceketika Trisna sedang sibuk mengurus ayahnya. Mamanya Trisna hanya dapat menangis saat kejadian ditemani mamanya Sutan. Halwa juga terbangun karena suasana rumah terasa ramai.
            astaghfirulloh ada apa ini..??” ko ramai sekali” ucap halwa sendiri di dalam kamar. Halwa sudah terlihat segar kembali setelah bangun dari istirahatnya dan lalu Halwa meminum air yang ada di meja kamarnya kemudian berjalan keluar menuju pintu . halwa kaget ketika begitu ia keluar dan dia langsung melihat petugas rumah sakit yang sedang menggotong ayahnya Trisna. “ ya Allah ayaaah..” hawa berlari menuju keramaian.
            “Halwa sayank, kamu sudah sadar??? Kamu tidak apa-apa kan..?? sekarang kamu tidak usah ikut capek kamu istirahat aja di rumah bersama mama dan juga mamanya Sutan. biar sekarang aku mengantar dulu ayah ke rumah sakit bersama Sutan. dan nanti kalian semua aku jemput.” Ucap lebar Trisna kepada istrinya.
            “oh iya Tris kamu ati-ati di jalan sayank” Halwa mengangguk dan dia menuruti apa yang suaminya perintahkan . kemudian dia menghampiri mamanya yang sedang berada di dalam kamar menangis dan bersandar kepada mamanya Sutan.
            “mama..” Halwa langsung memanggil mamanya.
            “Halwa kamu sudah bangun” ucap mamanya Sutan.
            “iya ma, maaf tadi aku malah tidur soalnya tadi gak bisa jalan lemes banget gak tahu kenapa dan malah mual-mual ma. Maaf ya kalo mama datang kesini malah direpotin. Dan terimakasih juga untung ada mama, jadinya ada teman buat mama” ucap Halwa sambil merapikan kerudungnya mama.
            “iya tidak apa-apa sayank, kamu istirahat aja biar mama yang menemani mbaknya. Tar kamu sakit dan kenpa-kenapa lagi” ucap mamanya Sutan sambil menyuruh Halwa kembali beristirahat.
            “tidak ma, aku sudah segar sekarang. Mama nginep aja disini yah” ajak Halwa kepada mamanya Sutan.
            “tanpa dimintapun justru mama mau minta izin buat nginep disini dan menemani mamanya Trisna, boleh?” ujar mamanya Trisna.
            “iya mama, dengan sangat senang hati. Justru Halwa malah seneng biar ada yang menemani mama juga” jawab Halwa senang.
            Mamanya Sutan akhirnya menginap dan menunggu kedatangan Trisna dan juga anaknya yang masih belum memberi kabar apapun. Mamanya Trisna, Sutan dan juga Halwa menunaikan sholat maghrib berjamaah. Karena kebetulan sekarang sudah adzan maghrib. Mereka berdo’a bersama dan membacakan surat yassin untuk ayahnya Trisna dan semuanya. Mamanya Trisna terus mencucurkan air mata ketika sedang sholat dan berdo’a. kemudian setelah mereka selesai berdo’a bersama terdengar suara handphone berbunyi dan dilihatnya ternyata handphonenya Halwa berbunyi. Kemudian halwa terbangun dari duduk nya dan lalau mengambil handphonenya yang berbunyi kencang.
            “haloooo…assalamu’alaikum?” ucap Halwa.
            wa’alaikumsallam, Halwa maaf ini aku Sutan . aku disuruh Trisna menelphone mu dan beritahu bahwa sekarang kondisi ayahnya semakin kritis. Dan dia menyuruhmu untuk bersiap-siap tapi dengan tenang lalu ajak mamanya dan juga mamaku bersama kesini ke rumah sakit yang dulu. Karena sekarang situasinya gawat. Kita banyak-banyak berdo’a saja dan serahkan semuanya pada yang diatas. Kamu harus tenang yah” ucap panjang lebar Sutan kepada Halwa yang sedang menelphone.
            Masya Allah, oh iya Tan. Kalau begitu aku sekarang siap-siap kesana yah” jawab Halwa dan langsung mematikan telphonenya tanpa mengucapkan salam kepada Sutan.
            Kemudian Halwa langsung membereskan barang-barang apa yang pas untuk dibawa dan yang dibutuhkan. Kemudian dia memberitahu mamanya dengan tenang untuk segera ke rumah sakit.
            Satu jam telah berlalu, merekapun telah sampai di rumah sakit yang dituju dan begitu mereka sampai mereka langsung melihat Sutan yang terlihat sedang menunggu kami didepan pintu utama rumah sakit.
            “hey, disini..” ucap trisna setengah berteriak sambil melambaikan tangannya kea rah mereka.
            “oh Alhamdulillah itu Sutan ma, ayo kita segera kesana” ajak halwa sambil menunggu mama mertuanya berjalan dengan lemas dan digandeng oleh mamanya Sutan. “ mama harus tenang yah, mama harus yakin ayah tidak apa-apa. Mama jangan berhenti berdo’a” ucap Halwa sambil membantu menggandeng mamanya. Mamanya hanya terdiam dan terus menangis tanpa mengucapkan apapun. Setelah sampai didepan pintu utama, Sutan membantu membawakan barang-barang bawaan Halwa dari rumahnya kemudian Halwa bergantian membantu memboyong maman mertanya.
            Mereka telah sampai di depan ruangan tempat ayahnya dirawat dan disana sudah ada Trisna yang sedang mundar mandir cemas didepan pintu ruangan tempat ayahnya dirawat.
            “Halwa sayank.., Alhamdulillah kalian sudah sampai” Trisna menghampirinya dan mencium keningnya Halwa dan Halwapun mencium tangan suaminya. “ya Allah, mama..” sambil merangkul mamanya lalu mendudukan mamanya ditempat duduk yang telah tersedia disana.
            “Tris, bagaimana keadaan ayah sekarang?” Tanya mamanya Trisna dengan nada terbata-bata.
            “ayaaahhhhh…, ayaaaahhhhhhh…” jawab Trisna dengan nada ragu-ragu untuk mengatakannya kepada mamanya.
            “ayah kenapa nak” sambung Tanya mamanya.
            Kemudian, belum sempat Trisna menjawab tiba-tiba ada salah satu doctor yang keluar dari ruangan ayahnya dirawat dan memberikan kabar bahwa ayahnya sudah tak bisa diselamatkan. Seketika setelah mereka yang ada disana mendengar bahwa ayahnya sudah dipanggil oleh yang maha kuasa.
            Semua yang ada disana langsung mengucapkan Innalillahi dan kemudian Mamanya Trisna langsung berlari masuk ruangan sambil menangis histeris. “ayaaaaaahhhhhhhh….” Teriak mamanya Trisna sambil memeluk suaminya yang sudah tak bernyawa. “ayaaaahhhhhhh…”  mamanya semakin histeris.
            “ayaaahhhhh…” Trisna ikut menangis dan memeluk jasad ayahnya.
            “Trisnaaaaa…., Mamaaaaaaaa sudah kalian istighfar” Halwa memanggil mamanya dan juga memanggil suaminya dan memeluk mereka ditengah isak tangisnya yang tercipta.
            Sutan dan mamanya ikut berduka cita atas kesedihan yang menimpa mereka semua, kemudian mamanya Sutan ikut menangis dalam pelukan anaknya.
            Trisna berdiri , dan langsung memeluk mamanya yang menangis histeris didepan jasad ayahnya. Dia menangis dan memeluk erat mamanya. “mama, sudah ma. Biarkan ayah tenang karena dia telah dipanggil oleh yang maha kuasa dan kita berdo’a semoga ayah ditempatkan ditempat paling mulia disisi Allah” Trisna mencoba menyemangati mamanya sambil menangis.
            Pagi telah tiba, suasana duka semakin tercipta ketika pemakaman ayahnya akan dilaksanakan. Mamanya Trisna teringat akan kata-kata suaminya dulu ketika suaminya baru terbangun dari sakitnya yang mengatakan dan berpesan agar istrinya tidak menangis ketika suatu saat nanti dia meninggal dan ketika acara pemakamannya dia menginginkan agar tidak satu tetespun air mata yang keluar. Dan Alhamdulillah ketika pemakan berlangsung sampai pemakaman berakhir tak ada yang menangis. Mereka semua menahan air mata dan kesdihannya.
            Setelah pemakaman selesai , mamanya Trisna dan juga Trisna menaburkan bunga di pemakaman ayahnya. Trisna memeluk mamanya yang bersandar padanya. Sutan dan mamanya beranjak pulang lebih dulu sedangkan Halwa masih berdiri dan menemani suami dan mamanya yang masih berada di pemakaman.
            Hari ini adalah hari pertama kepergian ayahnya Trisna dan ini adalah hari pertama Trisna dan juga mamanya menjalani hari-hari tanpa seorang ayah. Tetapi Halwa hadir sebagai pelengkap kembali hari-harinya.
            Allah tidak pernah mencabut sesuatu dari kita, kecuali Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Tetapi, itu terjadi jika kita terus bersabar dan tetap ridha dengan segala ketetapan-Nya. Karena dalam suatu Hadits pun dijelaskan bahwa “ barangsiapa Kuambil dua kekasihnya (matanya) tetap bersabar, maka Aku akan mengganti kedua (mata)nya itu dengan surga  maka, kita tak usah terlalu bersedih dengan musibah yang meimpa kita. Sebab yang menentukan semua itu adalah Dzat yang memiliki surga, balasan, pengganti, dan ganjaran yang besar.
            Para waliyullah yang pernah ditimpa musibah, ujian dan cobaan akan mendapatkan penghormatan yang agung di surga Firdaus dan itu tersirat dalam firman-Nya
            selamat atasmu karena kesabaranmu. Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu” QS. Ar-Ra’d: 24.
            Betapapun kita harus selalu melihat dan yakin bahwa dibaik musibah terdapat ganti dan balasan dari Allah yang akan selalu berujung pada kebaikan kita. Dengan begitu kita akan termasuk  “mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” QS. Al-Baqarah: 157. Itu adalah merupakan ucapan selamat bagi orang-orang yang mendapat musibah dan kabar gembira bagi orang-orang yang mendapat bencana.
            Umur dunia ini sangat pendek dan gudang kenikmatannya pun sangat miskin. Adapun akhirat, lebih baik dan kekal. Sehingga, barangsiapa di dunia mendapat musibah maka ia akan mendapat kesenangan di akhirat kelak.  Dan barangsiapa hidup sengsara di dunia ia akan hidup bahagia di akhirat. Lain halnya dengan mereka yang memang lebih mencintai dunia , hanya mendambakan kenikmatan dunia saja, dan lebih senang pada keindahan dunia. Hati mereka akan selalu gundah gulana , cemas tidak mendapatkan kenikmatan dunia dan takut tidak nyaman hidupnya di dunia. Mereka ini hanya menginginkan kenikmatan dunia saja, sehingga mereka selalu memandang musibah sebagai petaka besar yang mematikan. Mereka juga akan memandang setiap cobaan sebagai sesuatu yang gelap gulita selamanya. Ini adalah karena mereka selalu memandang ke arah bawah telapak kakinya dan hanya mengagungkan dunia yang sangat fana dan tak berharga ini.
            Wahai orang-orang yang tertimpa musibah , sesungguhnya tak ada sesuatupun yang hilang dari kalian. Kalian justru beruntung , karena Allah selalu menurunkan sesuatu kepada para hambanya dengan “surat ketetapan” yang disela-sela huruf kalimatnya terdapat suatu kelembutan, empati, pahala, ada balasan dan juga pilihan. Maka dari itu, siapa saja yang tertimpa musibah yang hebat, ia harus mengahdapinya dengan sabar, mata yang jernih dan pola pikir yang panjang. Dengan begitu, ia akan menyaksikan bahwa buah manis dari musibah itu adalah:
            “lalu, diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu. Disebelah dalamnya ada rahmat dan disebelah luarnya dari situ ada siksa” QS. Al-Hadid: 13.
            Dan sesungguhnya apa yang ada disisi Allah itu ebih baik, lebih abadi, lebih utama dan lebih mulia. Maka dari itu RAYAKANLAH DENGAN BERSYUKUR.

Selesai J













RIWAYAT HIDUP
            Lusi Anjani adalah nama asli saya tetapi saya memiliki nama pena yaitu STANJA. Saya masih duduk di kelas XI dengan jurusan IPA di Madrasah Aliyah Al-Istiqomah Tanjungsiang. Alamat saya di Desa Cikawung RT 22 RW 06 ,Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang. Saya tinggal bersama kedua orangtua kandung saya. Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saya memiliki adik laki-laki yang baru berumur 9 tahun dan masih duduk di kelas 2 SD. Saya memiliki hobi yaitu yang pastinya menulis ke buku diary, tetapi sekarang saya menulis diary nya ke Notebook hehe.. Alhamdulillah ada kemajuan. J saya memiliki hobi mencari-cari informasi-informasi tentang pendidikan ataupun tentang tekhnologi juga belajar berbisnis merupakan hobi saya. Sebenarnya masih banyak hobi-hobi saya yang lainnya dan saya memiliki cita-cita ingin menjadi Arsitek, Penulis, Dosen seluruh bahasa di dunia, menjadi wanita karir, dan yang pastinya bercita-cita ingin membahagiakan orangtua dan orang-orang sekitar yang menyayangi dan saya sayangi. Saya ingin sukses dunia dan akhirat. Amiin..














Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH DEELNEMING

TURUT SERTA/ PENYERTAAN (DEELNEMING) MELAKUKAN PERBUATAN YANG DAPAT DIHUKUM MAKALAH Disusun untuk memenuhi salah satu  tugas terstruk...